Kapolres Flores Timur: Adat dan Humanisme, Kunci Perdamaian Konflik Perbatasan Adonara Timur

BUGALIMA - Di tengah riuh rendah persoalan batas wilayah yang kerap memicu api konflik, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Tenggara, menunjukkan sebuah teladan penanganan yang patut diacungi jempol. Khususnya di Kecamatan Adonara Timur, di mana Polres Flores Timur, di bawah komando Kapolres AKBP Adhitya Octorio Putra, S.I.K., dengan tegas mengedepankan pendekatan adat dan humanis untuk meredam gejolak yang terjadi. Ini bukan sekadar berita penegakan hukum semata, melainkan sebuah narasi tentang bagaimana kearifan lokal dan sentuhan kemanusiaan dapat menjadi jembatan kokoh untuk membangun kembali harmoni di tengah masyarakat yang terluka akibat perselisihan berkepanjangan.

Konflik yang membayangi Dusun Bele, Desa Waiburak, dan Dusun Lewonara, Desa Narasaosina, Adonara Timur, bukanlah bara yang baru tersulut. Sebagaimana diungkapkan oleh Kapolres Flores Timur sendiri, persoalan batas wilayah ini telah mengakar cukup lama, menjadi konflik laten yang membutuhkan penanganan ekstra bijaksana. Ia menekankan bahwa penyelesaiannya tidak bisa hanya terpaku pada lorong hukum formal, melainkan harus merangkul nilai-nilai adat dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur masyarakat Adonara.

"Konflik ini bukan sekadar persoalan yang muncul hari ini, tetapi memiliki akar sejarah yang panjang terkait batas wilayah. Oleh karena itu, penyelesaiannya tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum, melainkan juga harus mengedepankan nilai-nilai adat dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur masyarakat Adonara," ujar AKBP Adhitya Octorio Putra. Pernyataan ini sungguh menggugah. Di era modern yang seringkali didominasi oleh logika positivistik dan penegakan hukum yang kaku, Kapolres Adhitya justru menarik kita kembali pada akar budaya. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap sengketa, terutama yang melibatkan komunitas dengan sejarah panjang, terdapat dimensi sosial dan budaya yang tak bisa diabaikan.

Kearifan Lokal: Fondasi Persaudaraan Lamaholot

Kapolres Adhitya tidak asal bicara. Ia merujuk pada kekayaan budaya masyarakat Adonara, khususnya tradisi Lamaholot yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan atau "kaka ari." Nilai-nilai inilah yang diyakini menjadi fondasi penting dalam membangun kembali hubungan yang harmonis di antara warga. Ketika persaudaraan dijunjung tinggi, rasa saling memiliki dan kepedulian akan tumbuh subur, meredam ego dan keinginan untuk menang sendiri yang seringkali menjadi pemicu pertikaian.

"Kami percaya para tokoh adat memiliki peran yang sangat penting dalam memulihkan hubungan yang sempat renggang. Melalui dialog adat, musyawarah, dan penghormatan terhadap mekanisme hukum adat, kami optimistis penyelesaian yang bermartabat dapat tercapai sehingga perdamaian dapat terwujud secara berkelanjutan," katanya. Sungguh sebuah keyakinan yang kuat pada kekuatan para tetua adat. Mereka adalah penjaga warisan leluhur, pemegang kunci kearifan lokal, dan sosok yang dihormati oleh masyarakat. Melibatkan mereka dalam proses mediasi bukan hanya langkah strategis, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap tatanan sosial yang ada.

Pendekatan Humanis: Jembatan Empati dan Pengertian

Selain mengandalkan kearifan adat, Polres Flores Timur juga secara konsisten mengedepankan pendekatan humanis. Kehadiran aparat keamanan, yang bersinergi dengan TNI dan Kompi 1 Batalyon B Satuan Brimob Polda NTT, tidak hanya bertujuan untuk menjaga ketertiban dan keamanan, tetapi juga untuk memberikan rasa tenang dan membuka ruang dialog bagi masyarakat. Ini adalah esensi dari kepolisian yang humanis: hadir bukan sebagai penegak hukum yang menakutkan, tetapi sebagai pelayan masyarakat yang mengayomi dan memfasilitasi.

Dalam setiap interaksi, personel di lapangan selalu mengingatkan untuk menjaga kedamaian dan saling mengasihi. Pesan ini sederhana namun sangat mendalam. Kekerasan, sebagaimana ditegaskan oleh pihak kepolisian, tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru hanya akan menabur benih dendam dan masalah baru di kemudian hari. Pendekatan humanis ini menciptakan atmosfer yang kondusif untuk dialog, di mana setiap pihak merasa didengarkan, dipahami, dan dihargai.

Sinergi Lintas Sektor: Kolaborasi untuk Perdamaian Berkelanjutan

Upaya meredam konflik di Adonara Timur ini tidak dilakukan secara sporadis. Pemerintah daerah, bersama dengan unsur TNI dan Polri, telah memfasilitasi berbagai upaya penyelesaian. Salah satunya adalah melalui sarasehan penanganan konflik komunal. Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan pemahaman bahwa penyelesaian konflik yang kompleks membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari aparat penegak hukum, pemerintah daerah, hingga tokoh adat dan masyarakat.

Tantangan dan Harapan

Meskipun upaya pendekatan adat dan humanis ini menunjukkan hasil yang positif, tantangan tetap ada. Sejarah konflik yang panjang di Adonara Timur, yang bahkan telah menelan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan properti, menunjukkan betapa mendalamnya akar persoalan yang perlu diurai. Namun, dengan kepemimpinan yang bijaksana dari Kapolres Adhitya Octorio Putra, serta dukungan dari seluruh elemen masyarakat, harapan untuk terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di Adonara Timur tetap membumbung tinggi.

Pendekatan yang dikedepankan Polres Flores Timur ini menjadi bukti nyata bahwa penegakan hukum tidak harus selalu berwajah keras. Ia bisa, dan seharusnya, berpadu dengan kearifan lokal dan sentuhan kemanusiaan untuk mencapai resolusi yang lebih damai dan lestari. Kasus Adonara Timur ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang juga bergulat dengan konflik serupa, bahwa jalan menuju perdamaian seringkali terbentang pada pemahaman mendalam akan budaya dan empati terhadap sesama.

Source: https://tribratanews.ntt.polri.go.id/kapolres-flores-timur-kedepankan-pendekatan-adat-dan-humanis-redam-konflik-perbatasan-di-adonara-timur/



#konflik perbatasan #Flores Timur #pendekatan adat

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama