Bentrok Desa di Flores Timur: 12 Bangunan Rusak, Apotek dan Kios Ludes Terbakar, Warga Prihatin

BUGALIMA - Tanah Adonara, Flores Timur, kembali bergejolak. Ketenangan yang seharusnya menjadi ciri khas pulau ini tercabik-cabik oleh api konflik antarwarga dua desa, Narasaosina dan Waiburak, di Kecamatan Adonara Timur. Sabtu malam hingga Minggu pagi, bentrokan yang dipicu oleh sengketa tanah adat yang tak kunjung usai ini, telah menimbulkan duka mendalam. Belasan bangunan, termasuk rumah, apotek, dan kios, rusak parah bahkan ludes terbakar.

Kejadian ini sungguh memilukan. 12 bangunan menjadi saksi bisu amarah yang tak terkendali. Sepuluh rumah warga rata dengan tanah, sementara satu apotek dan satu kios tak luput dari amukan api. Kerugian materiil jelas tak terhitung, namun luka batin dan rasa trauma yang dialami warga tentu jauh lebih berat. Ini bukan sekadar konflik antarwarga, ini adalah tragedi kemanusiaan yang merobek tatanan kehidupan sosial di Flores Timur.

Sumber: Pixabay

Sejarah Kelam yang Terulang

Tragisnya, ini bukanlah kali pertama tanah Adonara dilanda konflik serupa. Pada Maret 2026, peristiwa serupa telah terjadi, menelan korban luka tembak dan merusak sejumlah rumah. Bahkan pada Oktober 2024, bentrokan yang lebih dahsyat merenggut dua nyawa, melukai empat orang, menghancurkan 51 rumah, dan memaksa ratusan warga mengungsi. Sejarah kelam ini seolah terus berulang, membuktikan bahwa akar masalah sengketa tanah adat belum terselesaikan dengan tuntas. Pemerintah Kabupaten Flores Timur memang telah berupaya melakukan mediasi pada Februari 2026, namun tampaknya upaya tersebut belum membuahkan hasil permanen.

"Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh oleh isu maupun informasi yang belum tentu benar, serta menahan diri dari tindakan yang dapat memperkeruh situasi," pinta Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra. "Percayakan proses penanganan kepada aparat keamanan, karena keselamatan, keamanan, dan kedamaian masyarakat adalah prioritas utama kami," tegasnya. Imbauan ini penting untuk mencegah meluasnya provokasi dan hoaks yang bisa memperkeruh suasana.

Respons Cepat Aparat Keamanan

Menyadari eskalasi konflik, ratusan personel gabungan TNI dan Polri segera dikerahkan untuk melakukan pengamanan di titik perbatasan kedua desa. Personel TNI dari Koramil 1624-02 Adonara, bersama dengan personel Polres Flores Timur, Batalyon Brimob Ende, BKO Brimob Polresta Kupang Kota, BKO Penjinak Bom Polres Sikka, dan personel Polsek jajaran, berupaya keras meredam situasi. Kehadiran mereka adalah bentuk komitmen negara dalam memberikan rasa aman kepada seluruh masyarakat.

Kapolres Adhitya Octorio Putra menegaskan bahwa kehadiran personel gabungan di lapangan merupakan bentuk komitmen negara dalam memberikan rasa aman kepada seluruh masyarakat. Ia juga mengajak seluruh tokoh adat, tokoh agama, pemuda, perempuan, serta seluruh elemen masyarakat untuk terus menjadi penyejuk dan penguat persaudaraan. "Semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan budaya musyawarah yang telah lama hidup di tanah Adonara harus tetap dijaga. Setiap persoalan dapat diselesaikan secara damai, bermartabat, dan tetap menjaga persatuan demi terciptanya stabilitas kamtibmas yang berkelanjutan," ucapnya.

Sengketa Tanah Adat: Akar Masalah yang Perlu Tuntas

Di balik kerusakan dan korban jiwa, terselip akar masalah yang perlu segera dituntaskan: sengketa tanah adat. Perbedaan persepsi terkait rencana pemanfaatan lahan di perbatasan kedua wilayah inilah yang menjadi pemicu utama. Upaya mediasi yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Flores Timur sebelumnya, meski patut diapresiasi, tampaknya belum cukup untuk menjangkau titik temu.

Perlu ada langkah yang lebih komprehensif dan melibatkan semua pihak, termasuk para tetua adat dan seluruh elemen masyarakat, untuk mencari solusi permanen. Budaya musyawarah dan mufakat yang menjadi kearifan lokal masyarakat Adonara harus kembali dihidupkan dan diperkuat. Penyelesaian secara adat, yang bersinergi dengan penegakan hukum, mungkin bisa menjadi jalan keluar terbaik.

Pelajaran dari Masa Lalu

Kejadian ini seharusnya menjadi momentum untuk belajar dari masa lalu. Bentrokan yang terus berulang menandakan bahwa ada yang salah dalam mekanisme penyelesaian konflik yang ada. Kita tidak bisa membiarkan sengketa tanah adat terus memicu kekerasan dan kehancuran.

Penting bagi semua pihak untuk menahan diri, tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum jelas kebenarannya, dan mempercayakan penanganan kepada aparat keamanan. Namun, aparat keamanan tidak bisa bekerja sendirian. Dukungan dari tokoh masyarakat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat sangat krusial. Mari kita bergandengan tangan, merajut kembali tali persaudaraan, dan menjadikan Adonara, Flores Timur, sebagai tanah yang damai dan tenteram.

Source: detikcom



#Bentrok Desa #Flores Timur #Konflik Tanah Adat

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama