Gubernur Melki Laka Lena Tatap Muka di Flores Timur: Pendidikan Adalah Harga Mati NTT

BUGALIMA - Matahari Flores Timur terasa menyengat. Siang itu bukan hari biasa bagi sekolah-sekolah di sana. Ratusan kepala sekolah, guru, dan siswa SMA/SMK/SLB berkumpul. Mereka datang untuk satu orang.

Orang itu adalah Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena. Ia datang bukan untuk berpidato formal. Gaya bicaranya lugas. Kalimatnya pendek-pendek, menusuk ke hati. Ia ingin melihat wajah-wajah pendidikan NTT dari dekat. Ia ingin mendengar langsung.

Health
Gambar dari Pixabay

Mengubah Sekolah, Mengubah Nasib

Gubernur Melki tahu benar masalahnya. Kualitas pendidikan sering hanya menjadi retorika. Di lapangan, cerita guru dan siswa jauh lebih keras. Gedung sekolah rusak, kekurangan guru, dan yang paling memilukan, anak putus sekolah karena biaya. Ini harus diakhiri.

Ia teringat sebuah peristiwa pilu di kabupaten lain. Peristiwa itu menjadi alarm keras bagi semua. Gubernur merasa malu. Ia mengakui kegagalan kolektif pemerintah dan pranata sosial. Ini bukan soal statistik semata. Ini soal nyawa dan masa depan manusia NTT.

Pertemuan di Flores Timur ini adalah jawabannya. Sebuah gerakan moral dan struktural. Sekolah adalah garda terdepan. Kepala sekolah dan guru adalah panglima perubahan. Mereka tidak boleh lelah.

Pendidikan bukan lagi sekadar transfer ilmu. Pendidikan harus menjadi tangga menuju kemandirian. Anak-anak Flores Timur harus disiapkan. Mereka harus menjadi pelaku, bukan sekadar penonton.

Vokasi dan Wirausaha: Bekal Menghadapi Dunia

Kebijakan utama Gubernur jelas. Arah pendidikan menengah kini fokus pada vokasi. Siswa harus punya keterampilan nyata. Mereka tidak hanya disiapkan untuk kuliah. Mereka disiapkan untuk kerja, bahkan menciptakan lapangan kerja.

Ada program besar yang ia dorong. Namanya program Satu Sekolah Satu Produk atau One School One Product (OSOP). Sekolah harus berproduksi. Siswa harus merasakan bagaimana berwirausaha. Produknya bisa dari potensi lokal.

Contohnya produk tenun atau olahan pangan laut Flores Timur. Semua itu harus dikelola serius. Pemasarannya? Pemerintah Provinsi sudah siapkan platform. Namanya NTT Mart. Itu ekosistem bisnis yang terintegrasi.

Gubernur Melki mendorong agar konsep tersebut terintegrasi dengan potensi desa. Satu Desa Satu Produk atau One Village One Product (OVOP) menyatu dengan OSOP. Ini sinergi yang kuat. Ekonomi lokal bergerak dari sekolah.

Siswa tidak hanya belajar teori bisnis di kelas. Mereka praktik langsung. Mereka tahu bagaimana proses produksi, quality control, hingga pemasaran. Jiwa wirausaha tertanam sejak dini.

Guru Adalah Kunci Utama

Saat bertatap muka, Gubernur Melki menekankan peran guru. Guru harus meningkatkan kompetensi. Kompetensi akademis dan non-akademis. Peningkatan kualitas guru adalah prioritas.

Ia memastikan kesejahteraan guru juga menjadi perhatian. Pemerintah provinsi berkomitmen memprioritaskan tunjangan guru secara bertahap. Tentu saja sesuai kemampuan fiskal daerah. Ini janji yang menenangkan hati para pendidik.

Gubernur juga menyoroti masalah kekurangan guru. Ia mengusulkan solusi konkret. Mekanisme transfer guru antar sekolah diatur. Kekosongan tenaga pengajar bisa segera tertutup.

Bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu, ada beasiswa. Akses pendidikan tidak boleh terhambat. Melki Laka Lena ingin memastikan, tidak ada lagi anak NTT yang putus sekolah hanya karena tidak punya biaya. Pendidikan harus dirasakan semua orang.

Dialog Langsung dan Solusi Cepat

Pertemuan ini bersifat dua arah. Kepala sekolah dan guru diberi ruang bicara. Mereka menyampaikan aspirasi dan kendala di lapangan. Masalah keterbatasan ruang kelas dan fasilitas sering muncul. Gubernur mencatat semua.

Responnya cepat. Ia menjanjikan pembangunan sekolah satu atap. Itu solusi untuk daerah dengan keterbatasan lahan. Sekolah bisa dimanfaatkan bergiliran. Efisiensi sumber daya.

Siswa juga aktif bertanya. Mereka bertanya tentang peluang kerja setelah lulus. Gubernur menjelaskan tentang program kerja ke luar negeri. Tiga tahun sekolah reguler. Ditambah satu tahun persiapan khusus.

Persiapan itu mencakup pelatihan keterampilan. Juga penguasaan bahasa asing. Serta legalitas kerja yang terjamin. Tujuannya agar mereka siap bersaing di pasar global. Mereka akan menjadi duta NTT di dunia.

Langkah ini strategis. Ini upaya menjawab tantangan pengangguran. Lulusan SMK/SMA tidak lagi bingung mencari kerja. Mereka sudah disiapkan sejak di bangku sekolah. Mereka pulang membawa pengalaman dan modal.

Pendidikan di Flores Timur kini mendapat suntikan energi baru. Peran guru kembali ditegaskan. Jiwa siswa dibakar semangat wirausaha. Ini bukan sekadar program. Ini adalah revolusi mental pendidikan NTT. Gubernur Melki Laka Lena memastikan. Masa depan NTT ada di tangan anak-anak sekolah. Dan itu adalah harga mati.

Source: sorotnews.​com



#GubernurNTT #FloresTimur #PendidikanVokasi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama