BUGALIMA - Alam kembali menunjukkan kuasanya. Gunung Lewotobi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali bergeliat. Kali ini, kabar yang sampai ke telinga kita, gunung yang konon berpasangan dengan Lewotobi Perempuan ini, kembali memuntahkan amarahnya. Kolom asap dan abu vulkanik membubung hingga satu kilometer ke angkasa. Sebuah pemandangan yang mungkin indah dari kejauhan, namun menyimpan ancaman nyata bagi penduduk di sekitarnya.
Ini bukan kali pertama Lewotobi Laki-laki menunjukkan taringnya. Sejarah mencatat, gunung ini telah berulang kali erupsi, bahkan sejak abad ke-19. Catatan letusan tertua yang berhasil didokumentasikan terjadi pada 4-18 Mei 1861. Sejak saat itu, Lewotobi Laki-laki seolah tak pernah benar-benar tertidur pulas. Periode erupsi terpanjang dalam setengah abad terakhir terjadi dari Desember 2023 hingga 2025. Ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik gunung ini memang sedang tinggi-tingginya.
| Sumber: Pixabay |
Fenomena alam seperti ini, yang seringkali datang tiba-tiba, mengingatkan kita pada sebuah kekuatan yang jauh lebih besar dari segala hiruk pikuk urusan manusia. Ketika gunung berapi erupsi, ia mengingatkan kita akan kerapuhan eksistensi kita di hadapan alam semesta. Dan ketika ia kembali meletus, seperti yang terjadi baru-baru ini dengan kolom abu setinggi 1 kilometer, itu berarti ancaman belum usai.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan status aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki pada Level II (Waspada). Namun, perlu kita ingat, beberapa kali statusnya bahkan sempat dinaikkan menjadi Level III (Siaga) dan bahkan Level IV (Awas). Kenaikan status ini tentu bukan tanpa alasan. Data kegempaan yang terus terpantau, termasuk gempa letusan, gempa hembusan, dan tremor non-harmonik, menunjukkan adanya suplai magma yang terus bergerak menuju permukaan. Amplitudo getaran yang tercatat pun cukup signifikan, kadang mencapai 18,5 mm, mengindikasikan energi yang masih terpendam di dalam perut bumi.
Dampak dari letusan ini, meskipun kolom abunya mungkin tidak setinggi beberapa erupsi sebelumnya, tetaplah nyata. Hujan abu vulkanik adalah salah satu ancaman langsung yang harus dihadapi masyarakat. Hujan abu ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Oleh karena itu, imbauan untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut menjadi sangat penting.
Lebih jauh lagi, erupsi yang terjadi di Gunung Lewotobi Laki-laki ini juga telah menyebabkan ribuan warga mengungsi. Data dari berbagai sumber menyebutkan angka pengungsi mencapai ribuan jiwa, bahkan ada laporan yang menyebutkan lebih dari 7.734 warga mengungsi dan ada pula yang mencapai 7.956 warga. Kehidupan mereka terpaksa terhenti, rumah-rumah mereka mungkin rusak parah, dan sumber penghidupan mereka terancam. Ini adalah gambaran nyata dari kerentanan masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana.
Kita juga perlu waspada terhadap potensi bencana susulan, seperti banjir lahar hujan, terutama jika terjadi curah hujan yang tinggi. Sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki menjadi jalur potensial bagi lahar ini untuk mengalir, membawa material vulkanik yang dapat merusak apa saja di jalurnya.
Peristiwa ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua, termasuk para pengambil kebijakan. Pentingnya mitigasi bencana, kesiapan infrastruktur, dan edukasi masyarakat mengenai risiko gunung berapi tidak bisa ditawar lagi. Sejarah panjang erupsi Lewotobi Laki-laki seharusnya menjadi pelajaran berharga. Kita tidak bisa hanya diam menunggu bencana datang, lalu baru bereaksi. Pendekatan proaktif dalam pengelolaan risiko bencana adalah kunci untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.
Penting juga untuk dicatat bahwa masyarakat lokal memiliki kearifan lokal dan kepercayaan tersendiri terkait gunung ini. Kepercayaan bahwa kedua puncak Gunung Lewotobi adalah pasangan suami istri menambah dimensi budaya yang menarik. Namun, di balik mitos dan kepercayaan, fakta ilmiah tentang aktivitas vulkanik harus tetap menjadi pijakan utama dalam penanganan bencana.
Meskipun artikel ini berfokus pada erupsi terbaru dengan kolom abu setinggi 1 kilometer, penting untuk diingat bahwa aktivitas gunung berapi bersifat dinamis. Kenaikan dan penurunan status, serta intensitas letusan, dapat berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, pemantauan yang berkelanjutan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sangat krusial.
Kita berharap situasi di Flores Timur dapat segera membaik, dan para pengungsi dapat kembali ke rumah mereka dengan aman. Namun, sambil menanti kondisi yang lebih stabil, kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus tetap menjadi prioritas utama. Alam memang berkuasa, namun dengan pengetahuan dan tindakan yang tepat, kita dapat meminimalkan risiko dan melindungi kehidupan. Source: Minanews.net
#Gunung Lewotobi #Letusan Gunung #Bencana Alam Flores