BUGALIMA - Di hamparan hijau Titehena, sebuah cerita tentang harapan dan kemandirian pangan sedang ditulis, dan Polres Flores Timur berdiri tegak sebagai salah satu arsiteknya. Lebih dari sekadar menjaga keamanan, institusi Polri di ujung timur Pulau Flores ini menunjukkan komitmen yang mendalam untuk membangun optimisme dan ketahanan pangan masyarakatnya. Sebuah potret nyata pengabdian yang menyentuh langsung denyut nadi kehidupan, yaitu perut rakyat.
Sabtu, 16 Mei 2026, menjadi saksi bisu dari semangat kolaborasi dan kerja keras. Di bawah terik matahari Titehena, Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, memimpin langsung sebuah momen bersejarah: Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II Tahun 2026. Kegiatan yang berpusat di lahan Kelompok Tani Ina Gahi, Desa Bokang Wolomatang, Kecamatan Titehena, ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah manifestasi dari janji untuk berdiri bersama petani, mendukung kemandirian pangan, dan pada akhirnya, mensejahterakan masyarakat Flores Timur.
| Sumber: Pixabay |
Kehadiran Polri di tengah sawah, di antara para petani yang berpeluh, adalah sebuah pernyataan kuat. Ini bukan soal menanam bunga atau sekadar kunjungan protokoler. Ini adalah tentang keterlibatan aktif, tentang merasakan langsung denyut nadi pertanian, dan tentang membangun jembatan dialog antara aparat dan rakyat. AKBP Adhitya Octorio Putra, dengan semangat yang terpancar dari raut wajahnya, seolah ingin mengatakan, "Kami hadir, bukan hanya untuk menjaga, tapi untuk berkarya bersama."
Kegiatan panen raya ini bukan berdiri sendiri. Ia terintegrasi dengan rangkaian acara berskala nasional. Sebuah Zoom Meeting Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II menjadi saksi inovasi teknologi dalam koordinasi. Ground Breaking pembangunan 10 gudang ketahanan pangan Polri menandai langkah strategis dalam penyimpanan hasil panen, sebuah aspek krusial yang seringkali luput dari perhatian. Dan peluncuran Operasional 166 SPPG Polri yang terpusat di Tuban, Jawa Timur, menunjukkan betapa program ketahanan pangan ini telah terjalin erat dalam sebuah jaringan nasional.
Di Titehena, sebuah lahan seluas 2 hektar berhasil dipanen, membuahkan hasil estimasi 8 ton jagung. Angka ini mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, namun bagi petani Ina Gahi, ini adalah hasil jerih payah, keringat yang berubah menjadi bulir emas. Dan yang lebih membanggakan, seluruh hasil panen ini akan diserap oleh BULOG. Sebuah jaminan kepastian pasar yang tidak hanya menstabilkan harga, tetapi juga memberikan kepastian pendapatan bagi para petani. Ini adalah contoh nyata bagaimana sinergi antara aparat keamanan, pemerintah, dan badan usaha milik negara dapat menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan.
Kasi Humas Polres Flores Timur, Eliezer A. Kalelado, menyampaikan pesan yang sangat mengena. "Polri tidak hanya hadir menjaga keamanan, tetapi juga terus membangun sinergi dalam mendukung ketahanan pangan nasional," ujarnya. Pernyataan ini bagaikan angin segar bagi masyarakat petani. Ia menegaskan bahwa tugas Polri kini meluas, merangkul dimensi kesejahteraan dan kemandirian. "Melalui kebersamaan dengan pemerintah, petani, dan seluruh stakeholder, kami berharap hasil pertanian masyarakat dapat memberikan kesejahteraan, memperkuat kemandirian pangan, serta menghadirkan optimisme bagi masa depan Flores Timur," tambahnya. Optimisme, kata kunci yang sangat dibutuhkan di daerah yang seringkali menghadapi tantangan geografis dan ekonomi.
Penting untuk dicatat, upaya Polres Flores Timur dalam membangun ketahanan pangan bukanlah sekadar insiden. Ini adalah bagian dari sebuah gerakan yang lebih besar. Sebelumnya, pada Maret 2026, Polres Flores Timur juga telah terlibat dalam gerakan penanaman jagung serentak Kuartal I. Ini menunjukkan konsistensi dan komitmen jangka panjang. Bahkan, dalam upaya memastikan ketersediaan pangan yang terjangkau, Polres Flores Timur secara rutin menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM). Penyaluran beras SPHP, misalnya, telah dilakukan di berbagai desa, memastikan masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga stabil, terutama di tengah fluktuasi harga pasar.
Fenomena ini sejalan dengan upaya pengembangan pangan lokal yang juga digalakkan di Flores Timur. Berbagai upaya dilakukan untuk lepas dari ketergantungan pada beras, dengan mengembangkan komoditas seperti ubi kayu, pisang, dan kacang-kacangan. Flores Timur sendiri memiliki tingkat konsumsi beras tertinggi di Indonesia, sehingga diversifikasi pangan menjadi sangat krusial. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk aparat keamanan, pengembangan pangan lokal ini diharapkan dapat semakin kuat.
Bukan hanya jagung, upaya ketahanan pangan di Flores Timur juga merambah ke komoditas lain. Pemanfaatan sorgum sebagai alternatif pangan rumah tangga telah menunjukkan dampak positif yang signifikan di Desa Lamabelawa. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pangan lokal sangat besar dan perlu terus digali serta dikembangkan.
Keterlibatan Polri, khususnya Polres Flores Timur, dalam program ketahanan pangan ini patut diapresiasi. Ini adalah contoh bagaimana institusi negara dapat bertransformasi menjadi agen pembangunan yang merakyat. Mereka tidak hanya sekadar menjaga "keamanan," tetapi juga turut serta dalam menciptakan "kenyamanan" hidup melalui pemenuhan kebutuhan dasar. Kegagahan mereka tidak hanya terlihat saat menjaga situasi kamtibmas, tetapi juga saat bersama petani memanen hasil bumi.
Secara keseluruhan, Panen Raya di Titehena ini adalah bukti nyata dari sinergi yang kuat antara Polres Flores Timur, pemerintah daerah, kelompok tani, dan Bulog. Ini adalah sebuah narasi optimisme yang dibangun dari lahan yang subur, dari kerja keras petani, dan dari dukungan institusi negara yang peduli. Dengan langkah-langkah nyata seperti ini, Polres Flores Timur tidak hanya sekadar membangun optimisme, tetapi juga menanamkan benih kemandirian pangan yang akan berbuah manis di masa depan Flores Timur. Semangat gotong royong yang terpancar dari kegiatan ini adalah esensi dari pembangunan bangsa yang sesungguhnya.
#ketahanan pangan #Polres Flores Timur #optimisme petani