Gunung Lewotobi-Lewotolok Meletus Nyaris Bersamaan, Bandara Frans Seda Ditutup, Penerbangan Terganggu

BUGALIMA - Langit Flores Timur kembali diwarnai kelabu. Kali ini bukan karena mendung yang menggantung, melainkan kepulan asap dan debu vulkanik dari dua gunung berapi kembar yang berdenyut nyaris bersamaan: Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Lewotobi Perempuan, atau yang kerap disebut Lewotolok. Fenomena alam yang spektakuler namun juga mengkhawatirkan ini tidak hanya menyajikan pemandangan dramatis, tetapi juga membawa dampak signifikan, salah satunya adalah penutupan Bandara Frans Seda di Maumere, Nusa Tenggara Timur. Keputusan penutupan bandara ini sontak mengganggu aktivitas penerbangan, membatalkan jadwal, dan membuat ratusan penumpang harus menunda rencana perjalanan mereka.

Dua Gunung, Satu Nasib Kebencanaan Gunung Lewotobi, yang terletak di bagian tenggara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, memang memiliki keunikan tersendiri. Ia terdiri dari dua puncak yang berdekatan, yakni Lewotobi Laki-laki (1.584 mdpl) dan Lewotobi Perempuan (1.703 mdpl). Masyarakat lokal kerap menganggap kedua gunung ini sebagai sepasang suami istri, sebuah personifikasi yang mencerminkan kedekatan geografis dan geologis mereka. Namun, keintiman alam ini kini berujung pada serangkaian peristiwa erupsi yang nyaris bersamaan, menorehkan kembali sejarah keganasan alam di bumi NTT.

Sumber: Pixabay

Sejarah mencatat bahwa Gunung Lewotobi, terutama Lewotobi Laki-laki, memiliki riwayat erupsi yang cukup panjang. Sejak abad ke-19, gunung ini telah beberapa kali menunjukkan aktivitasnya, mulai dari letusan abu hingga semburan material vulkanik yang lebih dahsyat. Bahkan, pada November 2024, erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki sempat menelan korban jiwa dan menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi. Aktivitas yang terus menerus ini menunjukkan bahwa Lewotobi Laki-laki adalah gunung yang lebih dinamis dibandingkan kembarannya, Lewotobi Perempuan, yang tercatat hanya meletus dua kali sepanjang sejarah.

Namun, kali ini, kedua gunung ini seolah menunjukkan kekompakan yang berbeda. Fenomena meletusnya kedua gunung ini secara nyaris bersamaan bukanlah hal yang aneh bagi para ahli vulkanologi. Aktivitas magmatik di bawah permukaan bumi bisa saja memicu pergerakan yang memengaruhi kedua sistem gunung berapi yang berdekatan. Meskipun demikian, dampaknya terasa begitu nyata.

Bandara Frans Seda Lumpuh, Penerbangan Terganggu Dampak paling langsung dan terasa dari erupsi simultan ini adalah penutupan Bandara Frans Seda Maumere. Bandara yang menjadi gerbang udara utama di wilayah tersebut harus menghentikan operasionalnya demi keselamatan penerbangan. Abu vulkanik yang terlontar ke udara dapat membahayakan mesin pesawat dan mengurangi jarak pandang pilot, menciptakan kondisi yang sangat berisiko bagi aktivitas penerbangan.

Penutupan bandara ini berujung pada pembatalan sejumlah penerbangan, baik yang tiba maupun berangkat dari Maumere. Ratusan penumpang harus gigit jari, terpaksa menjadwalkan ulang penerbangan atau bahkan mengurus pengembalian dana tiket. Situasi ini tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan dan kerugian bagi para pelancong serta dunia bisnis yang bergantung pada mobilitas udara. Bandara Frans Seda bukan satu-satunya yang terdampak; Bandara Gewayantana Larantuka juga sempat ditutup akibat erupsi Gunung Ile Lewotolok yang juga aktif.

Upaya Mitigasi dan Peringatan Menghadapi situasi yang dinamis ini, pihak berwenang terus melakukan upaya mitigasi dan memberikan peringatan kepada masyarakat. Pos Pengamatan Gunung Api Lewotobi Laki-laki secara rutin memantau aktivitas kedua gunung tersebut. Status aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki sendiri saat ini berada pada Level III (Siaga).

Masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius tertentu dari pusat erupsi, biasanya sekitar 5 kilometer, guna menghindari potensi bahaya seperti guguran material vulkanik, lontaran batu, hingga awan panas. Selain itu, peringatan mengenai potensi lahar hujan juga terus digaungkan, terutama bagi warga yang bermukim di daerah aliran sungai yang berhulu di puncak gunung.

Bagi mereka yang terdampak hujan abu vulkanik, penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut sangat direkomendasikan untuk melindungi sistem pernapasan. Informasi yang akurat dan terpercaya menjadi kunci penting agar masyarakat tidak panik dan dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.

Melihat Kembali Sejarah dan Menghadapi Masa Depan Peristiwa erupsi Gunung Lewotobi yang nyaris bersamaan ini mengingatkan kita akan kekuatan alam yang luar biasa. Sejarah panjang letusan gunung berapi di Indonesia, termasuk di Flores Timur, adalah bukti bahwa bumi ini selalu bergerak dan berubah. Kekerabatan dua gunung kembar ini, Lewotobi Laki-laki dan Perempuan, mungkin menjadi metafora bagi masyarakat Flores itu sendiri, yang hidup berdampingan dengan potensi bencana namun juga memiliki ketangguhan luar biasa.

Penutupan Bandara Frans Seda adalah konsekuensi logis dari fenomena alam ini. Namun, di balik gangguan tersebut, ada harapan bahwa kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan akan terus meningkat. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menghormati kekuatan alam dan terus beradaptasi demi kehidupan yang lebih aman.

Source: detikcom



#Letusan Gunung #Bandara Ditutup #Flores Timur

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama