BUGALIMA - Larantuka, sebuah kota di ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Tenggara (NTT), kembali menjadi magnet bagi ribuan peziarah dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari negeri yang jauh, Portugal. Nelson Silva, seorang warga negara Portugal, adalah salah satu dari sekian banyak peziarah yang tergerak untuk merasakan langsung kekhidmatan prosesi Semana Santa. Perjalanan jauhnya dari Portugal bukan tanpa alasan. Ia membawa serta rasa penasaran dan kekaguman mendalam terhadap tradisi yang telah berusia lebih dari lima abad ini, sebuah warisan tak ternilai dari bangsa Portugis yang menyebarkan ajaran Katolik di tanah Larantuka.
Semana Santa, atau "Hari Bae" dalam bahasa lokal, bukanlah sekadar perayaan keagamaan biasa. Ini adalah sebuah ritual sakral yang berlangsung selama tujuh hari penuh, merangkum seluruh pekan suci Paskah. Bagi umat Katolik di Larantuka, perayaan ini menjadi momen krusial untuk bertobat, melakukan pembaruan rohani, dan mengekspresikan solidaritas iman. Namun, daya tarik Semana Santa tidak hanya terbatas pada aspek spiritualnya. Ia juga merupakan perwujudan akulturasi budaya yang memukau, perpaduan antara kepercayaan lokal, ajaran gereja, dan tradisi yang dibawa oleh para misionaris Portugis.
| Sumber: Pixabay |
Kehadiran Nelson Silva di Larantuka ini menjadi bukti nyata betapa kuatnya jalinan sejarah antara Portugal dan Indonesia, khususnya dalam penyebaran agama Katolik. "Orang Portugal sudah berada di Larantuka sejak lama sekali. Karena sejarah Larantuka yang berkaitan dengan orang Portugal dan bagaimana orang Portugis membawa agama Katolik ke sini," tutur Nelson Silva, menjelaskan ketertarikannya untuk menyaksikan langsung tradisi ini. Baginya, ini bukan hanya tentang mengikuti prosesi, tetapi juga tentang menelusuri jejak leluhurnya dan merasakan denyut nadi sejarah yang masih hidup.
Jejak Sejarah Portugis di Larantuka
Perjalanan Semana Santa di Larantuka dimulai berabad-abad lalu, diperkirakan sejak penemuan patung Bunda Maria, yang kemudian dikenal sebagai "Tuan Ma", di pantai Larantuka pada tahun 1510. Misionaris Portugis yang tiba kemudian mengidentifikasi patung tersebut sebagai Santa Maria, Bunda Yesus. Sejak saat itu, Semana Santa di Larantuka tidak bisa dilepaskan dari warisan Portugis. Pengaruh Portugis begitu terasa, bahkan Larantuka dijuluki sebagai "Nagi" dan "Kota Reinha" (kota yang diberkati Maria).
Prosesi Semana Santa ini telah berlangsung lebih dari 500 tahun, menunjukkan ketangguhan tradisi ini dalam menghadapi perubahan zaman. Larantuka sendiri diakui sebagai pusat tradisi Katolik tertua di Indonesia, dan Semana Santa adalah salah satu tradisi uniknya yang tidak ditemukan di tempat lain.
Rangkaian Prosesi yang Mendalam
Semana Santa di Larantuka bukan hanya satu hari perayaan, melainkan rangkaian panjang yang dimulai sejak Minggu Palma dan memuncak pada Jumat Agung, yang dikenal sebagai "Sesta Vera". Setiap tahapan memiliki makna dan ritualnya sendiri:
Rabu Trewa (Rabu Terbelenggu)
Ritual dimulai pada hari Rabu, sehari sebelum Kamis Putih. Umat berkumpul untuk mengenang pengkhianatan Yudas Iskariot terhadap Yesus. Suasana hening dan ratapan Mazmur dalam bahasa Latin mengiringi doa-doa. Tepat pukul 15.00 sore, bunyi-bunyian di seluruh Larantuka berhenti, menandakan dimulainya masa berkabung dan Larantuka berubah menjadi kota yang berduka.Kamis Putih
Pada Kamis Putih, terdapat prosesi "Muda Tuan" di Kapel Tuan Ma. Petugas "Conferia" akan membuka peti yang selama setahun tertutup, membersihkan, memandikan, dan mengganti busana patung Tuan Ma dengan pakaian berkabung. Umat berdoa dalam suasana sakral, dan melakukan "Cium Tuan" di situs-situs rohani.Jumat Agung (Sesta Vera)
Ini adalah puncak dari perayaan Semana Santa. Prosesi dimulai dengan pengarakan patung-patung suci, termasuk Tuan Ma (Bunda Maria), Tuan Ana (Yesus), dan Tuan Meninu (Bayi Yesus). Prosesi ini biasanya mengelilingi kota Larantuka, menyinggahi delapan tempat perhentian yang disebut "Armida". Ada pula prosesi laut yang tak kalah khidmat, di mana ribuan orang dalam ratusan perahu mengarak patung Yesus Kristus melalui laut.Sabtu Suci dan Minggu Paskah (Minggu Halleluya)
Rangkaian ditutup dengan perayaan Sabtu Suci dan Minggu Paskah, yang menandai kebangkitan Yesus Kristus. Pada Minggu Paskah, patung Maria Halleluya diarak kembali ke Kapela Pantekebis untuk pentahtaan, diakhiri dengan upacara "Sera Punto Dama".Lebih dari Sekadar Tradisi Keagamaan
Kehadiran Nelson Silva dari Portugal di Larantuka bukan hanya sekadar kunjungan wisata religi. Ini adalah sebuah perjalanan spiritual yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, antara Portugal dan Indonesia, serta antara Nelson Silva dan akar sejarahnya. Semana Santa di Larantuka telah membuktikan diri sebagai tradisi yang hidup, terus relevan, dan mampu menarik perhatian dunia dengan kekayaan sejarah, spiritualitas, dan budayanya.
Bagi Nelson, pengalaman ini adalah sesuatu yang tak ternilai. Ia menyaksikan langsung bagaimana sebuah tradisi yang dibawa oleh leluhurnya ribuan mil jauhnya kini tetap hidup subur, bahkan berkembang, dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Larantuka. "Tentu saja sangat menarik untuk berada di sini selama periode Paskah ini," ujar Nelson, merefleksikan pengalaman uniknya di tanah Flores.
Perayaan Semana Santa di Larantuka juga menjadi bukti nyata dari toleransi antarumat beragama di Flores Timur. Meskipun merupakan perayaan Katolik yang kental, ia selalu mampu menarik perhatian dan partisipasi dari berbagai kalangan.
Source: https://travel.detik.com/dtravelnews/a-7285550/jauh-jauh-datang-dari-portugal-nelson-ikut-prosesi-semana-santa-di-larantuka
#Semana Santa #Larantuka #Tradisi Katolik