Flores Timur dalam Cengkeraman Lima Bencana: Kesiapsiagaan Adalah Kunci Bertahan Hidup

BUGALIMA - Alam seolah tak pernah lelah menguji ketahanan masyarakat Flores Timur. Belum usai duka akibat erupsi Gunung Lewotobi, wilayah yang kaya akan keindahan alam ini kini harus berhadapan dengan gelombang ancaman bencana yang datang silih berganti. Bayangkan saja, Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, mengungkapkan sebuah fakta yang menggetirkan sekaligus menuntut kewaspadaan ekstra: daerahnya kini berstatus siaga lima ancaman bencana sekaligus! Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan potret nyata kondisi kerentanan yang dihadapi ribuan jiwa.

Lima ancaman ini bukanlah ancaman yang terpisah, melainkan hadir dalam satu waktu yang kompleks. Mulai dari semburan api Gunung Lewotobi yang masih aktif, ancaman banjir lahar dingin yang siap menerjang kapan saja, terjangan cuaca ekstrem yang semakin tak terduga, gejolak bencana sosial yang kadang muncul, hingga getaran gempa bumi yang terus berulang. Semuanya ini menjadikan Flores Timur sebagai "kabupaten bencana" yang sesungguhnya.

Sumber: Pixabay

Kesiapsiagaan: Senjata Utama Melawan Ketidakpastian

Dalam menghadapi situasi yang serba tidak pasti ini, Bupati Antonius Doni Dihen menekankan pentingnya penguatan kesiapsiagaan. "Kita harus terus membangun kesiapsiagaan karena ketidakpastian bencana akan selalu ada," ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah pengakuan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi secanggih apa pun belum mampu memberikan kepastian kapan bencana akan berakhir. Satu-satunya pegangan adalah kesiapan diri dan masyarakat.

Situasi yang dihadapi Flores Timur menuntut kolaborasi yang erat dan berkelanjutan. Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Lembaga swadaya masyarakat (LSM), seperti Catholic Relief Services (CRS) yang disebutkan dalam lokakarya Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2026, memegang peranan krusial. Dukungan dari CRS, termasuk dalam pembentukan desa siaga bencana, sangat diapresiasi. Ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun dari tingkat akar rumput, dari desa ke desa.

Membangun Kembali Harapan: Hunian Tetap dan Pemulihan Ekonomi

Di tengah kepungan bencana, secercah harapan mulai muncul melalui upaya pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi warga yang kehilangan rumah akibat erupsi Gunung Lewotobi. Pada tahun 2026, direncanakan pembangunan 244 unit rumah di Desa Lewolaga, di atas lahan seluas 26 hektare, yang juga akan dilengkapi dengan fasilitas sosial. Proses administrasi pengadaan lahan ditargetkan rampung pada Mei hingga Juni 2026, sebelum diserahkan kepada pemerintah pusat untuk tahap pembangunan. Pemerintah daerah juga tengah menyiapkan tambahan lahan sekitar 100 hektare untuk mendukung pembangunan Huntap di lokasi lain. Upaya ini sangat penting, karena tanpa tempat tinggal yang layak, masyarakat akan kesulitan untuk merancang masa depan dan mata pencaharian mereka.

Selain penanganan dampak fisik bencana, pemulihan ekonomi juga menjadi agenda penting. Fokus pemulihan ekonomi direncanakan dimulai pada tahun 2027, dengan pengembangan sektor pertanian, pemberdayaan perempuan, dan peningkatan akses tenaga kerja ke peluang kerja luar negeri. Langkah ini menunjukkan visi jangka panjang pemerintah daerah dalam membantu masyarakat bangkit dari keterpurukan pascabencana.

Tantangan Konstruksi dan Edukasi Bencana

Flores Timur, yang terletak di zona subduksi Indo-Australia, memang merupakan daerah yang rawan bencana. Rentetan gempa bumi yang terjadi, seperti pada April 2026, mengingatkan kembali pentingnya bangunan tahan gempa. Namun, ironisnya, konsep bangunan tahan gempa ini seringkali diabaikan oleh masyarakat, entah karena keterbatasan biaya atau minimnya pengetahuan tentang ancaman bencana. Bahkan, proyek infrastruktur pemerintah pun terkadang mengabaikan aspek krusial ini.

Padahal, sejarah telah mencatat bagaimana gempa besar pada tahun 1992 yang diikuti tsunami di Maumere (Kabupaten Sikka) dan juga menghantam sebagian Ende, telah menelan ribuan korban jiwa. Edukasi mengenai pentingnya konstruksi tahan gempa, serta penegakan aturan pembangunan, menjadi PR besar bagi pemerintah daerah dan semua pihak terkait.

Sinergi Lintas Sektor untuk Ketahanan Bencana

Lokakarya Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2026 yang diadakan bersama CRS ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi lintas sektor. Dengan adanya lima status tanggap darurat yang aktif, kolaborasi antara pemerintah daerah, LSM, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama dalam merancang program yang berdampak nyata. Setiap pihak memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing dalam membangun ketahanan masyarakat Flores Timur.

Kesiapsiagaan bukan hanya tentang memiliki peralatan atau prosedur, tetapi juga tentang membangun kesadaran, meningkatkan kapasitas, dan menumbuhkan semangat gotong royong. Dalam menghadapi ancaman bencana yang terus berulang, Flores Timur membutuhkan lebih dari sekadar respons cepat. Daerah ini membutuhkan ketangguhan yang dibangun bersama, sebuah fondasi kuat agar mampu bertahan dan bangkit dari setiap ujian alam.

Source: https://rri.co.id/regional/976964/pemerintah-kabupaten-flores-timur-siaga-lima-ancaman-bencana



#Flores Timur #Bencana Alam #Kesiapsiagaan Bencana

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama