BUGALIMA - Langit Nusa Tenggara Timur kembali diselimuti awan kelabu, bukan karena mendung, melainkan abu vulkanik dari Gunung Ile Lewotolok yang kembali menunjukkan amarahnya. Erupsi dahsyat yang terjadi pada Selasa, 8 September 2026, memaksa otoritas penerbangan mengambil keputusan drastis: menutup sementara Bandara Wunopito di Lembata dan Bandara Gewayantana di Larantuka, Flores Timur. Keputusan ini, meski demi keselamatan, menimbulkan riak kekhawatiran bagi ribuan penumpang yang moda transportasinya tiba-tiba terputus.
Fenomena alam yang luar biasa ini, mengingatkan kita pada kekuatan alam yang tak terduga. Gunung Ile Lewotolok, sebuah kerucut vulkanik yang menjulang di Pulau Lembata, telah berulang kali menunjukkan dinamikanya. Sejarah mencatat letusannya pada tahun 1660, 1819, 1849, 1939, dan 1951, namun erupsi pada akhir tahun 2020 lalu menjadi momentum yang signifikan, memaksa ribuan warga mengungsi. Kali ini, pada September 2026, erupsi kembali terjadi, memuntahkan kolom abu setinggi ratusan hingga ribuan meter ke angkasa.
| Sumber: Pixabay |
Dampak Langsung: Penutupan Bandara dan Ratusan Penumpang Terdampak
Keputusan penutupan bandara bukanlah sesuatu yang main-main. Abu vulkanik yang beterbangan di angkasa merupakan ancaman serius bagi keselamatan penerbangan. Partikel halus abu vulkanik dapat merusak mesin pesawat, mengganggu sistem navigasi, dan mengurangi jarak pandang pilot secara drastis. Inilah yang terjadi pada Bandara Wunopito dan Gewayantana.
Pada 8 September 2026, manajemen Wings Air mengumumkan penghentian operasional penerbangan ke kedua kabupaten tersebut. Penutupan Bandara Wunopito (LWE) dilakukan berdasarkan NOTAM C1134/26, efektif mulai pukul 07.01 WIB hingga perkiraan pukul 06.00 WIB keesokan harinya. Pembatalan penerbangan ini berdampak pada ratusan penumpang. Rute Kupang-Lewoleba dan Lewoleba-Kupang, serta Kupang-Larantuka dan Larantuka-Kupang, terpaksa dibatalkan. Sebagai contoh, pada tanggal 16 September 2026, Wings Air kembali membatalkan penerbangan dari Kupang ke Larantuka dan sebaliknya, mengakibatkan 62 penumpang terdampak. Bahkan, pada awal September 2026, Bandara Wunopito Lembata telah ditutup sejak tanggal 1 September dan belum ada tanda akan dibuka kembali akibat aktivitas Gunung Ile Lewotolok.
Jejak Abu Vulkanik di Langit Flores dan Lembata
Erupsi Gunung Ile Lewotolok tidak hanya berdampak pada penerbangan di Lembata dan Flores Timur saja. Pada September 2025, erupsi dua gunung api, Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Gunung Lewotolok, menyebabkan penutupan tiga bandara di Pulau Flores, yaitu di Kabupaten Sikka, Flores Timur, dan Lembata. Akibatnya, beberapa penerbangan dari dan ke Bandara El Tari Kupang dibatalkan. Situasi serupa kembali terjadi pada 20 Juni 2026, ketika erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ile Lewotolok memaksa penutupan Bandara Frans Seda Maumere dan Bandara Gewayantana Larantuka.
Memahami Ancaman Abu Vulkanik dan Tingkat Kesiapsiagaan Gunung Api
Abu vulkanik yang dikeluarkan oleh Gunung Ile Lewotolok memiliki sifat yang tajam seperti kaca karena kandungan silika-nya. Paparan langsung dapat menyebabkan iritasi mata dan gangguan saluran pernapasan. Oleh karena itu, masyarakat yang berada di sekitar area terdampak selalu diimbau untuk menggunakan masker dan pelindung mata.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara intensif memantau aktivitas Gunung Ile Lewotolok. Status gunung ini seringkali berada pada level Waspada (Level II) atau Siaga (Level III). Pada akhir November 2020, statusnya dinaikkan menjadi Siaga (Level III) setelah terjadi peningkatan aktivitas vulkanik. Rekomendasi umum dari PVMBG adalah agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius tertentu dari kawah gunung, biasanya 2-4 kilometer, tergantung pada tingkat aktivitas.
Tantangan Transportasi di Wilayah Kepulauan
Penutupan bandara di Lembata dan Flores Timur menjadi pengingat akan kerentanan transportasi di wilayah kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur. Ketergantungan pada transportasi udara seringkali menjadi satu-satunya pilihan untuk mobilitas cepat antar pulau, terutama dalam situasi darurat. Ketika jalur udara terputus, dampak ekonominya bisa sangat terasa, mulai dari terganggunya logistik, pariwisata, hingga aktivitas bisnis lainnya.
Bandara Wunopito di Lewoleba sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang, dibangun pada tahun 1977. Meskipun telah melalui berbagai pengembangan, termasuk rencana perubahan nama untuk menghormati tokoh lokal, bandara ini tetap menjadi gerbang utama udara bagi Pulau Lembata. Demikian pula Bandara Gewayantana di Larantuka, yang melayani Kabupaten Flores Timur.
Pelajaran dari Alam dan Adaptasi Manusia
Setiap erupsi gunung berapi adalah pelajaran berharga. Ini adalah demonstrasi kekuatan alam yang mengingatkan kita akan posisi manusia sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar. Penutupan penerbangan akibat erupsi Ile Lewotolok, meskipun mengganggu, adalah langkah preventif yang sangat penting. Ini menunjukkan keseriusan otoritas dalam memprioritaskan keselamatan jiwa di atas segalanya.
Masyarakat di NTT, khususnya Lembata dan Flores Timur, telah menunjukkan ketangguhan luar biasa dalam menghadapi siklus erupsi Ile Lewotolok. Dari generasi tua yang melihatnya sebagai fenomena alam biasa, hingga kaum muda yang sigap mengungsi, terdapat dinamika sosial yang menarik. Kepercayaan adat dan ritual yang terkadang dilakukan juga menjadi bagian dari cara masyarakat beradaptasi dan mencari ketenangan di tengah ketidakpastian.
Pada akhirnya, berita mengenai penutupan penerbangan akibat erupsi Ile Lewotolok ini bukan sekadar laporan bencana. Ia adalah kisah tentang ketahanan alam, kewaspadaan manusia, dan pentingnya adaptasi dalam menghadapi kekuatan dahsyat yang tak bisa kita kendalikan. Penerbangan mungkin ditutup sementara, namun kehidupan harus terus berjalan, dengan kewaspadaan dan persiapan yang matang. Source: TVRI News
#Erupsi Gunung Ile Lewotolok #Penerbangan Lembata #Penerbangan Flores Timur