BUGALIMA - Bumi Flores kembali bergetar hebat, namun kali ini bukan hanya sekali. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya 2.119 gempa susulan yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pascagempa utama yang berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Angka ini terus bertambah, bahkan hingga 30 Agustus 2026, tercatat sudah mencapai 9.870 gempa susulan. Fenomena ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi masyarakat setempat.
Gempa susulan ini, yang juga dikenal sebagai *aftershock*, merupakan respons alamiah bumi setelah mengalami guncangan besar. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa aktivitas gempa susulan ini masih berpotensi berlangsung hingga 3-4 minggu ke depan. Fase awal rangkaian gempa susulan ini masih memperlihatkan pola temporal yang kompleks dan belum sederhana. Jumlah gempa per 24 jam tercatat 704 kejadian pada hari pertama, meningkat menjadi 746 pada hari kedua, kemudian berkisar 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima, namun naik lagi menjadi 802 kejadian pada hari keenam. Ini menunjukkan bahwa aktivitas seismik di Flores masih sangat dinamis.
| Sumber: Pixabay |
Dampak yang Mengerikan di Flores
Gempa utama M 7,7 yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB, tidak hanya menimbulkan guncangan dahsyat, tetapi juga memicu tsunami di 16 lokasi di NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Ketinggian tsunami tertinggi mencapai 160,5 meter di Pota, Manggarai Timur. Dampak korban jiwa pun sangat memilukan. Hingga 30 Agustus 2026, tercatat 103 orang meninggal dunia dan 1.666 lainnya luka-luka. Ada juga laporan yang menyebutkan 14 orang tewas dan puluhan bangunan rusak akibat gempa. Gempa bumi jenis dangkal ini disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (*thrust fault*).
Kerusakan bangunan dilaporkan meluas di berbagai kabupaten di Flores, termasuk kerusakan pada rumah warga, sekolah, rumah ibadah, serta fasilitas pelayanan kesehatan. Di Maumere, kota yang terkena dampak paling parah, dilaporkan bahwa sekitar 90% bangunan hancur akibat gempa bumi dan tsunami pada tahun 1992. Meskipun gempa 2026 ini berbeda dengan peristiwa 1992, kewaspadaan terhadap kerusakan bangunan pasca-gempa tetap menjadi prioritas utama.
Potensi Bahaya Ikutan
Selain guncangan kuat, gempa bumi di Flores ini juga memicu potensi bahaya ikutan. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap adanya indikasi likuefaksi, yang ditandai dengan keluarnya air dari dalam tanah. Fenomena likuefaksi terjadi ketika tanah yang jenuh air kehilangan kekuatannya akibat guncangan gempa, yang dapat memperparah kerusakan bangunan. Selain itu, gerakan tanah, retakan tanah, dan tsunami juga merupakan potensi bahaya yang perlu diwaspadai. BMKG mencatat adanya tsunami kecil yang teramati di Bonea, Selayar, menunjukkan bahwa gempa tidak hanya menimbulkan guncangan, tetapi juga dapat memicu sejumlah bahaya ikutan.
Kewaspadaan Pasca-Gempa: Jaga Diri dan Lingkungan
Mengingat masih tingginya aktivitas gempa susulan, BMKG terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak panik. Ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang berada di sekitar bangunan yang rusak akibat gempa utama.
Tips Keselamatan Pasca-Gempa
1. Hindari Bangunan Rusak: BMKG mengimbau masyarakat untuk menjauhi bangunan yang mengalami retak atau rusak akibat gempa utama. Bangunan yang rusak berisiko runtuh akibat gempa susulan. Periksa keadaan diri sendiri, apakah ada bagian tubuh yang terluka atau tertimpa benda-benda. 2. Periksa Lingkungan Sekitar: Setelah gempa selesai, periksalah lingkungan sekitar yang mungkin terdampak seperti kebakaran, kebocoran gas atau arus pendek; kerusakan aliran pipa air; serta hal lain yang mungkin membahayakan. Matikan aliran listrik dan gas jika terjadi kebocoran. 3. Tetap Tenang dan Cari Informasi Resmi: Meskipun terdampak gempa, usahakan untuk tetap tenang. Ikuti petunjuk dari petugas penyelamat. BMKG mengimbau masyarakat untuk memperbarui informasi resmi melalui kanal komunikasi yang terverifikasi seperti media sosial @infoBMKG, website http://www.bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id, dan Mobile Apps infobmkg atau wrs-bmkg. 4. Jika di Dalam Ruangan: Kenali titik-titik aman untuk berlindung. Lindungi badan dan kepala dari reruntuhan, sembunyi di bawah meja, kasur, atau benda lain yang kokoh. Gunakan metode *Drop, Cover, and Hold On* (Jatuhkan diri, Lindungi kepala dan leher, Berpegangan) hingga guncangan berhenti. 5. Jika di Tempat Umum: Tetap tenang, ikuti petunjuk petugas penyelamat. Jangan menggunakan lift ketika terjadi gempa atau kebakaran, gunakan tangga darurat dan bergeraklah ke tempat terbuka. 6. Jika di Dalam Kendaraan: Berhentilah secepat dan seaman mungkin. Pindahkan kendaraan ke tepi jalan, dan pastikan menjauh dari tiang listrik, pohon besar, dan *underpass* atau *flyover*. Tetap di dalam mobil sampai guncangan berhenti.
BMKG terus melakukan pemantauan dan survei lapangan untuk memahami lebih lanjut karakteristik tanah dan responsnya terhadap guncangan. Data ini penting untuk mendukung proses rekonstruksi pascabencana, pemetaan mikrozonasi, dan penyusunan rekomendasi mitigasi. Kewaspadaan adalah kunci untuk menghadapi situasi ini. Dengan informasi yang tepat dan tindakan yang benar, masyarakat dapat mengurangi risiko dan memulihkan diri dari bencana ini.
#Gempa Flores #BMKG #Waspada Bangunan Rusak