Nestapa Jalan Rusak Puluhan Tahun Flores Timur: Warga Ambil Alih Perbaikan

BUGALIMA -

Mereka sudah menunggu terlalu lama. Bukan hitungan bulan. Hitungannya sudah puluhan tahun. Jalan kabupaten itu seperti terlupakan dari peta pembangunan. Sebuah jalur vital di Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kini menjadi sorotan.

Health
Gambar dari Pixabay

Akses ini bukan sekadar aspal atau tanah. Ini adalah urat nadi kehidupan. Jalur ini menghubungkan desa ke pusat kota. Ia menjadi penentu nasib hasil panen, juga nyawa saat darurat kesehatan.

Namun, kondisinya mengenaskan. Penuh dengan lumpur dan kubangan air. Batu-batu lepas berserakan. Saat musim hujan datang, jalanan berubah horor. Licin, berbahaya, dan mematikan.

Aksi Swadaya Melawan Ketidakpedulian

Rakyat tidak mau diam lagi. Mereka tidak mau terus menanggung risiko. Warga Lamatutu pun memutuskan bertindak sendiri. Sebuah gotong royong besar digelar.

Mereka membawa alat seadanya. Cangkul, sekop, dan semangat yang meluap-luap. Lumpur dikeruk, lalu batu ditimbunkan. Upaya swadaya ini menjadi pemandangan mengharukan.

Ini adalah bentuk protes paling nyata. Protes yang diekspresikan lewat keringat dan kerja keras. Mereka menolak menjadi korban ketidakadilan infrastruktur.

Pirllo Luron, salah seorang warga, menceritakan penderitaan itu. Setiap hari adalah perjuangan berat. Mengantar anak sekolah, membawa hasil panen ke pasar, semuanya jadi sulit.

Biaya transportasi melonjak drastis. Produk pertanian jadi mahal. Ujung-ujungnya, kesejahteraan warga terancam. Kondisi ini sudah berlangsung sejak lama sekali.

Ia melihat pemerintah daerah belum maksimal. Perhatian untuk ruas jalan ini dianggap minim. Janji-janji perbaikan hanya berlalu begitu saja.

Ia menyebut jalan itu simbol ketidakadilan. Ini bukan hanya soal tanah dan batu. Ini soal martabat dan kehadiran negara.

Maria Desiana, aktivis perempuan setempat, mengamini hal itu. Kerusakan jalan menghambat semua mobilitas. Apalagi saat musim hujan. Akses benar-benar terputus total.

Anak-anak sekolah tidak bisa lewat. Petani terhalang membawa komoditas. Bahkan, orang sakit pun kesulitan mendapat pertolongan cepat. Ini siklus penderitaan yang harus dihentikan.

Dampak Sosial Ekonomi yang Menganga

Kerusakan jalan ini memiliki konsekuensi besar. Dampaknya merambat ke seluruh sendi ekonomi desa. Ini bukan masalah sepele.

Penurunan Nilai Jual Komoditas

Petani adalah pihak yang paling terpukul. Mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk mengangkut hasil panen. Jalur yang sulit dilewati membuat harga angkut melambung.

Waktu tempuh juga menjadi lebih lama. Kondisi ini membuat kualitas produk menurun. Nilai jual komoditas otomatis ikut tergerus.

Padahal, pertanian adalah tulang punggung desa. Menghambat akses jalan, sama saja mematikan mata pencaharian warga. Mereka memimpikan jalan yang mulus.

Mereka berharap ada jaminan bahwa kerja keras mereka terbayar lunas. Bukan malah hilang di tengah jalan becek. Ini tuntutan yang sangat mendasar.

Ancaman Keselamatan Jiwa

Aspek keselamatan adalah yang paling krusial. Jalan yang licin dan penuh lubang mengancam nyawa. Kendaraan seringkali terjebak.

Warga harus turun tangan mendorong. Kadang mereka memilih berjalan kaki. Risiko kecelakaan selalu mengintai setiap hari.

Bagaimana jika ada ibu hamil yang harus segera dirujuk? Bagaimana jika ada pasien darurat yang kritis? Jalan rusak ini berubah menjadi ancaman mematikan.

Pirllo Luron mendesak pemerintah. Negara harus hadir dalam bentuk nyata. Hadir dalam bentuk pembangunan akses yang layak. Jangan biarkan rakyat terus menanggung risiko kecelakaan.

Harapan yang Digantungkan pada Batu Timbunan

Upaya swadaya ini mungkin hanya solusi sementara. Itu hanya tambalan darurat. Tapi ia membawa pesan kuat. Pesan yang harus didengar pengambil kebijakan.

Pemerintah Flores Timur perlu segera bertindak. Menetapkan anggaran. Melakukan perbaikan permanen. Membuktikan bahwa mereka tidak menutup mata.

Jalan ini adalah hak dasar warga. Bukan hadiah atau belas kasihan. Warga Lamatutu sudah memberi contoh. Mereka menunjukkan kerja keras dan kepedulian pada komunitas.

Kini giliran pemerintah. Membangun infrastruktur yang adil. Menghilangkan "simbol ketidakadilan" itu. Meredakan nestapa yang sudah puluhan tahun membayangi.

Semua berharap, setelah keringat warga mengering, janji negara akan terealisasi. Sebuah jalan yang mulus. Jalan yang bisa dilalui dengan senyum. Jalan yang benar-benar menghubungkan harapan.

Source: detik.​com



#FloresTimur #JalanRusak #GotongRoyong

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama