BUGALIMA - Pagi itu di SMA Swasta Ile Boleng terasa berbeda. Udara sejuk Flores Timur tidak bisa menghilangkan hawa dingin kecurigaan. Sesuatu yang sangat penting telah hilang. Dana pendidikan belasan juta rupiah amblas begitu saja.
Uang SPP milik ratusan siswa lenyap dari ruang bendahara. Sebuah kerugian besar bagi sekolah yang berada di Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur. Ini bukan sekadar hilangnya uang, ini hilangnya harapan.
Misteri Pintu Dicungkil dan Meteran Listrik Mati
Aksi pencurian ini terjadi pada Jumat dini hari. Tidak ada yang tahu persis jam berapa maling itu beraksi. Satpam sekolah yang pertama kali menemukan kejanggalan di pagi hari.
Pintu kantor utama sudah dalam kondisi dicungkil. Ada bekas paksaan yang jelas terlihat pada daun pintu. Pelaku beraksi sangat senyap dan terencana.
Kepala Sekolah, Bapak Aloysius, langsung terkejut mendengar laporan itu. Ia segera memastikan kondisi ruang bendahara. Kecurigaan benar-benar terbukti.
Uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) yang disimpan raib. Jumlahnya ditaksir mencapai belasan juta rupiah. Dana itu baru dikumpulkan siswa selama tiga hari.
Pencurian ini menyasar uang yang dibayarkan dari hari Selasa, Rabu, hingga Kamis. Uang itu belum sempat direkapitulasi secara keseluruhan oleh bendahara. Catatan nama penyetor masih terjepit di tumpukan uang yang kini hilang.
Pencuri yang Paham Situasi Sekolah
Pelaku pencurian diduga kuat adalah orang profesional. Ada indikasi yang memperkuat dugaan tersebut. Sebelum beraksi, maling sengaja mematikan meteran listrik sekolah.
Ini adalah taktik untuk menghindari jejak dan memuluskan aksi. Siapa pun yang melakukannya pasti sudah mengamati kondisi sekolah. Mereka tahu persis di mana uang disimpan.
Uang SPP adalah darah bagi operasional sekolah swasta. Hilangnya dana ini jelas berdampak pada kegiatan belajar-mengajar. Fasilitas, guru honorer, hingga biaya listrik sekolah bisa terganggu.
Bapak Aloysius dan seluruh staf merasa terpukul. Mereka merasa kepercayaan siswa dan orang tua telah dikhianati. Ini adalah pukulan telak bagi dunia pendidikan di Flores Timur.
Kronologi Kejadian dan Langkah Cepat Kepala Sekolah
Pencuri beraksi dalam kegelapan dan kesunyian. Mereka masuk dengan paksa setelah berhasil mencungkil pintu. Ruang bendahara menjadi sasaran utama mereka.
Aksi ini menunjukkan betapa rentannya sistem keamanan sekolah. Kehadiran satpam saja ternyata tidak cukup untuk menghentikan niat jahat. Pengecekan keamanan internal akan segera dilakukan.
Pihak sekolah tidak tinggal diam. Bapak Aloysius sebagai pemimpin langsung mengambil langkah tegas. Kejadian ini harus diserahkan ke jalur hukum.
Laporan resmi telah dibuat dan diserahkan kepada polisi setempat. Harapannya, pelaku bisa segera diidentifikasi dan ditangkap. Kerugian ini harus segera diatasi.
Aksi Cepat Kepolisian dan Harapan Siswa
Polisi dari Polsek setempat sudah turun ke lokasi kejadian (TKP). Mereka melakukan olah tempat kejadian perkara. Mencari petunjuk sekecil apa pun di sekitar kantor.
Mematikan meteran listrik adalah petunjuk penting bagi polisi. Itu menunjukkan perencanaan dan keahlian khusus. Pelaku bukan maling amatiran.
Polisi kini bekerja keras mengungkap misteri ini. Menelusuri setiap petunjuk yang ada. Belasan juta rupiah itu adalah hak para siswa.
Uang itu seharusnya digunakan untuk menopang pendidikan mereka. Semua pihak berharap agar dana itu bisa kembali. Pendidikannya anak-anak tidak boleh terhambat karena kejahatan.
Kejadian ini menjadi peringatan bagi semua sekolah di Flores Timur. Keamanan aset sekolah harus menjadi prioritas utama. Menyimpan uang tunai dalam jumlah besar harus dihindari.
Sistem pembayaran non-tunai perlu dipertimbangkan. Atau, uang harus segera disetorkan ke bank. Sekolah adalah tempat yang sakral, harusnya aman dari tindak kejahatan.
Pelaku pencurian harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Maling itu telah mencuri harapan dan masa depan generasi muda. Semoga polisi segera menangkapnya.
Source: detik.com
#PencurianSPP #SMAIleBoleng #FloresTimur