Soeratin U17 dan Pertiwi di Sikka, Flotim: Peluang Emas Gelar Liga 4 ETMC

BUGALIMA - Keriuhan sepak bola di Nusa Tenggara Timur (NTT) sepertinya tak akan pernah padam. Setelah sekian lama hanya menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu, kini angin segar berembus kencang. Kabupaten Sikka dan Flores Timur (Flotim) berpeluang besar menjadi tuan rumah perhelatan akbar sepak bola regional, yakni Liga 4 El Tari Memorial Cup (ETMC). Potensi ini semakin menguat dengan adanya gelaran kompetisi usia muda seperti Piala Soeratin U17 dan Piala Pertiwi yang diagendakan di kedua daerah tersebut. Ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah harapan nyata yang bisa membangkitkan gairah sepak bola NTT.

Mari kita tengok sejenak ke belakang, bagaimana sejarah ETMC terbentuk. Turnamen legendaris ini lahir dari gagasan brilian Gubernur NTT kala itu, El Tari, pada tahun 1969. Tujuannya mulia: menyatukan masyarakat NTT yang tersebar di berbagai pulau melalui olahraga sepak bola. El Tari Cup, begitu nama awalnya, kemudian berubah menjadi El Tari Memorial Cup (ETMC) pada tahun 1979, sebagai bentuk penghormatan atas jasa sang gubernur yang telah wafat. Sejak saat itu, ETMC menjadi agenda olahraga terbesar dan paling bergengsi di NTT, diselenggarakan rutin setiap dua tahun sekali. ETMC telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas sepak bola NTT, melahirkan banyak bintang dan menjadi ajang pemersatu bangsa.

Sumber: Pixabay

Kini, dengan adanya rencana penyelenggaraan Piala Soeratin U17 dan Piala Pertiwi di Sikka dan Flotim, harapan untuk menjadi tuan rumah Liga 4 ETMC semakin terbuka lebar. Piala Soeratin sendiri merupakan kompetisi sepak bola usia muda yang diselenggarakan oleh PSSI, menelurkan bibit-bibit pesepak bola masa depan. Sementara itu, Piala Pertiwi adalah turnamen sepak bola wanita yang juga krusial untuk pengembangan sepak bola nasional. Kehadiran kedua kompetisi ini di Sikka dan Flotim menjadi sinyal positif bahwa kedua kabupaten ini memiliki kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia yang memadai untuk menyelenggarakan event yang lebih besar.

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, misalnya, menunjukkan komitmen kuatnya dalam memajukan sepak bola daerah. Melalui inisiatif "Piala Bupati Sikka", yang rencananya digelar selama lima tahun berturut-turut, beliau berupaya menghidupkan kembali gairah sepak bola di Sikka. Turnamen ini tidak hanya memperebutkan piala dan uang pembinaan, tetapi juga menjadi ajang pembentukan karakter pemain muda agar berbakti bagi daerahnya. Hal serupa juga terlihat dari berbagai turnamen sepak bola yang rutin digelar di Sikka, seperti BLR Banteng Cup 2023 yang diikuti 20 klub lokal, dan Festival Sepak Bola Pelajar Nian Tana yang diikuti 50 tim. Ini menunjukkan bahwa denyut nadi sepak bola di Sikka masih sangat kuat.

Sementara itu, Flores Timur, meskipun belum banyak diberitakan secara spesifik terkait penyelenggaraan turnamen usia muda, memiliki sejarah panjang dalam sepak bola NTT. Perseftim Flores Timur adalah juara pertama El Tari Cup pada tahun 1969. Sejarah ini menjadi modal berharga bagi Flotim untuk kembali bangkit dan menunjukkan taringnya di kancah regional.

Keputusan Asprov PSSI NTT untuk menunjuk Flores Timur sebagai tuan rumah Liga 4 ETMC 2026, dan Kabupaten Sikka sebagai tuan rumah Piala Pertiwi 2026, adalah langkah strategis. Keputusan ini diambil dalam Kongres Biasa Asprov PSSI NTT di Labuan Bajo. Penunjukan ini bukan tanpa alasan. Sikka dan Flotim, dengan potensi dan semangat sepak bola yang membara, dinilai layak untuk mengemban amanah ini.

Mengapa Sikka dan Flotim Berpeluang Emas?

Ada beberapa faktor yang membuat Sikka dan Flotim memiliki peluang emas untuk menjadi tuan rumah Liga 4 ETMC:

* Kesiapan Infrastruktur: Keduanya memiliki stadion dan lapangan pendukung yang memadai untuk menggelar pertandingan berskala regional. Gelora Samador di Sikka, misalnya, telah menjadi saksi berbagai turnamen. * Dukungan Pemerintah Daerah: Komitmen Bupati Sikka dan potensi dukungan dari pemerintah daerah di Flores Timur menjadi modal penting. Kepala daerah yang peduli terhadap olahraga adalah kunci keberhasilan penyelenggaraan sebuah turnamen besar. * Antusiasme Masyarakat: Sepak bola adalah olahraga rakyat di NTT. Semangat dan antusiasme masyarakat Sikka dan Flotim terhadap sepak bola sudah tidak perlu diragukan lagi. Kehadiran tim-tim lokal dalam berbagai turnamen membuktikan hal ini. * Sejarah dan Tradisi: Baik Sikka maupun Flotim memiliki sejarah panjang dalam kancah sepak bola NTT. Flotim pernah melahirkan juara ETMC pertama, sementara Sikka terus aktif menggelar berbagai kompetisi lokal.

Tantangan dan Harapan

Tentu saja, menjadi tuan rumah sebuah turnamen besar seperti ETMC bukanlah perkara mudah. Ada berbagai tantangan yang harus dihadapi, mulai dari pendanaan, logistik, hingga koordinasi antarpihak. Namun, dengan semangat kebersamaan dan dukungan dari semua elemen, tantangan ini niscaya dapat diatasi.

Penyelenggaraan Piala Soeratin U17 dan Piala Pertiwi di Sikka dan Flotim adalah sebuah awal yang baik. Ini adalah kesempatan emas bagi kedua kabupaten untuk membuktikan diri sebagai tuan rumah yang handal. Jika semua berjalan lancar, bukan tidak mungkin ETMC XXXV (atau edisi selanjutnya) akan kembali digelar di Bumi Flores, menyatukan kembali masyarakat NTT dalam euforia sepak bola yang tak terlupakan. Ini adalah harapan besar bagi sepak bola NTT, sebuah langkah maju yang patut kita dukung bersama.

Source: https://rri.co.id/regional/175908/soeratin-u-17-pssi-ntt-2026-digelar-di-ngada



#Sepak Bola NTT #Liga 4 ETMC #Sikka Flores Timur

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama