Perjuangan 5 Kilometer Siswa Flotim ke Sekolah: Ironi Pendidikan di NTT

BUGALIMA - Timur Indonesia selalu menyimpan cerita. Cerita tentang kerasnya perjuangan. Di balik keindahan alam Nusa Tenggara Timur (NTT), ada ironi yang menyentak. Tepatnya di Flores Timur (Flotim), pendidikan harus dibayar mahal.

Harga itu bukan uang sekolah yang mahal. Harga yang harus dibayar adalah keringat dan waktu setiap hari. Ratusan siswa di Flotim harus bertarung melawan alam. Mereka berjuang demi selembar ijazah.

Health
Gambar dari Pixabay

Mereka harus menempuh jarak lima kilometer setiap hari. Jarak itu harus dilalui dengan berjalan kaki. Itu adalah perjalanan pergi saja, belum termasuk pulangnya.

Perjalanan total mereka adalah sepuluh kilometer per hari. Semua ini terjadi karena satu hal. Akses jalan menuju sekolah sangat tidak layak.

Jalanan yang dilalui bukan aspal mulus. Ini adalah akses berupa tanah dan bebatuan tajam. Kondisinya rusak parah dan berlumpur saat hujan tiba.

Jalan Kaki Menjadi Rutinitas

Setiap pagi, matahari baru menyapa. Para siswa sudah harus bersiap diri. Seragam putih merah atau putih biru mereka kenakan.

Mereka membawa tas berisi buku dan harapan. Pukul 05.30 Wita biasanya mereka sudah meninggalkan rumah. Mereka ingin tiba di sekolah tepat waktu.

Mereka tidak punya pilihan kendaraan umum. Sepeda motor pun sulit melalui medan yang ada. Otomatis, kaki adalah satu-satunya andalan.

Langkah demi langkah mereka lalui. Melewati tanjakan yang curam dan turunan yang licin. Debu tebal menjadi sarapan pagi mereka di musim kemarau.

Saat musim hujan, kondisinya jauh lebih berat. Jalanan berubah menjadi kubangan lumpur. Sepatu dan seragam mereka pasti kotor.

Terkadang, mereka harus melepas sepatu. Mereka berjalan tanpa alas kaki untuk menghindari terpeleset. Ini adalah rutinitas yang melelahkan.

Perjalanan lima kilometer itu memakan waktu lama. Bisa mencapai satu hingga dua jam. Semua tergantung kondisi jalanan hari itu.

Mereka tiba di sekolah dalam keadaan lelah. Bahkan sebelum pelajaran dimulai, energi mereka sudah terkuras. Itu sungguh tidak adil bagi masa depan mereka.

Ironi di Balik Seragam Putih Merah

Cerita ini bukan kisah yang baru. Sudah bertahun-tahun kondisi ini terjadi. Ini dialami siswa di berbagai desa di Flotim.

Mereka adalah generasi penerus bangsa. Mereka punya semangat belajar yang tinggi. Namun, infrastruktur menghambatnya.

Pendidikan adalah hak setiap warga negara. Pemerintah seharusnya menjamin akses yang mudah. Khususnya untuk fasilitas vital seperti sekolah.

Warga setempat sudah berulang kali bersuara. Mereka menyampaikan keluhan ini kepada pemerintah daerah. Sayangnya, perubahan terasa lambat.

Kepala desa setempat telah berjuang keras. Mereka mencoba mencari solusi sementara. Namun, perbaikan jalan besar butuh dana besar.

Dana besar itu adalah wewenang dari pemerintah kabupaten. Anggaran untuk infrastruktur jalan di pedalaman sering terabaikan. Itu menjadi masalah klasik.

Pemerintah daerah sering berdalih soal keterbatasan anggaran. Mereka juga menyoroti rumitnya birokrasi dana perbaikan. Waktu terus berjalan, siswa terus berjalan kaki.

Sungguh ironi besar. Di tengah janji pemerataan pembangunan. Masih ada anak-anak yang berjuang keras hanya untuk duduk di bangku kelas.

Desakan Perbaikan Infrastruktur

Komitmen politik sangat dibutuhkan di sini. Pemerintah daerah harus menjadikan masalah ini prioritas utama. Ini bukan sekadar jalan rusak.

Ini adalah tentang akses pendidikan yang terhambat. Akses yang sangat menentukan masa depan anak-anak Flotim. Mereka tidak boleh putus asa.

Perlu adanya intervensi cepat dari pemerintah kabupaten. Mereka harus segera mengalokasikan dana. Dana itu untuk perbaikan total akses jalan desa ke sekolah.

Perbaikan tidak harus langsung mulus beraspal. Setidaknya harus ada pengerasan yang layak. Ini harus dilakukan agar bisa dilewati kendaraan roda dua.

Dampak dari perbaikan jalan ini akan besar. Bukan hanya untuk siswa. Itu juga akan memajukan perekonomian desa.

Logistik dan hasil bumi bisa lebih mudah dipasarkan. Kualitas hidup masyarakat pasti meningkat. Jalan adalah urat nadi kehidupan.

Ketika jalan layak, semangat belajar siswa juga terangkat. Mereka bisa fokus penuh di kelas. Mereka tidak perlu khawatir dengan perjalanan panjang lagi.

Para guru juga akan lebih mudah menjangkau lokasi sekolah. Kehadiran guru menjadi lebih terjamin. Ini penting untuk kualitas pengajaran.

Saatnya pemerintah menunjukkan keberpihakan. Keberpihakan pada masyarakat pinggiran. Keberpihakan pada pendidikan anak bangsa.

Jangan biarkan masa depan Indonesia tergerus debu jalanan. Setiap langkah siswa adalah investasi kita. Mereka layak mendapat akses yang lebih baik.

Masalah Flotim harus menjadi cermin bagi daerah lain di NTT. Infrastruktur pendidikan harus diprioritaskan. Jalan menuju sekolah harus aman dan mudah.

Source: inews.​id



#Perjuangansiswa #FloresTimur #Aksesjalanrusak

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama