BUGALIMA - Flores Timur, sebuah permata di Nusa Tenggara Timur, kini tengah dirundung masalah yang tak kunjung usai: kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Situasi ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan sebuah keprihatinan mendalam yang disuarakan langsung oleh warganya. Selama kurang lebih tiga pekan terakhir, penduduk Flores Timur harus berjuang ekstra keras hanya untuk mendapatkan BBM bersubsidi. Di tengah keputusasaan ini, pemandangan yang paling menyakitkan mata adalah praktik pengisian BBM ke dalam jeriken yang seolah berjalan tanpa hambatan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), padahal kuota pengisian telah dibatasi oleh Pertamina.
Bayangkan, Anda telah mengantre berjam-jam, berpanas-panasan, hanya untuk mengisi tangki kendaraan Anda sekadarnya. Namun, di sisi lain, terlihat jelas bagaimana tangki-tangki jeriken berukuran besar dengan mudahnya diisi penuh. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: ke mana sebenarnya BBM bersubsidi ini dialirkan? Warga yang seharusnya menjadi prioritas utama, kini merasa terpinggirkan. Protes pun tak terhindarkan. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk segera turun tangan dan membenahi sistem distribusi yang jelas-jelas carut-marut ini. Jika tidak segera ditangani, kekhawatiran akan adanya pihak-pihak yang memanfaatkan kelangkaan BBM untuk meraup keuntungan pribadi menjadi semakin nyata.
| Sumber: Pixabay |
Yohanes Nandri (30), salah seorang warga Larantuka, dengan nada prihatin mengungkapkan, "Mau minyak (BBM) langka atau tidak, tetap saja mereka lancar isi ke jeriken. Coba ini (distribusi) diatur baik-baik supaya lebih tertib, yang susah nanti kami masyarakat." Perkataan Yohanes bukanlah sekadar keluhan semata. Ia sendiri telah menghabiskan dua jam antrean di SPBU setempat, dan pada Senin siang itu, antrean kendaraan masih memanjang hingga ratusan meter di tiga SPBU yang beroperasi di Kota Larantuka. Kelangkaan BBM ini, menurut beberapa sumber internal SPBU yang enggan disebutkan namanya, sebenarnya tidak sepenuhnya karena pasokan yang habis. "Kalau dibilang langka, sebenarnya tidak juga, masih bisa diatasi asalkan batasi yang jeriken-jeriken ini," kata mereka. Ini mengindikasikan bahwa masalah utamanya terletak pada tingginya kuota pembelian melalui jeriken, ditambah lagi dengan adanya pengurangan kuota pasokan BBM dari Pertamina ke seluruh SPBU.
Akar Masalah Distribusi BBM di Flores Timur
Fenomena kelangkaan BBM di Flores Timur ini bukanlah kejadian baru. Pulau Flores secara umum kerap dilanda krisis serupa dari tahun ke tahun. Kerentanan sistem distribusi energi di wilayah timur Indonesia ini memang menjadi sorotan tajam. Ketergantungan pada armada kapal tanker untuk mendistribusikan BBM ke wilayah terpencil seperti Flores membuatnya sangat rentan terhadap gangguan. Ketika sebuah kapal mengalami kerusakan, atau bersamaan dengan faktor cuaca buruk seperti gelombang tinggi di perairan Nusa Tenggara, seluruh alur distribusi bisa terganggu total. Ibarat sebuah rantai, satu mata rantai yang lemah saja sudah cukup untuk melumpuhkan suplai ke seluruh pulau.
Bahkan, Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Abdul Halim, pernah menegaskan bahwa pembelian BBM subsidi menggunakan jeriken hanya diperbolehkan jika memiliki surat rekomendasi dari pemerintah daerah. Hal ini tertuang dalam Peraturan BPH Migas Nomor 17 Tahun 2019 tentang Penerbitan Surat Rekomendasi Perangkat Daerah Untuk Pembelian Jenis BBM Tertentu (JBT). Surat rekomendasi ini biasanya diberikan untuk keperluan spesifik seperti nelayan atau petani. Namun, di lapangan, aturan ini seolah tak berlaku. Pengisian ke jeriken terus saja terjadi, bahkan dalam skala besar, yang jelas-jelas menyalahi aturan dan prinsip distribusi BBM bersubsidi.
Lebih lanjut, Pertamina sendiri memiliki aturan mengenai pembelian BBM menggunakan jeriken. Jeriken plastik umumnya tidak dibolehkan karena berkaitan dengan potensi bahaya listrik statis yang dapat memicu api. Pengisian BBM jenis gasoline series seperti Pertalite dan Pertamax, jika menggunakan jeriken, harus terbuat dari bahan logam. Sementara untuk jenis diesel seperti Dexlite dan Pertamina Dex, bisa menggunakan jeriken plastik HDPE. Namun, di Flores Timur, aturan-aturan ini seperti diabaikan begitu saja.
Dampak Kelangkaan BBM: Bukan Sekadar Antrean Panjang
Dampak kelangkaan BBM ini meluas jauh melampaui sekadar antrean panjang di SPBU. Ia merambah ke berbagai aspek kehidupan masyarakat Flores Timur. Aktivitas transportasi umum menjadi terhambat, distribusi barang-barang kebutuhan pokok pun ikut terganggu, dan yang paling memberatkan, biaya logistik melonjak drastis. Bagi destinasi wisata kelas dunia seperti Labuan Bajo, kelangkaan BBM berpotensi merusak citra pariwisata yang sedang digalakkan. Sementara itu, di wilayah pedalaman, warga terpaksa membeli BBM dari pengecer dengan harga yang bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari harga resmi.
Kenaikan harga BBM eceran ini memang sangat memprihatinkan. Di beberapa titik, harga Pertalite di tingkat pengecer dilaporkan naik hingga menembus Rp30 ribu per botol, dari harga normal sekitar Rp20 ribu. Parahnya lagi, volume BBM dalam botol eceran itu seringkali dikurangi, nyaris separuh badan botol. Ada laporan bahkan harga bisa mencapai Rp50 ribu per botol ukuran 1,5 liter di Kabupaten Nagekeo, atau Rp40 ribu per liter di Bajawa, Kabupaten Ngada. Kondisi ini jelas sangat memberatkan masyarakat kecil yang bergantung pada BBM untuk aktivitas sehari-hari, baik untuk bekerja maupun untuk kebutuhan rumah tangga.
Solusi dan Harapan Warga
Menghadapi situasi yang kian pelik ini, warga Flores Timur berharap ada tindakan nyata dari pemerintah dan pihak terkait. Mereka mendesak agar sistem distribusi BBM diperbaiki menjadi lebih teratur dan transparan. Pengawasan yang lebih ketat terhadap praktik pengisian BBM ke jeriken di SPBU juga mutlak diperlukan. Aparat penegak hukum diminta untuk tidak tinggal diam dan melakukan pemeriksaan menyeluruh guna mencegah terjadinya penimbunan dan praktik ilegal lainnya yang merugikan masyarakat.
Pihak Pertamina juga diharapkan dapat meninjau kembali sistem kuota pasokan dan distribusinya agar lebih efektif menjangkau seluruh wilayah Flores Timur, tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat lokal. Mungkin, sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah duduk bersama, mengevaluasi kerentanan sistem distribusi energi di wilayah timur Indonesia, dan mencari solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan. Pembangunan infrastruktur logistik yang lebih kuat, diversifikasi moda transportasi BBM, serta peningkatan stok cadangan di wilayah-wilayah strategis bisa menjadi langkah awal yang perlu dipertimbangkan. Kelangkaan BBM di Flores Timur bukan hanya masalah teknis, melainkan cerminan dari kelemahan sistemik yang harus segera dibenahi demi kesejahteraan masyarakat.
Source: https://ekorantt.com/warga-soroti-pengisian-ke-jeriken-saat-kelangkaan-bbm-di-flores-timur/
#BBM Langka #Flores Timur #Pengisian Jeriken