BUGALIMA - Bumi NTT kembali bergemuruh. Kali ini, sorotan tertuju pada Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pos Pengamatan Gunung (PPG) Lewotobi Laki-Laki melaporkan bahwa aktivitas vulkanik gunung ini terpantau cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir. Laporan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm bagi kita semua untuk waspada terhadap potensi bahaya yang mengintai.
Sejarah Kelam dan Peringatan yang Terus Berulang
| Sumber: Pixabay |
Gunung Lewotobi Laki-Laki, dengan ketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut, bukanlah pendatang baru dalam urusan letusan. Sejarah mencatat, gunung ini memiliki dua puncak kembar yang dikenal sebagai Gunung Lewotobi Perempuan dan Gunung Lewotobi Laki-Laki. Namun, yang lebih aktif dan kerap menunjukkan keganasannya adalah Lewotobi Laki-Laki. Puncak ini pernah memasuki status awas pada Januari 2024 lalu, diikuti dengan erupsi dahsyat pada November 2024 yang memuntahkan puing lava hingga merusak rumah penduduk dan merenggut nyawa. Catatan kelam ini menjadi pengingat betapa pentingnya mematuhi peringatan dini dari para ahli geologi.
Aktivitas Terkini: Gemuruh yang Semakin Intens
Data terbaru dari PPG Lewotobi Laki-Laki menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan. Pada awal Juni 2026, gunung ini tercatat mengalami erupsi berkali-kali. Salah satu erupsi pada 5 Juni 2026 bahkan menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 1,5 kilometer di atas puncak, disertai suara gemuruh yang cukup kuat. Peningkatan ini tidak berhenti di situ. Pada 8 Juni 2026, dalam rentang waktu kurang dari sembilan jam, gunung ini tercatat mengalami enam kali erupsi dengan kolom abu mencapai ketinggian hingga 2.000 meter di atas puncak. Bahkan, dalam satu hari terakhir, tercatat sebanyak 121 kali gempa vulkanik. Data kegempaan yang terus meningkat ini mengindikasikan adanya suplai magma baru yang bergerak menuju permukaan.
Dampak dan Potensi Bahaya
Aktivitas vulkanik yang tinggi ini tentu membawa konsekuensi. Kolom abu yang membumbung tinggi, berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal, bergerak ke arah barat dan barat laut. Sebaran abu vulkanik ini berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan dan tentunya berdampak pada kesehatan pernapasan warga jika tidak menggunakan pelindung seperti masker. Selain itu, potensi ancaman lain yang tidak boleh diabaikan adalah banjir lahar hujan. Jika terjadi hujan lebat di puncak, daerah aliran sungai yang berhulu di gunung ini, seperti di Nawakote, Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen, patut diwaspadai.
Status dan Rekomendasi yang Harus Diperhatikan
Menyikapi peningkatan aktivitas ini, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menaikkan status Gunung Lewotobi Laki-laki ke Level IV atau "AWAS". Status ini adalah level tertinggi yang menunjukkan bahwa gunung berapi tersebut berpotensi mengalami erupsi.
Oleh karena itu, masyarakat dan wisatawan dihimbau untuk mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan: * Tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Beberapa sumber bahkan menyebutkan radius 6 hingga 7 kilometer. * Mewaspadai potensi banjir lahar hujan di daerah aliran sungai yang berhulu di puncak gunung. * Menggunakan masker jika berada di area yang terdampak hujan abu vulkanik untuk melindungi saluran pernapasan. * Tetap tenang dan mengikuti arahan dari pemerintah daerah serta tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
Tantangan di Tengah Alam yang Dinamis
Fenomena alam seperti erupsi gunung berapi selalu menjadi pengingat akan kekuatan alam yang dahsyat. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki, kewaspadaan harus menjadi prioritas utama. Memahami sejarah, memantau informasi terkini dari sumber terpercaya, dan yang terpenting, mematuhi setiap arahan dari pihak berwenang adalah kunci untuk menjaga keselamatan. Alam memang dinamis, namun dengan pengetahuan dan kesiapsiagaan, kita bisa meminimalkan risiko dan hidup berdampingan dengan potensi bencana.
Source: ANTARA News
#Gunung Lewotobi #Aktivitas Vulkanik #Bencana Alam