BUGALIMA - Di ufuk timur Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kabupaten Flores Timur, sebuah gerakan luar biasa sedang bergulir. Bukan sekadar aksi tanam-menanam biasa, melainkan sebuah perpaduan antara spiritualitas keagamaan dan kepedulian terhadap alam semesta. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Flores Timur baru-baru ini menggelar aksi penanaman 450 fragmen karang di Pantai Batumea, Kelurahan Larantuka. Sebuah langkah monumental yang bukan hanya mempercantik lanskap bawah laut, tetapi juga memperkuat konsep "ekoteologi" yang semakin relevan di era krisis lingkungan ini.
Ekoteologi: Kala Iman Bertemu Alam Semesta
| Sumber: Pixabay |
Ekoteologi. Mungkin istilah ini masih terdengar asing bagi sebagian orang. Namun, di Flores Timur, Kementerian Agama tidak memandangnya sebagai konsep teoritis semata. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Flores Timur, Bapak Yosef Aloysius Babaputra, menegaskan bahwa keterlibatan Kemenag dalam kegiatan konservasi laut ini adalah bentuk nyata penguatan ekoteologi. "Kementerian Agama bukan hanya mengurus persoalan agama dalam arti sempit," ujarnya dengan mantap. "Kami juga memiliki tanggung jawab membangun kesadaran bersama untuk merawat lingkungan hidup sebagai bagian dari pengamalan iman." Pernyataan ini sungguh menggugah. Ini menunjukkan pergeseran paradigma bahwa menjaga kelestarian alam bukanlah urusan teknis semata, melainkan sebuah panggilan moral dan spiritual yang bersumber dari ajaran agama itu sendiri. Iman yang mendalam seyogianya tidak hanya membawa manusia lebih dekat kepada Sang Pencipta, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap ciptaan-Nya, termasuk laut beserta isinya.
Aksi Nyata di Pantai Batumea: Kolaborasi Lintas Elemen
Kegiatan penanaman 450 fragmen karang ini bukanlah inisiatif tunggal. Ini adalah hasil kolaborasi apik antara berbagai elemen masyarakat. Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) San Dominggo dan Tim Romantika Larantuka dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2026 menjadi motor penggerak utamanya. Kemenag Flores Timur, melalui Kelompok Kerja Penyuluh Agama Katolik, turut serta bersama Pemerintah Kecamatan Larantuka, Pemerintah Kelurahan Larantuka, Karang Taruna, Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan, Orang Muda Katolik Paroki Katedral Larantuka, tokoh masyarakat, dan warga pesisir. Sekitar 70 peserta yang terlibat dalam acara ini menunjukkan betapa isu lingkungan telah menyatukan berbagai lapisan masyarakat.
Rangkaian aksi dimulai dengan pembersihan Pantai Batumea, sebuah langkah awal yang sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat sebelum melakukan intervensi konservasi. Dilanjutkan dengan doa bersama, sebuah pengakuan bahwa segala upaya baik harus diawali dan diakhiri dengan berserah diri kepada Tuhan. Sambutan dari para pemangku kepentingan menggarisbawahi pentingnya kegiatan ini, disusul dengan penyerahan piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi kepada para pihak yang terlibat. Puncak acara adalah penanaman fragmen karang di area perluasan penanaman karang Batumea.
Transformasi Karang Patah Menjadi Kehidupan Baru
Sebanyak 450 fragmen karang ditransplantasikan menggunakan delapan media. Tujuh media berbentuk rangka besi "spider web" dan satu meja besi berukuran 2 x 1 meter menjadi rumah baru bagi fragmen-fragmen karang tersebut. Menariknya, fragmen karang yang ditanam didominasi oleh jenis karang bercabang yang sebelumnya ditemukan patah di sejumlah titik perairan. Ini adalah contoh luar biasa dari prinsip *reduce, reuse, recycle* dalam konteks konservasi laut. Alih-alih membiarkan karang yang patah terbuang sia-sia, para aktivis mengubahnya menjadi potensi untuk merehabilitasi ekosistem laut yang rusak. Metode transplantasi ini menjadi solusi cerdas untuk meregenerasi terumbu karang yang vital bagi kehidupan laut.
Asta Protas dan Gerakan Nyata Kemenag
Perluasan penanaman karang di Batumea ini merupakan bagian dari implementasi "Asta Protas" atau delapan program prioritas Kementerian Agama periode 2025-2029. Salah satu prioritas utama tersebut adalah penguatan ekoteologi. Kemenag Flores Timur secara konsisten menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan program ini. Sebelumnya, Kemenag Flores Timur juga telah meluncurkan gerakan penanaman pohon secara serentak dan mendorong kesadaran ekologis melalui Misa Inkulturasi. Bahkan, Kemenag Flores Timur juga aktif dalam pelepasan tukik (anak penyu) sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian ekosistem laut. Semua ini menunjukkan bahwa Kemenag Flores Timur tidak hanya sekadar program, tetapi melakukan aksi nyata yang bersentuhan langsung dengan alam.
Membangun Kesadaran Kolektif untuk Masa Depan
Keberhasilan kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak dan kesadaran masyarakat Flores Timur yang semakin meningkat akan pentingnya menjaga lingkungan. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Flores Timur, Bapak Yosef Aloysius Babaputra, memberikan apresiasi yang tinggi kepada POKMASWAS San Dominggo, Tim KKN UGM, pemerintah setempat, serta seluruh unsur masyarakat yang telah membangun ruang kolaborasi ini.
Lebih dari sekadar menanam karang, aksi ini adalah investasi jangka panjang untuk kelestarian ekosistem laut Flores Timur. Terumbu karang yang sehat adalah rumah bagi ribuan spesies laut, sumber pangan bagi masyarakat pesisir, serta daya tarik wisata yang berpotensi mendatangkan kesejahteraan. Dengan menanam karang, kita menanam harapan untuk masa depan.
Pesan dari Flores Timur ini seharusnya menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain, terutama yang memiliki wilayah pesisir dan laut. Bahwa menjaga alam adalah ibadah, dan ekoteologi adalah jalan untuk mengamalkan iman dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi seluruh ciptaan.
Source: ANTARA News NTT
#Ekoteologi #Konservasi Laut #Kementerian Agama