BUGALIMA - Alam kembali menunjukkan kekuatannya. Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali erupsi, melunturkan abu vulkanik hingga setinggi 1,5 kilometer ke udara pada Jumat (5/6/2026) malam. Erupsi susulan ini menjadi pengingat betapa rentannya kita di hadapan kekuatan alam yang dahsyat, sekaligus memunculkan kembali kekhawatiran bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah tersebut.
Peristiwa ini bukan kali pertama bagi Gunung Lewotobi Laki-laki. Frekuensi erupsi yang terus terjadi menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan kita dalam menghadapi bencana geologi yang berulang. Data historis menunjukkan bahwa gunung api ini telah mengalami 23 kali erupsi sepanjang sejarah, bahkan letusan yang tercatat jelas terjadi pada Mei 1861. Namun, erupsi pada November 2024 lalu meninggalkan luka mendalam, dengan korban jiwa, luka-luka, dan kerusakan fasilitas yang tak terhitung. Kali ini, kolom abu yang membumbung tinggi menjadi indikator aktivitas yang signifikan, memaksa otoritas terkait untuk kembali mengeluarkan peringatan dan rekomendasi keselamatan.
| Sumber: Pixabay |
Aktivitas Vulkanik yang Meningkat
Berdasarkan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Api Lewotobi Laki-laki, erupsi pada Jumat malam tercatat terjadi pada pukul 18.22 WITA, dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 1.500 meter atau 1,5 kilometer di atas puncak. Kolom abu yang teramati berwarna kelabu pekat ini bergerak condong ke arah barat hingga barat laut. Suara gemuruh yang cukup kuat juga dilaporkan menyertai letusan ini, menambah kesan mencekam bagi warga yang mendengarnya. Secara teknis, erupsi ini terekam dalam seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 40,7 milimeter dan durasi sekitar dua menit 13 detik.
Peningkatan aktivitas ini membuat status Gunung Lewotobi Laki-laki tetap berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi pun terus memantau perkembangan aktivitas gunung api ini, memberikan rekomendasi dan imbauan demi keselamatan masyarakat.
Rekomendasi dan Imbauan Keselamatan
Mengingat potensi bahaya yang ditimbulkan oleh erupsi, pihak berwenang telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi keselamatan yang wajib dipatuhi. Masyarakat yang berada di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki, serta wisatawan yang berkunjung ke wilayah tersebut, diminta untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius lima kilometer dari pusat semburan. Peningkatan radius pembatasan hingga 8 kilometer diberlakukan untuk sektor barat daya hingga barat laut.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dari pemerintah daerah, dan tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya. Ini penting untuk menghindari kepanikan yang tidak perlu dan memastikan bahwa informasi yang diterima adalah akurat.
Ancaman Banjir Lahar dan Abu Vulkanik
Potensi bahaya tidak hanya berhenti pada semburan abu vulkanik. Badan Geologi juga mengingatkan warga untuk mewaspadai potensi terjadinya banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki. Ancaman ini menjadi lebih nyata, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah puncak. Daerah-daerah seperti Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote perlu meningkatkan kewaspadaan.
Bagi masyarakat yang terdampak hujan abu vulkanik, penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu. Abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan mata, sehingga perlindungan diri menjadi sangat penting.
Dampak Erupsi di Masa Lalu dan Kini
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, terutama yang terjadi pada November 2024, telah menunjukkan dampak yang signifikan. Kejadian tersebut menyebabkan 10 orang tewas, 53 luka-luka, dan ribuan rumah rusak. Fasilitas umum seperti sekolah, asrama, gereja, hingga kantor bank dan polisi juga mengalami kerusakan. Lebih dari 10.000 jiwa terdampak dan ribuan lainnya terpaksa mengungsi. Bahkan, abu vulkanik dari erupsi sebelumnya dilaporkan telah mencapai Pulau Lombok yang berjarak sekitar 1.000 km.
Situasi ini menimbulkan tantangan besar bagi pemerintah daerah dalam penanganan bencana, mulai dari evakuasi, distribusi logistik, hingga pemulihan pasca-bencana. Status tanggap darurat yang diberlakukan pun bisa berlangsung lama, menunjukkan skala dampak yang ditimbulkan.
Dalam konteks erupsi terkini, aktivitas penerbangan juga turut terpengaruh. Bandara Frans Seda Maumere di Kabupaten Sikka terpaksa ditutup pada Jumat, 5 Juni 2026, hingga Sabtu, 6 Juni 2026, pukul 06.00 WITA, akibat abu vulkanik yang menutup ruang udara. Lima jadwal penerbangan dibatalkan, menyebabkan ratusan calon penumpang gagal berangkat dan harus mencari alternatif lain.
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki adalah pengingat akan aktivitas geologi yang dinamis di Indonesia. Sebagai negara yang berada di cincin api pasifik, kesiapsiagaan, informasi yang akurat, dan kepatuhan terhadap arahan pihak berwenang menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman bencana alam.
Source: BALIPOST.com
#Gunung Lewotobi #Erupsi #Flores Timur