BUGALIMA - Semangat sepak bola kembali membahana di Nusa Tenggara Timur. Kabupaten Flores Timur kini telah ditetapkan sebagai tuan rumah El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXV tahun 2026, sebuah kehormatan sekaligus tantangan besar bagi Bumi Nagi. Persiapan pun telah digeber, menandai dimulainya rangkaian acara menuju turnamen akbar yang dinanti-nantikan oleh para pecinta sepak bola di seluruh provinsi.
Sebuah keputusan strategis telah diambil dalam rapat yang dipimpin langsung oleh Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen. Wakil Bupati, Ignasius Boli, dipercaya memegang tampuk kepemimpinan sebagai Ketua Panitia ETMC Flores Timur 2026. Penunjukan ini bukan tanpa alasan, mengingat rekam jejak dan kapasitas Ignas Boli dalam mengorganisir berbagai kegiatan di lingkungan pemerintahan daerah. Kepercayaan ini diharapkan menjadi modal awal yang kuat untuk memastikan roda kepanitiaan berjalan lancar dan efektif.
| Sumber: Pixabay |
Rapat perdana yang digelar di ruang rapat Bupati Flores Timur pada Selasa, 9 Juni 2026, menjadi momen penting untuk membahas berbagai aspek krusial. Selain pemilihan ketua panitia, agenda utama lainnya adalah perumusan komposisi kepanitiaan secara garis besar. Meskipun susunan lengkapnya masih dalam tahap finalisasi, sinyal positif sudah terpancar dari berbagai elemen yang dilibatkan. Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Flores Timur, Yitno Wada, turut memberikan pandangannya mengenai kebutuhan vital yang harus menjadi perhatian serius panitia.
Membangun Fondasi Turnamen Berkualitas
Yitno Wada menggarisbawahi beberapa poin krusial yang menjadi fondasi penyelenggaraan ETMC 2026 yang berkualitas. Kesiapan infrastruktur, terutama lapangan pertandingan, menjadi prioritas utama. Rencananya, babak penyisihan akan digelar di dua lapangan yang berlokasi di Kota Larantuka. Sementara itu, pertandingan yang lebih krusial, mulai dari babak 16 besar hingga final, akan dipusatkan di Lapangan Ape Buan yang terletak di Pulau Adonara. Hal ini menunjukkan adanya strategi zonasi lapangan yang disesuaikan dengan tahapan turnamen.
Namun, Yitno Wada juga tidak menutup mata terhadap potensi kekurangan yang mungkin ada di setiap lapangan. Dengan waktu persiapan yang masih tersedia sekitar lima bulan sebelum turnamen dimulai pada pertengahan November 2026, ia optimis bahwa kekurangan tersebut dapat diatasi dan lapangan dapat dipersiapkan dengan baik.
Tak hanya lapangan, aspek penting lainnya yang menjadi sorotan adalah kesiapan akomodasi bagi para peserta, akses transportasi yang memadai, sistem keamanan yang terjamin, serta ketersediaan pusat kuliner yang nyaman. Semua ini dirancang untuk memastikan kenyamanan dan kelancaran bagi tim-tim yang datang dari luar daerah, serta bagi para suporter yang turut memeriahkan ajang ini.
Visi Bupati Doni Dihen: Persiapan Matang, Pembukaan Spektakuler
Bupati Antonius Doni Dihen tidak tinggal diam melihat persiapan yang mulai berjalan. Beliau secara tegas meminta seluruh panitia untuk bekerja maksimal dan melakukan persiapan secara matang. "Seluruh persiapan harus dilakukan secara maksimal sehingga mampu menghadirkan perhelatan olahraga yang berkualitas," tegasnya. Beliau ingin ETMC 2026 di Flores Timur tidak hanya sekadar terlaksana, tetapi meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh pihak yang terlibat.
Lebih dari itu, Bupati Doni Dihen memiliki visi besar untuk membuat upacara pembukaan ETMC 2026 menjadi momen yang tak terlupakan. Rencananya, pembukaan akan diwarnai dengan penampilan Tari Hedung secara massal, yang melibatkan sekitar 200 hingga 500 penari. Targetnya, atraksi budaya spektakuler ini tidak hanya menjadi suguhan visual yang memukau, tetapi juga berpeluang memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Jika terwujud, ini akan menjadi salah satu pembukaan ETMC paling megah sepanjang sejarah penyelenggaraan turnamen.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur juga berencana untuk melibatkan masyarakat secara langsung dalam berbagai aspek penyelenggaraan. Konsep "live in" di desa-desa Adonara akan diterapkan, di mana tim peserta akan ditempatkan di sejumlah desa untuk merasakan pengalaman hidup bersama masyarakat setempat. Ini adalah upaya untuk mempererat tali persaudaraan dan memberikan pengalaman budaya yang otentik kepada para pemain.
Tantangan dan Optimisme di Tengah Keterbatasan
Meskipun semangat persiapan membara, tidak dapat dipungkiri adanya tantangan, terutama terkait keterbatasan anggaran. Kabar yang beredar sebelumnya menyebutkan bahwa Flores Timur sempat mengalami kendala anggaran, bahkan sempat dikabarkan batal menjadi tuan rumah. Namun, dengan ditunjuknya Ignas Boli sebagai ketua panitia dan adanya dorongan kuat dari Bupati Doni Dihen, optimisme kembali tumbuh.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk mencari solusi terbaik, termasuk menjalin kolaborasi dengan berbagai kepala daerah lain yang timnya akan berpartisipasi dalam ETMC 2026. Dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat menutupi kekurangan dana yang mungkin ada, sehingga turnamen akbar ini dapat berjalan sesuai harapan.
ETMC bukan sekadar ajang kompetisi sepak bola, melainkan sebuah momentum kebangkitan olahraga di Nusa Tenggara Timur. Penyelenggaraan di Flores Timur diharapkan tidak hanya melahirkan juara-juara baru di lapangan hijau, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi lokal, mempromosikan pariwisata daerah, dan mempererat persatuan antarwarga NTT. Dengan kepemimpinan yang kuat, persiapan yang matang, dan dukungan masyarakat, Flores Timur optimis dapat menyajikan ETMC 2026 yang sukses dan berkesan.
Source: afb tv kupang
#ETMC 2026 #Flores Timur #Sepak Bola NTT