BUGALIMA - Langit di atas Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa hari terakhir diselimuti kabut asing. Bukan kabut biasa yang seringkali menjadi sahabat alam sehabis hujan, melainkan kabut pekat yang dikenal sebagai *haze*. Pemandangan indah perbukitan dan pegunungan yang biasanya membentang gagah kini tertutup selimut tebal, mengaburkan batas antara bumi dan langit. Fenomena ini tak pelak menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, menimbulkan pertanyaan: dari mana datangnya kabut ini?
Menurut penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kupang, fenomena *haze* ini disebabkan oleh peningkatan konsentrasi asap di atmosfer. Bukan hanya asap lokal, namun juga asap yang terbawa dari daerah lain. BMKG menyebutkan adanya kemungkinan besar asap ini berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Papua. Prakirawan BMKG Kupang, I Ketut Wisnu Wardhana, menjelaskan bahwa arah angin dari timur ke barat menjadi salah satu indikator kuatnya. "Kalau di NTT lebih besar kemungkinannya dari Papua karena arah angin dari timur. Dari citra satelit juga dapat dilihat pergerakan sebaran asapnya dari wilayah Papua," ujar Wisnu.
| Sumber: Pixabay |
Ini adalah pengingat yang menyakitkan bahwa bumi kita semakin terhubung. Asap yang membumbung tinggi dari ujung timur negeri ini, dari tanah Papua yang kaya, kini melintasi ribuan kilometer untuk menyapa Flores Timur. Fenomena seperti ini bukanlah hal baru, namun skala dan dampaknya kali ini cukup signifikan. Data dari Greenpeace Indonesia menunjukkan adanya 1.634 titik sumber asap di Papua pada periode Agustus hingga Oktober 2026. Puncak titik api terjadi pada September, diduga akibat pembukaan lahan yang disengaja, bahkan di area Proyek Strategis Nasional. Kebakaran ini tidak hanya berdampak di Papua sendiri, tetapi juga meluas hingga ke wilayah lain, termasuk di Provinsi Papua Barat Daya.
Dampak yang Tak Terlihat
Kabut asap *haze* ini bukan sekadar masalah visual. Ia membawa konsekuensi yang lebih luas bagi kesehatan dan lingkungan. Partikel-partikel halus dalam asap dapat mengganggu sistem pernapasan, memicu penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Di Sorong, Papua Barat Daya, kualitas udara bahkan mencapai kategori "sangat tidak sehat" akibat kabut asap, mendorong BPBD setempat untuk membagikan masker. Fenomena yang sama juga dilaporkan terjadi di wilayah Kupang dan Kefamenanu, di mana langit tampak mendung akibat kabut asap kiriman dari Papua.
Lebih jauh lagi, dampak karhutla ini sudah melumpuhkan transportasi udara. Laporan menyebutkan 1.673 penerbangan domestik mengalami *delay* atau dibatalkan selama periode Agustus hingga Oktober 2026 akibat terdampak kabut asap. Bandara-bandara di wilayah Kalimantan menjadi yang paling banyak terdampak, namun penyebaran asap yang meluas bisa saja mempengaruhi operasional bandara lain, termasuk di wilayah timur Indonesia.
Mengapa Papua Menjadi Sorotan?
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menjadi masalah kronis, dan Papua kini menjadi salah satu episentrumnya. Greenpeace mencatat ribuan titik api di Papua, dengan lonjakan signifikan pada bulan September. Aktivitas pembukaan lahan yang diduga disengaja, ditambah dengan kondisi cuaca ekstrem akibat kemarau panjang dan fenomena El Nino, memperparah situasi. Lahan gambut yang luas di Papua juga menjadi faktor yang mempercepat penyebaran asap.
Pemerintah dan berbagai pihak terkait perlu segera mengambil langkah strategis. Pemadaman api di sumbernya adalah prioritas utama. Namun, pencegahan juga krusial. Edukasi masyarakat tentang bahaya membakar lahan, penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran ilegal, serta penataan kawasan hutan dan lahan yang lebih baik adalah solusi jangka panjang yang harus diimplementasikan.
Refleksi untuk Flores Timur dan Indonesia
Fenomena *haze* yang melanda Flores Timur ini adalah panggilan untuk kita semua. Ini adalah bukti nyata bahwa bencana di satu wilayah dapat berdampak pada wilayah lain yang jauh. Di Flores Timur sendiri, masyarakat perlu waspada terhadap potensi dampak kesehatan akibat kabut asap. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, sangat dianjurkan.
Kita tidak bisa hanya berdiam diri melihat bumi kita terus terluka. Karhutla bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah kemanusiaan dan ekonomi. Krisis pangan di Papua Pegunungan yang disebabkan oleh kabut asap tebal adalah contoh nyata dampaknya. Penerbangan logistik terhenti, mengancam pasokan kebutuhan pokok.
Pemerintah, melalui BMKG, telah memberikan peringatan dan penjelasan. Namun, tindakan nyata dari semua pihak sangat dibutuhkan. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga kesadaran masyarakat di tingkat akar rumput. Kita harus bersatu padu, bukan hanya untuk mengatasi kabut asap yang kini menyelimuti Flores Timur, tetapi juga untuk mencegah bencana serupa terulang kembali di masa depan. Bumi ini adalah satu kesatuan, dan nasib kita pun demikian.
#Kabut Asap #Flores Timur #Kebakaran Hutan Papua