BUGALIMA - Pawai Ta'aruf Ramadhan adalah tradisi. Selalu meriah, selalu ditunggu. Tapi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), suasananya berbeda. Ada pemandangan yang begitu kuat maknanya.
Sekolah-sekolah lintas iman turut serta. Mereka berbaur dengan siswa Muslim lainnya. Ini bukan sekadar partisipasi biasa. Ini adalah perwujudan nyata toleransi.
| Gambar dari Pixabay |
Jantung Toleransi di Ujung Timur
Flores Timur memang dikenal akan keharmonisan. Di sana, perbedaan adalah kekayaan. Bukan jurang pemisah. Momentum Ramadhan ini menjadi panggungnya.
Ratusan pelajar berjalan kaki. Mereka dari berbagai jenjang pendidikan. Ada sekolah umum, madrasah, bahkan sekolah yang mayoritas siswanya non-Muslim. Semuanya berjalan beriringan.
Pemandangan itu kontras tapi menyatu. Ada yang mengenakan busana Muslim. Ada pula yang tampil dengan seragam khas sekolahnya. Wajah-wajah ceria menghiasi setiap langkah.
Mereka membawa pesan yang jelas. Pesan persatuan dan persaudaraan. Ini adalah energi positif dari timur Indonesia. Energi yang seharusnya menular ke seluruh negeri.
Kegiatan ini telah lama diinisiasi. Para tokoh agama dan pendidik terlibat. Mereka sepakat, pendidikan karakter harus diutamakan. Karakter tentang saling menghargai.
Pawai ini bukan sekadar arak-arakan. Ia adalah kurikulum hidup. Pelajaran tentang bagaimana hidup berdampingan. Tanpa perlu menghilangkan identitas diri.
Para Pendidik Bersuara Lantang
Kepala sekolah dan guru adalah aktor penting. Mereka berperan sebagai arsitek moral. Mereka yang meyakinkan para orang tua. Bahwa kebersamaan itu indah dan aman.
Para guru non-Muslim tampak mendampingi siswanya. Mereka menjelaskan makna Pawai Ta'aruf. Mereka mengajarkan arti menghormati keyakinan orang lain.
Para siswa ini mendapatkan pengalaman berharga. Mereka melihat langsung keragaman itu. Mereka merasakannya dalam perayaan yang sakral. Ini otentisitas yang tak terbantahkan.
Tokoh-tokoh masyarakat setempat memberi dukungan penuh. Mereka tahu pentingnya acara ini. Stabilitas sosial dimulai dari hal-hal kecil. Dimulai dari perayaan bersama di jalanan kota.
Mereka memastikan semua berjalan lancar. Tidak ada insiden yang mengganggu. Keamanan menjadi tanggung jawab bersama. Sebab, ini acara milik semua, bukan satu kelompok saja.
Para siswa itu berjalan dengan bangga. Mereka melambai pada warga yang menonton. Warga pun menyambut dengan antusiasme tinggi. Jalanan Larantuka pun dipenuhi senyum.
Ramadhan memang bulan suci bagi Muslim. Namun, semangatnya merangkul siapa saja. Ini yang ditangkap oleh masyarakat Flores Timur. Mereka menerjemahkannya dalam aksi nyata.
Refleksi Kredibilitas Komunitas
Komunitas Flores Timur memiliki kredibilitas tinggi. Kredibilitas dalam menjaga harmoni. Mereka tidak pernah goyah. Bahkan di tengah isu-isu sensitif yang kadang muncul.
Aktivitas lintas iman di sana berjalan mulus. Kegiatan ini bukan pencitraan sesaat. Ini adalah buah dari proses panjang. Proses dialog dan saling memahami.
Pemerintah daerah juga hadir. Mereka memberikan apresiasi. Mereka melihat potensi besar. Potensi Flores Timur sebagai mercusuar toleransi.
Dinas Pendidikan setempat ikut mendorong. Mereka menyambut baik inisiatif sekolah. Mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan. Tanpa memandang mayoritas atau minoritas.
Mereka sadar, anak-anak adalah masa depan. Bibit-bibit toleransi harus disemai sejak dini. Acara seperti Pawai Ta'aruf adalah media efektif. Media yang menyenangkan dan mendidik.
Anak-anak non-Muslim tidak merasa canggung. Mereka justru merasa terhormat. Diundang untuk berbagi kegembiraan. Merayakan bulan puasa teman-teman mereka.
Ini adalah cerminan dari otoritas komunitas. Otoritas yang terbangun dari bawah. Bukan sekadar peraturan dari atas. Otoritas yang tumbuh dari hati.
Mereka menunjukkan bahwa pengalaman hidup bersama itu mungkin. Jauh dari konflik yang sering diberitakan. Dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Pawai berakhir dengan damai. Semua peserta merasa puas. Mereka membawa pulang cerita. Cerita tentang indahnya persaudaraan sejati.
Cerita ini akan terus diceritakan. Dari mulut ke mulut. Dari guru ke muridnya. Menjadi warisan tak ternilai harganya. Warisan tentang bagaimana cara hidup damai di Indonesia.
Ramadhan di Flores Timur terasa lengkap. Bukan hanya ibadah personal. Tapi juga perayaan sosial yang inklusif. Sebuah contoh langka yang patut ditiru.
Inilah kekuatan sejati bangsa ini. Kekuatan yang terletak pada keragaman. Kekuatan yang diikat oleh semangat gotong royong. Semangat yang selalu hadir saat perayaan.
Selamat Ramadhan, Flores Timur. Terima kasih atas pelajaran berharga ini. Pelajaran yang sederhana tapi menusuk sanubari. Pelajaran yang membuat kita yakin, Indonesia baik-baik saja.
Source: detik.com
#PawaiTa'aruf #FloresTimur #SekolahLintasIman