BUGALIMA - Kabar terkini dari ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, menyajikan gambaran yang sungguh memprihatinkan. Wilayah yang kaya akan keindahan alam dan budaya ini kini tengah bergelut dengan situasi yang kompleks, menghadapi lima status tanggap darurat bencana yang aktif secara bersamaan. Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, dengan nada serius, menyampaikan bahwa daerahnya saat ini berada dalam kondisi yang tidak kondusif, di mana erupsi Gunung Lewotobi, banjir lahar dingin, cuaca ekstrem, bencana sosial, hingga gempa bumi terjadi beriringan. Ini bukan sekadar statistik, ini adalah realitas pahit yang menguji ketahanan masyarakat Flores Timur.
Kita mungkin sering mendengar berita tentang bencana alam di berbagai penjuru negeri. Namun, apa yang dialami Flores Timur saat ini terasa berbeda. Bayangkan, satu daerah harus menghadapi ancaman dari perut bumi melalui erupsi gunung berapi, lalu di saat yang bersamaan dihantam oleh amukan air dingin dari sisa erupsi tersebut, ditambah lagi dengan keganasan cuaca ekstrem yang tak terduga. Belum selesai urusan alam, potensi bencana sosial dan gempa bumi yang kerap melanda wilayah ini, menambah daftar panjang tantangan yang harus dihadapi. Ini adalah ujian berat yang menguji daya tahan dan kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat.
| Sumber: Pixabay |
Mari kita bedah satu per satu ancaman yang tengah menghantui Flores Timur. Gunung Lewotobi, sebuah gunung berapi kembar yang terletak di bagian tenggara Pulau Flores, telah berulang kali menunjukkan keganasannya. Erupsi yang terjadi pada Maret 2025, misalnya, memaksa ribuan warga mengungsi dan mengakibatkan luka bakar bagi beberapa orang. Hingga April 2026, aktivitas erupsi masih terus berlangsung, dengan kolom abu yang membubung tinggi ke angkasa. Fenomena ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran akan potensi banjir lahar dingin yang sangat berbahaya, apalagi mengingat wilayah ini sering dilanda hujan deras.
Banjir bandang dan tanah longsor juga menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Flores Timur. Tragedi yang terjadi pada April 2021 menjadi bukti nyata betapa mematikannya bencana ini. Ratusan nyawa melayang, rumah-rumah rata dengan tanah, dan puluhan ribu jiwa harus kehilangan tempat tinggal serta mengungsi. Ingatkah kita pada peristiwa di Desa Nele Lamadike, Kecamatan Ile Boleng, yang menelan korban jiwa hingga puluhan orang akibat tertimbun longsor? Peristiwa ini menjadi pengingat getir akan kerentanan kita terhadap amukan alam.
Cuaca ekstrem juga tak kalah mengkhawatirkan. Dengan curah hujan yang tinggi dan intensitas yang tak terduga, ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang semakin meningkat. Pemerintah Kabupaten Flores Timur bahkan telah menetapkan status tanggap darurat bencana cuaca ekstrem sejak Desember 2025 hingga April 2026, sebagai langkah antisipasi dan percepatan penanganan. Ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dan pola cuaca yang tak menentu.
Gempa bumi, yang seringkali datang tanpa peringatan, juga menjadi ancaman konstan di Flores Timur. Pada April 2026, wilayah ini diguncang gempa bermagnitudo 4,7 yang menyebabkan kerusakan pada ratusan rumah dan memaksa ribuan warga mengungsi. Pemerintah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa selama empat bulan, mulai April hingga Juli 2026, demi mempercepat penanganan dampak bencana.
Bahkan, yang lebih memprihatinkan, ancaman tidak hanya datang dari bencana alam murni. Bupati Antonius Doni Dihen menyebutkan adanya 'bencana sosial' yang juga masuk dalam status tanggap darurat. Meskipun tidak dirinci lebih lanjut, penyebutan ini mengindikasikan adanya persoalan sosial yang kompleks di tengah masyarakat, yang mungkin diperparah oleh kondisi bencana alam yang terus-menerus. Ini menjadi dimensi lain yang perlu mendapat perhatian serius.
Menghadapi situasi yang pelik ini, pemerintah daerah tidak tinggal diam. Bupati Antonius Doni Dihen menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi berbagai pihak, termasuk Catholic Relief Service (CRS), dalam mendukung program kesiapsiagaan bencana. Program seperti pembentukan desa siaga bencana dan kegiatan strategis lainnya yang melibatkan masyarakat secara langsung terus digalakkan. Selain itu, upaya percepatan penanganan dampak erupsi Gunung Lewotobi, terutama penyediaan hunian tetap bagi warga terdampak, juga menjadi prioritas. Pada tahun 2026, direncanakan pembangunan 244 unit rumah di lokasi Todo, Desa Lewolaga.
Namun, persoalan geografis yang khas di wilayah kepulauan seperti Flores Timur juga menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan bencana dan pemberian layanan, termasuk layanan kesehatan jiwa. Akses yang sulit dijangkau, medan yang berbahaya, dan potensi bencana susulan menjadi faktor-faktor yang membuat penanganan menjadi lebih kompleks.
Florestimur memang tengah menghadapi ujian terberat. Lima status tanggap darurat yang aktif secara bersamaan adalah potret nyata dari kerentanan wilayah ini. Namun, di tengah badai bencana, semangat gotong royong dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi modal berharga. Penting bagi semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat, untuk terus bersinergi, memperkuat strategi mitigasi dan adaptasi, serta membangun resiliensi agar Flores Timur dapat bangkit dari keterpurukan dan kembali menjadi wilayah yang aman dan sejahtera.
Source: RRI.co.id
#Flores Timur #Bencana Alam #Tanggap Darurat