BUGALIMA - Gelaran akbar El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXV tahun 2026 di Flores Timur dipastikan bakal lebih meriah dari biasanya. Bukan hanya ajang adu si kulit bundar antar kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Timur, ETMC kali ini akan menjadi panggung akbar yang memamerkan kekayaan budaya lokal. Targetnya, pembukaan turnamen akan diwarnai penampilan spektakuler dari 500 penari Hedung, sebuah tarian tradisional kebanggaan masyarakat Adonara, Flores Timur. Upaya ini tidak main-main, bahkan digadang-gadang akan memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).
"Pembukaan akan dipusatkan di Ape Buan dan kami berupaya menghadirkan penampilan Tari Hedung dalam jumlah besar. Kami juga akan membangun kolaborasi dengan sejumlah kepala daerah yang timnya ikut berpartisipasi dalam ETMC Flores Timur," ujar Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, dalam rapat persiapan yang digelar beberapa waktu lalu. Target ambius ini menunjukkan keseriusan Pemkab Flores Timur dalam menyajikan sebuah pembukaan yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga sarat makna budaya.
| Sumber: Pixabay |
Tarian Hedung sendiri bukanlah tarian sembarangan. Berasal dari suku Lamaholot di Pulau Adonara, tarian ini memiliki akar sejarah yang kuat sebagai tarian perang. Dulunya, Hedung dibawakan untuk menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang, melambangkan semangat kepahlawanan, keberanian, dan pantang menyerah. Gerakan tarian ini biasanya diiringi musik tradisional yang khas, seperti gong dan gendang, dengan para penari memperagakan gerakan menyerupai pertempuran, lengkap dengan properti seperti parang dan tombak.
Namun, seiring berjalannya waktu, makna dan fungsi tarian Hedung tidak lantas hilang, melainkan berevolusi. Kini, tarian ini juga ditampilkan dalam berbagai momen kebersamaan, seperti penyambutan tamu penting, perayaan adat, bahkan dalam acara-acara yang merayakan hari kemerdekaan. Tarian Hedung menjadi simbol jati diri masyarakat Adonara, sebuah warisan budaya yang terus dijaga kelestariannya oleh berbagai lapisan usia, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Menyongsong ETMC 2026: Kesiapan Infrastruktur dan Konsep Unik
Persiapan ETMC 2026 di Flores Timur tidak hanya terfokus pada kemeriahan pembukaan. Berbagai aspek penting lainnya juga tengah dimatangkan oleh panitia yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran. Tiga lapangan utama telah disiapkan sebagai venue pertandingan: Lapangan Gawerato, Lapangan Ile Mandiri, dan Lapangan Ape Buan di Adonara yang akan menjadi panggung utama untuk babak gugur hingga final. Meskipun ada beberapa kekurangan yang perlu dibenahi, Ketua KONI Flores Timur, Yitno Wada, optimis kelima belas lapangan tersebut dapat siap dalam waktu sekitar lima bulan.
Lebih dari sekadar turnamen sepak bola, Flores Timur ingin menghadirkan pengalaman budaya yang mendalam bagi seluruh peserta. Konsep "live in" akan diterapkan, di mana tim-tim peserta akan diajak berbaur dan merasakan kehidupan masyarakat di desa-desa Adonara. Hal ini diharapkan tidak hanya memperkuat suasana kekeluargaan, tetapi juga menjadi sarana promosi budaya dan pariwisata Flores Timur kepada para tamu dari seluruh NTT.
Turnamen El Tari Memorial Cup sendiri memiliki sejarah panjang di Nusa Tenggara Timur. Digagas oleh Gubernur El Tari pada tahun 1969 sebagai upaya menyatukan masyarakat NTT melalui olahraga, ETMC telah menjadi agenda olahraga terbesar dan paling bergengsi di NTT. Flores Timur sendiri memiliki catatan sejarah manis di turnamen ini, pernah menjadi juara pada musim perdana El Tari Cup tahun 1969, yang kala itu masih bernama El Tari Cup.
Tantangan dan Harapan di Balik Gelaran Akbar
Meski optimisme menyelimuti persiapan ETMC 2026, tantangan tetap ada. Kesiapan infrastruktur, logistik, hingga pendanaan menjadi perhatian serius. Pemerintah daerah tengah mencari berbagai solusi pembiayaan untuk memastikan gelaran ini berjalan sukses, terutama mengingat kondisi keuangan daerah yang terdampak pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD).
Namun, semangat untuk menyukseskan ETMC 2026 di Flores Timur tidak surut. Antusiasme masyarakat sudah mulai terasa sejak Flores Timur ditetapkan sebagai tuan rumah. Kolaborasi antara pemerintah daerah, KONI, dan berbagai pihak terkait menjadi kunci utama. Penampilan massal 500 penari Hedung di pembukaan bukan hanya sekadar atraksi budaya, tetapi sebuah pernyataan tegas: Flores Timur siap menjadi tuan rumah yang luar biasa, memadukan gairah sepak bola dengan kekayaan tradisi yang memukau. Sebuah perpaduan yang menjanjikan pengalaman tak terlupakan bagi semua yang hadir.
#ETMC 2026 #Flores Timur #Tarian Hedung