Jalan Trans Waiwadan-Hurung Lumpuh Akibat Banjir, Solidaritas SMA di Flores Timur Selamatkan Warga

BUGALIMA - Hujan deras itu datang tanpa ampun. Ia mengguyur Larantuka dan sekitarnya selama berjam-jam. Warga Flores Timur sudah tahu risikonya. Di Adonara Barat, bencana tak terhindarkan.

Jalan Trans Waiwadan-Hurung langsung terendam. Akses vital itu seketika berubah menjadi sungai dadakan. Air bah meluap setinggi lutut orang dewasa.

Health
Gambar dari Pixabay

Ini bukan sekadar genangan air biasa. Ini air kiriman dari gunung, dari wilayah Nimun Danibao. Air deras itu menyusuri kali Rianduli, lalu meluber.

Saluran irigasi sawah di sekitar Desa Waiwadan tak mampu menahan. Dindingnya jebol, air tumpah ruah ke badan jalan.

Detik-detik Kepanikan di Trans Waiwadan

Kekacauan dimulai sekitar pukul 13.15 Wita. Saat itu, banyak warga baru saja pulang dari Pasar Waiwadan. Mereka membawa hasil belanjaan atau dagangan.

Tiba-tiba arus lalu lintas terhenti total. Kendaraan menumpuk di dua sisi jalan. Ratusan orang terjebak, menatap derasnya luapan air.

Jalan raya yang berfungsi sebagai urat nadi itu lumpuh. Akses menuju Tobilota dan sebaliknya, terputus paksa. Semua harus menunggu.

Bayangkan kekhawatiran para pengendara motor. Mereka harus memutar otak agar bisa menyeberang. Air setinggi lutut terlalu berisiko untuk roda dua.

Bahkan mobil pikap pun kesulitan. Mesin bisa mati kapan saja diterjang arus yang kuat. Warga saling pandang, mencari solusi cepat.

Banjir ini seperti ujian mendadak bagi komunitas. Orang-orang melihat bagaimana kekuatan alam mengalahkan rutinitas mereka. Tapi semangat tolong-menolong tak pernah mati.

Solidaritas di Tengah Arus Deras

Di tengah keriuhan itu, muncul pahlawan-pahlawan kecil. Mereka adalah anak-anak SMA yang baru saja pulang sekolah. Seragam putih abu-abu mereka kotor tak peduli.

Mereka sigap berdiri di tepi genangan. Otot-otot remaja itu menjadi tumpuan harapan. Mereka membantu mengangkat motor-motor warga.

Motor-motor berat itu digotong beramai-ramai. Dibawa menyeberang ke sisi jalan yang aman. Sebuah pemandangan yang menghangatkan hati.

Ini bukan tugas mereka, tapi mereka melakukannya. Tanpa pamrih, penuh inisiatif. Bukti bahwa gotong royong masih mendarah daging di Flores Timur.

Dua jam lebih kemacetan berlangsung. Dua jam penuh ketegangan dan solidaritas. Para pengendara mobil hanya bisa menunggu, sabar.

Mereka melihat motor-motor yang dibantu, terharu. Pelajaran penting dari sebuah bencana kecil. Bahwa bantuan datang dari mana saja.

Seorang warga bernama Viktor Kopong Tolan menjadi saksi mata. Ia juga ikut terjebak dalam kemacetan itu. Viktor memastikan, air memang dari gunung, bukan dari laut.

Sumber air dari wilayah Nimun Danibao memang dipakai untuk bertani. Masyarakat pesisir Homa dan Waiwadan mengandalkannya. Tapi, ketika debit air melampaui batas, ia jadi ancaman.

Akses Kembali Normal

Tak ada yang bisa melawan hujan lebat. Kita hanya bisa bersiap dan beradaptasi. Untungnya, genangan tidak bertahan lama.

Sekitar dua jam, luapan air mulai mengecil. Jalanan perlahan-lahan mulai terlihat. Arus kendaraan kembali mengalir, meski pelan.

Motor-motor yang tertahan mulai berani melintas. Mobil-mobil melanjutkan perjalanan mereka. Napas lega terdengar dari banyak pengendara.

Dua jam kelumpuhan itu adalah peringatan. Peringatan tentang infrastruktur yang rentan. Peringatan tentang daya tampung irigasi yang terbatas.

Pemerintah daerah perlu memikirkan solusinya. Perlu perbaikan drainase yang lebih baik. Jangka panjangnya harus membenahi tata kelola air dari hulu.

Jalan Trans Waiwadan-Hurung adalah jalur ekonomi. Kelumpuhan sesaat pun merugikan banyak orang. Perlu keahlian teknis untuk mitigasi.

Pengalaman bertahun-tahun menunjukkan, musim hujan selalu membawa ancaman. Otoritas terkait harus kredibel dalam perencanaan. Jangan hanya menunggu bencana datang.

Flores Timur butuh jalan yang kokoh. Jalan yang tahan terhadap luapan air dari gunung. Agar anak-anak SMA bisa pulang tanpa harus mengangkat motor warga.

Agar mobilitas barang dan jasa tidak terhenti. Agar denyut nadi ekonomi terus berdetak. Ini adalah pekerjaan rumah bersama.

Banjir telah surut, tapi pelajaran tetap tinggal. Masyarakat harus lebih waspada. Pemerintah harus lebih responsif. Kita semua harus peduli pada lingkungan.

Source: detik.​com



#BanjirFloresTimur #JalanTransFlores #AdonaraBarat

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama