BUGALIMA - Diskusi yang digelar belum lama ini di Flores Timur menghadirkan dua tokoh muda potensial, Syafrudin Atasoge dan Yusril Nager, yang membongkar sebuah ironi pahit: melimpahnya kekayaan alam Flores Timur, namun ironisnya masih bergulat dengan masalah kemiskinan. Sebuah kontradiksi yang menyakitkan, di mana potensi alam yang luar biasa seolah tak mampu mengangkat kesejahteraan masyarakatnya.
Ironi Flores Timur: Surga yang Terlupakan
Namun, di balik pesona alamnya, Flores Timur menghadapi kenyataan pahit. Data menunjukkan bahwa meskipun kaya akan sumber daya alam, tingkat kemiskinan di kabupaten ini masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pada tahun 2023, tercatat sebanyak 30,93 ribu jiwa atau 11,77 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Angka ini, meski menunjukkan sedikit penurunan menjadi 11,25 persen atau 29,74 ribu jiwa pada tahun 2024, masih menjadi refleksi dari ironi yang mendalam.
Potensi Alam yang Belum Optimal Dikelola
Syafrudin Atasoge, mantan anggota DPD RI, menyoroti bahwa potensi laut yang begitu besar belum dikelola secara optimal. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan sumber daya alam ini untuk kemandirian daerah, tanpa harus terlalu bergantung pada dana pusat. Studi menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi laut Flores Timur belum optimal, sebuah ironi di tengah kelimpahan sumber daya.
Yusril Nager, seorang aktivis mahasiswa, memperkuat pandangan ini dengan menekankan perlunya tindakan konkret dari pemerintah daerah. Ia menyoroti bahwa kekayaan alam Flores Timur seharusnya mampu menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak di sektor pariwisata dan kelautan. Sayangnya, kapasitas fiskal daerah masih tergolong rendah, dengan tingkat ketergantungan yang tinggi pada Transfer ke Daerah (TKD), mencapai 96,56 persen.
Akar Masalah Kemiskinan di Flores Timur
Diskusi ini juga menyentuh akar permasalahan kemiskinan yang kompleks di Flores Timur. Beberapa faktor yang teridentifikasi antara lain:
Pendidikan dan Keterampilan yang Rendah
Salah satu penyebab utama kemiskinan adalah rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan masyarakat. Hal ini berdampak pada terbatasnya akses terhadap pekerjaan yang layak dan berpenghasilan tinggi.
Ketergantungan Ekonomi
Tingginya ketergantungan pada sektor tertentu, seperti pertanian dan perikanan, tanpa diversifikasi ekonomi yang memadai, membuat masyarakat rentan terhadap gejolak ekonomi. Selain itu, tingginya ketergantungan fiskal daerah terhadap pusat juga membatasi fleksibilitas dalam pembangunan.
Akses Terbatas ke Peluang Kerja
Kurangnya peluang kerja yang diciptakan di daerah membuat banyak warga terpaksa mencari nafkah di luar daerah, bahkan di luar negeri, yang seringkali menjebak mereka dalam praktik perdagangan manusia.
Kebijakan yang Belum Tepat Sasaran
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, seperti instruksi bupati untuk penanganan rumah tidak layak huni, masih ada kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut belum sepenuhnya menyentuh akar masalah. Pola pembangunan yang bersifat reformis dan "teknikalisasi permasalahan" tanpa menyentuh kepentingan struktural juga menjadi catatan penting.
Menuju Flores Timur yang Lebih Sejahtera
Menghadapi tantangan ini, diperlukan langkah-langkah strategis dan kolaboratif.
Pemberdayaan Masyarakat dan Peningkatan Keterampilan
Program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada peningkatan keterampilan dan akses terhadap modal usaha sangat krusial. Pelatihan vokasi dan dukungan terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang produktif dapat menjadi solusi.
Diversifikasi Ekonomi dan Penguatan Sektor Unggulan
Pemerintah perlu mendorong diversifikasi ekonomi dengan mengembangkan sektor-sektor potensial lainnya, seperti pariwisata berkelanjutan dan industri kreatif. Penguatan sektor unggulan yang sudah ada melalui inovasi dan teknologi juga penting.
Peningkatan Tata Kelola Pemerintahan
Tata kelola pemerintahan yang baik, transparan, dan akuntabel menjadi kunci. Pemanfaatan BUMD secara efektif untuk mengelola potensi daerah dan mendorong peningkatan PAD perlu dioptimalkan.
Kolaborasi Lintas Sektor
Mengatasi kemiskinan di Flores Timur tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, organisasi non-pemerintah, akademisi, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menciptakan solusi yang holistik dan berkelanjutan.
Diskusi antara Syafrudin dan Yusril ini menjadi pengingat bahwa potensi alam yang melimpah hanya akan berarti jika dikelola dengan bijak, kebijakan yang tepat sasaran, dan komitmen bersama untuk mengangkat kesejahteraan seluruh masyarakat Flores Timur.
Source: Flores Terkini *
#**IroniKemiskinanFloresTimur #PotensiAlamFloresTimur #SolusiPengentasanKemiskinanNTT**
