** Bappenas Fasilitasi Petani Flores Timur Belajar Pertanian Berkelanjutan di Timor Tengah Selatan: Langkah Strategis Menuju Ketahanan Pangan NTT **

** BUGALIMA - Sungguh sebuah pemandangan yang menginspirasi, melihat puluhan petani dari Kabupaten Flores Timur berbondong-bondong menuju Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Bukan untuk berlibur, apalagi bertamasya. Mereka berangkat untuk belajar. Belajar ilmu pertanian berkelanjutan, sebuah bekal penting di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Program kunjungan belajar ini, yang digagas dan didorong oleh Kementerian PPN/Bappenas RI, diikuti oleh 135 petani Flores Timur. Sebuah inisiatif kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Pemerintah Kabupaten TTS, Plan Indonesia, GIZ, Yayasan Krisna Galensya, dan Caritas Indonesia.

Mengapa belajar di TTS? Jawabannya sederhana: praktik baik. Kabupaten Timor Tengah Selatan, meski memiliki tantangan tersendiri, telah menunjukkan geliat positif dalam penerapan pertanian berkelanjutan. Data menunjukkan bahwa program serupa di TTS telah berhasil mengembangkan 50 hektare lahan produktif dan memperkuat 39 kelompok tani muda. Ini adalah bukti nyata bahwa inovasi dan adaptasi dalam bertani bisa membuahkan hasil. Para petani Flores Timur akan mendapatkan pelajaran berharga, mulai dari praktik hortikultura berbasis Good Agricultural Practices (GAP), pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture), penguatan kelembagaan kelompok tani, pengembangan kewirausahaan hijau (green entrepreneurship), hingga bagaimana mengakses pasar dan mengelola keuangan dengan baik.

Sumber: Pixabay

Menilik Lebih Jauh: Urgensi Pertanian Berkelanjutan

Fenomena ini bukanlah sekadar program kunjungan biasa. Ini adalah bagian dari upaya Bappenas dalam mengakselerasi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya pada sektor ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan. Setyo Budiantoro, Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi Sekretariat Nasional SDGs Bappenas, menekankan bahwa kolaborasi antardaerah seperti ini krusial untuk mencapai SDGs. "Praktik baik dari Timor Tengah Selatan diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan ekosistem hortikultura di Flores Timur," ujarnya.

Di era perubahan iklim dan degradasi lahan yang semakin nyata, konsep pertanian berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Pertanian berkelanjutan berfokus pada menjaga keseimbangan ekologis, sosial, dan ekonomi. Ia memastikan bahwa produksi pangan dapat terus berjalan tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Ini berarti menggunakan sumber daya alam secara bijak, mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya, menjaga keanekaragaman hayati, dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Potret Pertanian Nusa Tenggara Timur

Nusa Tenggara Timur (NTT) secara geografis memiliki karakteristik wilayah yang unik, termasuk daerah semi-arid yang menantang. Keberadaan tanah hitam di NTT, yang dikenal dengan berbagai nama lokal seperti tana metung, tana miting, rai metan, dan tana miteng, merupakan aset berharga. Namun, pengelolaan tanah ini membutuhkan pengetahuan dan teknik yang tepat agar dapat dimanfaatkan secara optimal, terutama dalam menghadapi keterbatasan air.

Upaya menuju swasembada pangan berkelanjutan di NTT terus digalakkan. Gerakan Tanam Padi Serentak (GERTAM) adalah salah satu contoh nyata komitmen tersebut. Pada tahun 2025, produksi padi NTT sudah mencapai 968.324 ton Gabah Kering Panen (GKP), meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Target ambisius untuk tahun 2026 adalah mencapai 1,18 juta ton GKP. Angka-angka ini menunjukkan potensi besar sektor pertanian di NTT jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan.

Peran Strategis Petani dan Kolaborasi Lintas Sektor

Bappenas menempatkan petani sebagai pilar utama dalam transformasi pertanian yang inklusif dan berkelanjutan. Penguatan petani melalui peningkatan pengetahuan, akses informasi, dan pendampingan yang memadai adalah kunci. Program kunjungan belajar ini adalah salah satu bentuk konkret dari upaya tersebut. Dengan belajar langsung dari petani dan praktisi di TTS, petani Flores Timur diharapkan dapat membawa pulang pengetahuan yang aplikatif dan relevan dengan kondisi daerah mereka.

Lebih dari itu, keberhasilan program ini juga menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi. Kementerian PPN/Bappenas, pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah, hingga kelompok tani, semua bergerak sinergis. Pendekatan seperti Youth-Led Agri-food (YLAF), yang menempatkan kaum muda sebagai penggerak utama, juga menjadi sorotan. Hal ini sejalan dengan upaya regenerasi petani yang menjadi salah satu agenda besar dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.

Program ini bukan hanya tentang bertukar ilmu, tetapi juga tentang membangun jejaring dan solidaritas antar petani. Ini adalah tentang memberdayakan mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Dengan praktik-praktik baik yang dipelajari di TTS, diharapkan ekosistem hortikultura di Flores Timur akan semakin berkembang, memberikan kontribusi positif bagi peningkatan ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Nusa Tenggara Timur.

Source: ANTARA News

**



#** pertanian berkelanjutan #Bappenas #Flores Timur **

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama