BUGALIMA - Kabar gembira bergulir dari Nusa Tenggara Timur! Kabupaten Flores Timur (Flotim) telah menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXV pada tahun 2026. Ini bukan sekadar berita biasa, melainkan sebuah sinyal kesiapan daerah yang berjuluk "Bumi Lamaholot" untuk unjuk gigi di panggung sepak bola regional NTT. Euforia mulai terasa, jauh sebelum peluit pertama dibunyikan, seolah pertanda bahwa Flotim siap menyajikan sebuah perhelatan akbar yang tak hanya memanjakan mata para pecinta sepak bola, tetapi juga memukau dunia dengan kekayaan budayanya.
Perhelatan ETMC 2026 ini diproyeksikan menjadi momen penting bagi Flores Timur. Tidak hanya sebagai tuan rumah turnamen sepak bola paling bergengsi di NTT, tetapi juga sebagai panggung untuk menampilkan potensi pariwisata dan kekayaan budaya yang dimiliki. Pemerintah Kabupaten Flores Timur, di bawah kepemimpinan Bupati Antonius Doni Dihen, telah bergerak cepat untuk mematangkan persiapan. Rapat koordinasi intensif telah digelar, menandai dimulainya langkah strategis menuju November 2026. Wakil Bupati, Ignasius Boli, telah dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Panitia ETMC Flores Timur 2026, sebuah penunjukan yang menunjukkan keseriusan dan komitmen pemerintah daerah.
| Sumber: Pixabay |
Salah satu sorotan utama yang membuat perhelatan ETMC 2026 ini semakin menarik adalah rencana ambisius untuk memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) melalui penampilan massal Tarian Hedung. Bayangkan, ratusan penari, antara 200 hingga 500 orang, akan bersatu padu dalam sebuah tarian kolosal yang menggambarkan semangat kepahlawanan dan kekayaan budaya Adonara. Tarian Hedung sendiri merupakan tarian tradisional sejenis tarian perang yang berasal dari masyarakat Adonara, Flores Timur. Tarian ini dibawakan oleh para penari pria maupun wanita dengan gerakan-gerakan yang menggambarkan jiwa kepahlawanan dan semangat juang masyarakat Adonara di medan perang. Jika target ini tercapai, penampilan Tarian Hedung akan menjadi pembukaan ETMC yang paling spektakuler sepanjang sejarah penyelenggaraan turnamen.
Tak hanya pertunjukan budaya, kesiapan infrastruktur juga menjadi prioritas. Stadion Ape Buan di Adonara telah ditetapkan sebagai panggung utama, khususnya untuk laga-laga krusial seperti babak 16 besar dan seterusnya. Stadion ini, yang dibangun dengan semangat gotong royong masyarakat, telah diresmikan pada Juni 2025. Selain Ape Buan, Lapangan Gawerata dan Stadion Ile Mandiri juga diproyeksikan menjadi arena pertandingan di fase penyisihan. Pemerintah daerah menyadari bahwa masih ada kekurangan di sana-sini terkait fasilitas, namun dengan waktu persiapan sekitar lima bulan, optimisme untuk membenahi dan mempersiapkan semuanya dengan baik terus digaungkan.
Lebih dari sekadar turnamen sepak bola, Flores Timur ingin memberikan pengalaman budaya yang mendalam bagi seluruh tim peserta. Konsep "live in" dirancang, di mana tim-tim peserta akan diajak berbaur dan tinggal bersama masyarakat di desa-desa wilayah Adonara. Tujuannya jelas: memperkuat suasana kekeluargaan, sekaligus menjadi sarana promosi budaya dan pariwisata Flores Timur kepada para tamu dari seluruh NTT. Ini adalah sebuah strategi cerdas untuk memanfaatkan ajang olahraga sebagai katalisator pembangunan pariwisata daerah.
Dalam upaya menyukseskan gelaran ini, Pemerintah Kabupaten Flores Timur tidak akan mengandalkan sepenuhnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pendekatan pembiayaan kreatif, dengan mengandalkan dukungan sponsor, bantuan dari berbagai pihak, serta kolaborasi dengan kepala daerah yang timnya akan berpartisipasi, menjadi strategi utama. Bupati Doni Dihen menekankan bahwa seluruh panitia harus bekerja maksimal agar penyelenggaraan ETMC berlangsung sukses dan berkesan, meskipun di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi. Ia menegaskan turnamen tersebut tidak boleh terkesan dipaksakan, melainkan mampu menghadirkan kesan profesional dan megah.
ETMC sendiri memiliki sejarah panjang di Nusa Tenggara Timur. Turnamen ini pertama kali dicetuskan oleh Gubernur NTT, El Tari, pada tahun 1969, dengan tujuan mempersatukan masyarakat melalui olahraga sepak bola. Nama El Tari Cup kemudian resmi diubah menjadi El Tari Memorial Cup pada tahun 1979, sebagai bentuk penghormatan atas jasa Gubernur El Tari setelah beliau wafat. Sejak saat itu, turnamen ini berkembang menjadi agenda olahraga terbesar di NTT yang digelar rutin setiap dua tahun dan kini berstatus sebagai Liga 4 NTT.
Perhelatan ETMC 2026 di Flores Timur ini bukan hanya tentang pertandingan sepak bola. Ini adalah tentang bagaimana sebuah daerah mampu bangkit, menunjukkan potensinya, dan merangkul dunia melalui perpaduan harmonis antara olahraga, budaya, dan pariwisata. Dengan persiapan yang matang, semangat kebersamaan, dan target ambisius, Flores Timur optimis dapat menyajikan sebuah perhelatan ETMC yang tak hanya sukses secara teknis, tetapi juga meninggalkan jejak kebanggaan dan kenangan tak terlupakan bagi semua pihak yang terlibat.
#ETMC 2026 #Flores Timur #Stadion Ape Buan