BUGALIMA - Keputusan cepat kadang harus dibayar mahal. Pilihan untuk memacu kendaraan demi nyawa seseorang berujung pada insiden yang tak terhindarkan. Kecelakaan itu terjadi di Flores Timur. Mobil angkutan umum terguling. Misi kemanusiaan berubah jadi drama di jalanan sunyi.
Minggu malam, seantero Flores Timur diselimuti sunyi. Tapi di jalanan Adabang-Watowara, Desa Watowara, Kecamatan Titehena, ada mobil yang dipacu kencang. Ini bukan perjalanan biasa. Mobil itu membawa bidan desa dan seorang ibu hamil yang sudah akan melahirkan. Nyawa sang ibu dan bayi jadi taruhan.
Kecelakaan di Tikungan Weragatek
Mobil berwarna hitam dengan tulisan 'Sayang Beta' di sampingnya itu melaju tanpa ampun. Sopir berinisial AOT mengambil risiko besar. Kecepatan tinggi adalah satu-satunya cara untuk mengejar waktu. Bidan di dalamnya pasti sudah merasakan gentingnya situasi. Tapi takdir berkata lain.
Tepat di area Weragatek, jalan itu menikung tajam. Tikungan memang selalu menyimpan bahaya. Sopir AOT gagal mengendalikan laju kendaraan. Mobil angkutan umum itu tak mampu menahan gaya sentrifugal.
Kendaraan bernomor polisi EB 1329 C itu oleng. Lalu berguling-guling. Total ada tujuh orang di dalam mobil. Mereka semua terlempar, terhempas, atau terjepit di dalam. Kepanikan pecah di tengah kegelapan malam.
Pesan dari Kasat Lantas
Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Flores Timur, Iptu Gusti Komang Astina, segera memberi penjelasan. Beliau memastikan kronologi kejadian. Ini penting untuk menegakkan fakta. Kecelakaan tunggal akibat kecepatan tinggi. Astina menyampaikan bahwa upaya penyelamatan dilakukan cepat.
"Sesampainya di TKP jalan menikung, pengendara mobil tidak dapat mengendalikan laju kendaraan sehingga mobil pun berguling," kata Iptu Gusti Komang Astina. Kesaksian pihak kepolisian ini menunjukkan satu hal. Pelanggaran batas kecepatan demi kondisi darurat tetaplah pelanggaran. Jalan raya tidak memberi toleransi untuk itu.
Tapi ada sisi manusiawi yang juga harus dilihat. Sopir itu sedang membawa orang yang bertaruh nyawa. Ibu hamil yang sudah "partus," istilah medis untuk proses melahirkan.
Tragedi Bidan Desa
Di antara tujuh penumpang, ada dua orang yang mengalami luka berat. Mereka harus mendapat perawatan intensif. Inisialnya Y dan VW. Salah satu dari korban luka berat itu adalah bidan desa. Bidan ini adalah pahlawan yang sedang berjuang. Ia berusaha menolong ibu yang akan melahirkan. Ia justru jadi korban kecelakaan.
Bidan desa itu harus menjalani perawatan serius. Ia bahkan membutuhkan transfusi beberapa kantong darah. Sungguh pengorbanan yang tak ternilai. Niat baiknya untuk menolong sesama membuatnya berada dalam kondisi kritis.
Sementara, sang ibu hamil dan penumpang lain juga pasti mengalami trauma. Nasib mereka, terutama kondisi kehamilan sang ibu, adalah kekhawatiran terbesar. Kita semua berharap keselamatan untuk semua penumpang.
Reaksi Cepat Warga dan Langkah Medis
Warga sekitar lokasi kecelakaan bergerak cepat. Mereka memberikan pertolongan pertama. Ini menunjukkan solidaritas sosial yang tinggi. Dalam kondisi darurat, masyarakat adalah garda terdepan. Mereka segera membawa para korban ke Puskesmas Lato.
Puskesmas Lato melakukan penanganan awal. Ini langkah kritis untuk menstabilkan kondisi korban. Namun, dua korban luka berat, Y dan VW, memerlukan penanganan lebih lanjut. Mereka kemudian dirujuk. Rujukan ini diarahkan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Hendrikus Fernandez Larantuka.
Rumah sakit ini adalah harapan terakhir. Tempat di mana keahlian medis dan peralatan lengkap bisa dimanfaatkan. Semoga perjuangan tim medis di RSUD Larantuka membuahkan hasil. Kita tunggu kabar baik dari sana.
Pentingnya Kehati-hatian di Jalan Raya
Kejadian ini adalah pengingat keras. Jalanan Flores Timur memiliki kontur yang menantang. Tikungan tajam, tanjakan, dan turunan membutuhkan kewaspadaan ekstra. Kecepatan harus selalu dikendalikan. Apapun alasan di baliknya.
Kita menghargai pengorbanan sopir dan bidan. Niat mereka mulia. Tapi nyawa bisa hilang hanya karena sepersekian detik lepas kendali. Keselamatan adalah prioritas nomor satu.
Luka-luka fisik bisa sembuh. Tapi trauma psikologis akibat insiden terguling ini akan membekas lama. Semoga kejadian ini jadi pelajaran berharga. Jalan raya adalah arena tanggung jawab, bukan arena kebut-kebutan, bahkan untuk urusan darurat.
Peran Sentral Tenaga Medis
Bidan desa yang menjadi korban luka berat itu adalah simbol. Simbol dari dedikasi dan profesionalisme. Mereka bekerja di daerah terpencil. Mereka berjuang melawan keterbatasan fasilitas dan infrastruktur. Jasa mereka sangat besar.
Insiden ini menegaskan betapa rentannya para pekerja kemanusiaan. Mereka adalah aset berharga. Perlu ada dukungan lebih, termasuk dalam hal transportasi darurat yang aman dan cepat. Ambulans yang layak, sopir yang terlatih.
Tidak semua kondisi darurat harus diselesaikan dengan ngebut. Perencanaan yang matang bisa menyelamatkan banyak nyawa. Baik nyawa di dalam mobil, maupun nyawa di dalam kandungan. Semoga semua korban pulih secepatnya.
Source: detik.com
#KecelakaanFloresTimur #MobilTerguling #BidanLukaBerat