BUGALIMA - Di tengah hiruk pikuk kemajuan zaman yang seringkali mengaburkan akar budaya dan kearifan lokal, hadir sebuah sosok inspiratif dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang membuktikan bahwa kearifan lokal, jika digali dan dikembangkan dengan sungguh-sungguh, mampu menjadi penopang ketahanan pangan bangsa. Dialah Maria Loretha, yang akrab disapa "Mama Sorgum NTT," seorang penerima Liputan6 Awards 2026 dalam kategori Ketahanan Pangan. Penghargaan ini bukan sekadar trofi, melainkan pengakuan atas perjuangan panjangnya menghidupkan kembali sorgum, tanaman pangan yang dulunya hampir terlupakan, menjadi harapan baru bagi masyarakat NTT.
Perjuangan Maria Loretha untuk sorgum telah dimulai sejak tahun 2007. Ia melihat potensi besar sorgum sebagai alternatif pangan yang tangguh, terutama di wilayah NTT yang seringkali dihadapkan pada tantangan iklim kering dan tanah yang kurang subur. Berbeda dengan padi dan jagung yang membutuhkan banyak air, sorgum adalah tanaman yang sangat adaptif, mampu tumbuh subur bahkan di kondisi minim air. Ia tidak hanya menanam, tetapi juga mengedukasi para petani di sekitarnya tentang pentingnya sorgum, baik dari sisi nutrisi maupun potensi ekonominya. "Salam sorgum, bergizi, sehat, dan berduit," begitu ia seringkali menyapa, sebuah salam yang menggambarkan tiga pilar utama yang ingin ia sebarkan: kesehatan karena kandungan gizinya yang melimpah, keberlanjutan karena kemampuannya bertahan di lahan kering, dan kesejahteraan ekonomi bagi para petani.
| Sumber: Pixabay |
Sorgum: Bukan Sekadar Tanaman Pangan Biasa
Sorgum bagi Maria Loretha bukan hanya sekadar komoditas pertanian. Ia adalah simbol ketahanan, identitas pangan yang kembali ditemukan, dan harapan untuk masa depan yang lebih mandiri. Di tengah ketergantungan masyarakat pada beras yang seringkali harus didatangkan dari luar daerah dengan biaya logistik tinggi, sorgum menawarkan solusi yang cerdas. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menempatkan NTT sebagai provinsi "rawan pangan" dengan 14,68% warganya mengalami kerawanan pangan sedang atau berat. Kondisi ini diperparah oleh faktor geografis, iklim, ketergantungan pada pertanian tradisional, serta kurangnya adaptasi teknologi.
Di sinilah peran "Mama Sorgum" menjadi sangat krusial. Ia telah membuktikan bahwa sorgum dapat tumbuh subur di lahan yang dianggap tidak produktif, bahkan tanah berbatu yang kering sekalipun. Ia tidak hanya menanam, tetapi juga mengajarkan bagaimana mengolah sorgum menjadi berbagai macam hidangan yang lezat dan bergizi. Dari bubur sorgum, kue, hingga sereal, sorgum membuktikan fleksibilitasnya sebagai bahan pangan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati lokal. "Ketika berbicara tentang pangan, kita tidak hanya berpikir tentang padi dan jagung. Ada berbagai sumber pangan lokal lain. Dari Flores, NTT, ada sorgum yang bisa menjadi bagian dari masa depan pangan Indonesia, bahkan dunia," ungkapnya dalam pidato penerimaan penghargaan.
Tantangan dan Perjuangan Awal
Perjalanan Maria Loretha tidaklah mulus. Ia harus menghadapi resistensi dari masyarakat yang sudah terbiasa dengan nasi dan memandang sorgum sebagai makanan "kampung" atau makanan yang asing. Mengubah pola pikir dan kebiasaan konsumsi memang tidak mudah, terutama ketika beras identik dengan makanan kalangan elit dan diperkenalkan oleh penjajah. Namun, kegigihan Maria tidak pernah padam. Ia terus bergerilya, mencari benih sorgum, menanamnya, dan secara perlahan namun pasti, mulai menularkan semangatnya kepada para petani lain.
Ia juga tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi petani. Keterbatasan akses terhadap teknologi, kesulitan dalam pemasaran, dan masih adanya dominasi beras sebagai pangan pokok adalah beberapa di antaranya. Namun, Maria Loretha percaya bahwa melalui edukasi berkelanjutan dan inovasi, sorgum dapat merebut kembali posisinya sebagai pangan lokal yang penting. Perjuangannya bahkan telah menginspirasi banyak pihak, termasuk pemerintah.
#### Dukungan Pemerintah dan Pengakuan Nasional
Kisah Maria Loretha dan keberhasilannya dalam mengembangkan sorgum sebagai pilar ketahanan pangan di NTT sejalan dengan program pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan dan diversifikasi pangan. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, bahkan turut memberikan ucapan selamat kepada Maria Loretha melalui tayangan video dalam acara Liputan6 Awards 2026. Pengakuan ini menegaskan bahwa kontribusi "Mama Sorgum" tidak hanya dirasakan di tingkat lokal, tetapi juga mendapatkan apresiasi di tingkat nasional.
Liputan6 Awards 2026 sendiri merupakan ajang penghargaan bergengsi yang diselenggarakan oleh Liputan 6 SCTV, sebuah program berita terkemuka di Indonesia. Penghargaan ini konsisten menjaring dan memberikan apresiasi kepada para "pahlawan senyap" (silent heroes) yang telah membawa perubahan positif di berbagai bidang, termasuk ketahanan pangan. Kategori Ketahanan Pangan yang diraih Maria Loretha menjadi bukti nyata dedikasinya yang luar biasa.
Masa Depan Pangan NTT dan Indonesia
Kisah Maria Loretha adalah cerminan bahwa potensi besar seringkali tersembunyi di daerah-daerah yang mungkin terpinggirkan. Dengan kerja keras, ketekunan, dan visi yang jelas, ia berhasil mengubah tanaman yang dianggap biasa menjadi sumber harapan dan kemandirian. Sorgum yang ia kembangkan tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan lokal, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari solusi pangan nasional, bahkan global.
Kita patut bangga memiliki sosok seperti Maria Loretha. Ia mengajarkan kita bahwa keberlanjutan pangan dapat dicapai melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang optimal, inovasi yang berkelanjutan, dan tentu saja, semangat juang yang tak kenal lelah. Perjuangannya adalah pengingat bagi kita semua akan pentingnya menghargai dan mengembangkan pangan lokal sebagai fondasi ketahanan bangsa. Dari tanah kering NTT, muncullah seorang pahlawan pangan yang membawa harapan bagi Nusantara.
#Maria Loretha #Ketahanan Pangan #Liputan6 Awards 2026