BUGALIMA - Gempa bumi dengan magnitudo 4,7 mengguncang Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Tenggara (NTT), pada Kamis (9/4/2026) dini hari. Guncangan ini terasa kuat dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga, serta memaksa ratusan orang mengungsi. Peristiwa ini kembali mengingatkan kita akan kerentanan wilayah Flores Timur terhadap bencana alam, khususnya gempa bumi.
Kronologi dan Dampak Gempa
| Sumber: Pixabay |
Gempa terjadi pada Kamis, 9 April 2026, pukul 00:30 WITA. Pusat gempa dilaporkan berada di darat, berjarak 21 kilometer tenggara Larantuka, dengan kedalaman hanya 5 kilometer. Kedalaman yang dangkal ini diduga menjadi salah satu faktor mengapa guncangan terasa begitu kuat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, gempa ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas sesar aktif di wilayah tersebut.
Dampak langsung dari gempa ini cukup signifikan. Berdasarkan data sementara yang dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur, setidaknya lima desa di dua kecamatan terdampak. Dua kecamatan yang paling parah terkena dampak adalah Kecamatan Adonara Timur dan Kecamatan Solor Timur. Di Kecamatan Adonara Timur, delapan desa melaporkan adanya kerusakan, dengan Desa Terong dan Desa Lamahala Jaya menjadi lokasi terparah. Sementara itu, di Kecamatan Solor Timur, lima desa juga melaporkan kerusakan.
Kerusakan rumah warga dilaporkan bervariasi, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat. Hingga tanggal 10 April 2026, tercatat setidaknya 79 rumah mengalami kerusakan. Namun, data ini terus diperbarui seiring dengan proses pendataan dan verifikasi di lapangan. Perkembangan lebih lanjut menunjukkan angka yang lebih mengkhawatirkan. Pada 14 April 2026, data sementara menyebutkan sebanyak 354 unit rumah mengalami kerusakan, berdampak pada 403 kepala keluarga atau sekitar 1.939 jiwa. Kerusakan ini mencakup rumah warga, tempat ibadah, hingga fasilitas umum seperti sekolah dasar.
Gempa Susulan dan Ketakutan Warga
Salah satu hal yang paling menimbulkan kekhawatiran pasca gempa utama adalah terjadinya gempa susulan. BMKG melaporkan bahwa sejak gempa utama terjadi, aktivitas gempa susulan terus berlanjut. Pada hari Kamis siang (9/4/2026), tercatat sudah terjadi 60 kali gempa susulan. Jumlah ini terus bertambah. Hingga periode 10-14 April 2026, BMKG mencatat ada 134 gempa susulan. Meskipun jumlah gempa susulan cenderung menurun setiap harinya, menandakan pelepasan energi dari gempa utama, warga tetap dihantui rasa takut. Ketakutan akan adanya gempa susulan yang lebih besar membuat sebagian warga memilih untuk bertahan di luar rumah atau mendirikan tenda-tenda darurat.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur menetapkan status tanggap darurat bencana sejak 9 April hingga 8 Juli 2026 sebagai respons terhadap peningkatan aktivitas gempa.
Upaya Penanganan dan Bantuan
Menyikapi situasi darurat ini, berbagai upaya penanganan telah dilakukan oleh pemerintah daerah dan badan terkait. Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur segera turun ke lokasi terdampak untuk melakukan pendataan, identifikasi kerusakan, dan kebutuhan penanganan keadaan darurat. Bantuan darurat berupa terpal, tenda, sembako, air bersih, serta perlengkapan mandiri dan cuci mulai didistribusikan kepada warga yang membutuhkan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa BNPB terus memantau dan berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk melakukan langkah-langkah penanganan yang cepat, tepat, dan akurat. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, tercatat ada sejumlah warga yang mengalami luka ringan. Data sementara per 10 April 2026 menyebutkan 15 warga terluka, terdiri dari lima orang luka berat dan sepuluh orang luka ringan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, selalu waspada terhadap potensi gempa susulan, dan menjauhi bangunan yang rusak atau rawan roboh. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak mudah mempercayai isu-isu yang tidak jelas sumbernya dan selalu merujuk pada informasi resmi dari BMKG dan pihak berwenang.
Refleksi Sejarah Bencana Flores
Peristiwa gempa bumi di Flores Timur ini kembali memunculkan ingatan akan tragedi besar yang pernah melanda wilayah tersebut. Pada 12 Desember 1992, gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,8 Skala Richter (SR) diikuti tsunami hebat menghantam Flores, menyebabkan ribuan korban jiwa dan kerusakan masif. Gempa dan tsunami tersebut menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah Indonesia, menghancurkan ribuan rumah, sekolah, dan tempat ibadah. Kejadian di tahun 1992 ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di daerah yang rawan seperti Flores.
Meskipun gempa M4,7 kali ini tidak separah gempa 1992, dampaknya tetap terasa signifikan bagi masyarakat Flores Timur, terutama dalam hal kerusakan infrastruktur dan psikologis akibat ketakutan akan gempa susulan. Semoga penanganan bencana berjalan lancar dan masyarakat dapat segera pulih dari trauma ini.
Source: https://www.infopublik.id/read/670969/update-gempa-m47-di-flores-timur-lima-desa-terdampak.html
#Gempa Flores Timur #BPBD Flores Timur #Bencana Alam NTT