BUGALIMA - Penerbangan selalu tentang kepastian jadwal. Namun cuaca seringkali membawa ketidakpastian itu sendiri. Inilah yang dialami pesawat Wings Air dengan nomor penerbangan IW-1920. Pesawat ini harusnya mendarat mulus di Bandara Frans Seda, Larantuka.
Rute penerbangan saat itu adalah dari Kupang menuju Larantuka. Insiden ini terjadi pada tanggal 20 Januari 2024 lalu. Keputusan krusial harus diambil sang pilot di ketinggian. Cuaca buruk memaksa pesawat itu berbalik arah.
| Gambar dari Pixabay |
Keputusan Sulit di Langit Flores Timur
Pilot sudah mencoba pendaratan dengan hati-hati. Ia melakukan dua kali upaya approach ke landasan. Sayangnya, kondisi tidak memungkinkan sama sekali. Angin kencang menerpa badan pesawat dengan keras.
Jarak pandang (visibilitas) juga turun drastis. Kabut dan hujan lebat menutupi pandangan pilot. Pilot tidak mau mengambil risiko yang fatal. Keselamatan penumpang dan kru adalah hal utama.
Keputusan final pun diumumkan kepada menara kontrol. Pesawat tidak jadi mendarat di Larantuka. Pilot kemudian memutar haluan, memilih kembali ke Kupang. Keputusan ini mutlak sesuai prosedur standar penerbangan.
Keselamatan Penumpang Nomor Satu
Manajemen Wings Air sigap memberikan pernyataan. Mereka membenarkan adanya insiden tersebut. Ini adalah kasus divert yang disebabkan faktor alam. Cuaca buruk adalah musuh utama dalam penerbangan.
Keputusan pilot untuk divert sangat dihormati. Ini menunjukkan keahlian dan otoritas penuh di udara. Seorang pilot dilatih untuk situasi ekstrem seperti ini. Mereka tahu batas kemampuan pesawat dan bandara.
Pesawat kemudian mendarat dengan aman di Bandara El Tari, Kupang. Semua penumpang dalam keadaan selamat dan tidak kurang suatu apa pun. Langkah ini adalah bukti bahwa keselamatan tidak bisa ditawar.
Dramatika di Dalam Kabin
Bagi penumpang, momen itu tentu menegangkan. Pesawat sempat berputar-putar di atas Larantuka. Getaran dan turbulensi terasa cukup kuat. Penumpang mulai merasa cemas dan gelisah.
Saat pengumuman divert disampaikan, suasana menjadi campur aduk. Ada rasa lega karena pesawat tidak memaksakan pendaratan. Namun juga ada kekecewaan karena rencana perjalanan tertunda. Semua merasakan ketidaknyamanan itu.
Seorang penumpang bercerita, mereka sempat melihat kabut tebal dari jendela. Hujan deras seperti mencuci kaca pesawat. Pengalaman ini menambah ketegasan bahwa pilot sudah melakukan yang terbaik. Menunggu di Kupang jauh lebih baik daripada celaka di Larantuka.
Protokol Pengamanan Penerbangan
Dalam dunia aviasi, ada aturan baku terkait cuaca. Setiap bandara memiliki batas minimum visibilitas tertentu. Jarak pandang ini harus dipenuhi oleh pilot. Jika tidak, pendaratan harus dibatalkan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan data akurat. Data ini selalu menjadi acuan bagi pilot dan menara kontrol. Informasi kecepatan angin dan tekanan udara sangat krusial. Pilot harus mematuhi semua peringatan yang ada.
Kegagalan mendarat karena cuaca bukan hal baru. Ini menunjukkan praktik penerbangan yang kredibel. Maskapai telah menjalankan prosedur dengan sangat ketat. Otoritas penerbangan juga selalu memastikan standar dipenuhi.
Wings Air lantas menyiapkan skema lanjutan. Penumpang diinapkan sementara di Kupang. Mereka dijadwalkan terbang ke Larantuka keesokan harinya. Setelah cuaca dipastikan benar-benar membaik.
Penting bagi publik untuk memahami hal ini. Penerbangan bukan hanya soal mencapai tujuan. Tetapi yang utama adalah mencapai tujuan itu dengan selamat. Keputusan pilot adalah keputusan yang bijak. Itu adalah keputusan yang berlandaskan pengalaman dan keahlian tinggi.
Ini adalah cerita tentang profesionalisme di balik kokpit. Cerita tentang prioritas tertinggi maskapai. Keselamatan selalu harus didahulukan. Bahkan jika itu berarti harus kembali ke titik awal.
Source: antaranews.com
#WingsAir #PendaratanGagal #Larantuka