BUGALIMA - Ancaman itu datang lagi, pelan namun mematikan. Ribuan hektare ladang jagung di Flores Timur (Flotim) kini kembali diserang. Hama ulat grayak, si predator tanaman yang ganas, mulai unjuk gigi.
Ini bukan sekadar hama biasa. Ia adalah Spodoptera frugiperda, ulat tentara yang gerakannya cepat dan merusak. Kehadirannya selalu membawa kekhawatiran besar bagi para petani di Nusa Tenggara Timur. Mereka trauma dengan serangan masif di tahun-tahun sebelumnya.
| Gambar dari Pixabay |
Ancaman Nyata di Ladang Jagung Flotim
Jagung adalah nafas utama pangan di Flotim. Tanaman ini menjadi sandaran hidup banyak keluarga. Begitu ulat grayak menyerang, titik tumbuh tanaman langsung menjadi sasarannya. Pucuk muda dilahap habis, membuat tanaman sulit pulih dan akhirnya mati.
Para petani menjadi cemas melihat gejala serangan awal ini. Tanaman jagung yang baru berumur beberapa minggu adalah yang paling rentan. Kerugian ekonomi di depan mata, potensi gagal panen membayangi. Skala serangannya sudah dilaporkan di berbagai kecamatan.
Data awal memang menunjukkan ada ratusan hektare lahan sudah terdampak. Namun, pergerakan hama ini sangat agresif dan cepat meluas. Pemerintah daerah langsung menyatakan kewaspadaan tinggi. Mereka tidak ingin kejadian luar biasa (KLB) tahun-tahun sebelumnya terulang.
Gerak Cepat Dinas Pertanian
Dinas Pertanian Kabupaten Flores Timur bergerak cepat merespons situasi. Mereka langsung menurunkan petugas penyuluh ke lapangan. Petugas ini bertugas ganda: memantau dan mengidentifikasi tingkat serangan. Mereka ingin punya data akurat secepat mungkin.
Kepala Dinas Pertanian Flotim, Sebastian Sina Kleden, tidak mau menunggu lama. Ia menginstruksikan pendampingan intensif bagi petani yang lahannya terdampak. Serangan ulat grayak memang harus ditangani sejak dini, tidak bisa ditunda.
Kehadiran penyuluh di ladang sangat penting. Petani butuh keahlian dan arahan praktis di tengah kepanikan. Langkah ini dilakukan demi menekan risiko kerusakan lebih lanjut. Tujuannya hanya satu, menjaga produktivitas pertanian tetap stabil.
Strategi Pengendalian Terpadu
Pemerintah daerah tidak mengambil langkah tunggal dalam pengendalian. Mereka memilih pendekatan terpadu. Cara pertama adalah pengendalian mekanis. Petani diimbau untuk rajin memungut langsung ulat dari setiap rumpun jagung.
Ini memang cara yang melelahkan, tapi sangat efektif untuk menekan populasi awal. Selain itu, digunakan juga pestisida nabati. Penggunaan bahan alami ini bertujuan agar lingkungan pertanian tetap ramah. Kesehatan tanaman dan ekosistem harus seimbang.
Penggunaan pestisida kimia tetap ada, namun dilakukan secara sangat terbatas. Dosisnya harus sesuai anjuran dan hanya di lokasi serangan parah. Pendekatan kombinasi ini adalah perwujudan dari pengalaman. Mereka belajar dari serangan terdahulu yang sulit dikendalikan hanya dengan satu metode.
Edukasi dan Pencegahan Jangka Panjang
Langkah penanganan hama tidak hanya berhenti pada pembasmian. Dinas Pertanian juga fokus pada edukasi petani. Pengetahuan tentang pola tanam yang benar menjadi kunci. Selain itu, sanitasi lahan harus diintensifkan.
Petani diminta rutin membersihkan sisa tanaman dan gulma. Ini penting karena gulma sering menjadi sarang perkembangbiakan ulat grayak. Mengenali gejala awal serangan adalah keahlian yang harus dimiliki setiap petani.
Jika petani bisa mendeteksi dini, tindakan pencegahan bisa dilakukan segera. Biaya penanganan juga jauh lebih murah. Ini adalah investasi jangka panjang untuk mencegah kerugian berulang. Pemerintah ingin petani menjadi lini pertahanan pertama yang kuat.
Menjaga Asa di Tengah Kepungan Hama
Situasi ini adalah ujian bagi ketahanan pangan lokal. Petani Flotim kini berjuang melawan musuh yang tak terlihat. Mereka harus berkorban waktu dan tenaga untuk menjaga tanaman mereka.
Harapan untuk panen raya yang baik kini bergantung pada kecepatan tindakan. Kecepatan pemerintah dalam distribusi bantuan dan keefektifan penyuluhan sangat dinantikan. Seluruh lini harus bergerak serentak.
Koordinasi dengan kelompok tani terus diperkuat. Semua pihak sadar, pertarungan melawan hama ulat grayak ini adalah pertarungan kolektif. Semoga upaya ini bisa menyelamatkan pangan Flotim.
Source: rri.co.id
#UlatGrayak #FloresTimur #TanamanJagung