BUGALIMA - Di tengah riuh rendah ketegangan yang terkadang membayangi wilayah Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, semangat persaudaraan adat justru kian digaungkan. Ini bukan sekadar cerita tentang konflik yang datang dan pergi, melainkan sebuah narasi tentang ketahanan budaya dan kekuatan ikatan sosial yang telah mengakar kuat di tanah Adonara. Laksana api dalam sekam, ketegangan bisa saja muncul, namun bara persaudaraan tak pernah padam, siap dinyalakan kembali saat dibutuhkan.
Budaya Adonara: Keras di Luar, Lembut di Dalam
| Sumber: Pixabay |
Orang Adonara, seperti diungkapkan Ketua Ikatan Keluarga Lamaholot-Kupang, Don Arakian, dikenal memiliki karakter yang tegas dan keras, terutama ketika menyangkut harga diri dan martabat komunitasnya. Sifat ini bukanlah tanpa alasan. Sejarah mencatat bahwa nenek moyang orang Adonara ditempa oleh kehidupan yang keras, di mana pertumpahan darah dalam menyelesaikan sengketa, terutama masalah tanah, menjadi hal yang lumrah. Watak ini terwariskan hingga kini, menjadikan tanah sebagai isu yang sangat sensitif dan kerap menjadi pemicu konflik berdarah, bahkan tak jarang merenggut nyawa.
Namun, di balik ketegasan itu, tersembunyi kekayaan budaya yang luar biasa. Budaya Adonara tidak hanya mengenal pertikaian, melainkan juga memiliki tradisi yang kuat dalam membangun perdamaian dan persaudaraan. Nama "Adonara" sendiri, menurut beberapa penafsiran, memiliki makna "adu saudara" atau bahkan "adu domba". Makna terakhir ini bisa jadi merujuk pada taktik Belanda di masa lalu untuk memecah belah. Namun, dalam konteks kekinian, semangat persaudaraan justru menjadi perekat utama. Tradisi seperti "Talin," di mana keluarga membawa natura sebagai simbol solidaritas, menunjukkan bagaimana kebersamaan dan gotong royong menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Adonara.
Ketegangan Sebagai Ujian, Persaudaraan Sebagai Jati Diri
Ketika ketegangan kembali membayangi Adonara Timur, seperti insiden yang terjadi pada awal Mei 2026, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat bahu-membahu menyerukan pentingnya menahan diri dan mengedepankan persaudaraan adat. Kepolisian Resor Flores Timur, misalnya, menegaskan bahwa penyelesaian persoalan harus mengedepankan nilai kekeluargaan dan musyawarah adat, sambil tetap menghormati hukum yang berlaku.
Langkah-langkah persuasif dan komunikasi sosial menjadi prioritas. Polres Flores Timur tidak hanya melakukan pengamanan, tetapi juga membangun dialog dengan tokoh adat, agama, pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat. Tujuannya jelas: menjaga ruang komunikasi tetap terbuka dan mencegah eskalasi konflik. Penguatan personel keamanan, seperti kehadiran BKO Satuan Brimob Polda NTT, juga dilakukan untuk mempertegas komitmen menjaga ketertiban dan keamanan.
Namun, kehadiran aparat keamanan semata tidaklah cukup. Kunci utamanya terletak pada masyarakat itu sendiri. Ketua Ikatan Keluarga Lamaholot-Kupang, Don Arakian, mengingatkan bahwa orang Adonara boleh keras, tetapi tidak boleh kehilangan persaudaraan. Dalam hukum adat Adonara, ada perang, tetapi ada pula damai. Di sinilah kebijaksanaan para pemangku adat dituntut. Perdamaian tidak cukup hanya diwujudkan melalui kesepakatan formal; perdamaian harus hadir dalam bentuk pemulihan hubungan sosial dan penghormatan terhadap martabat kedua belah pihak.
Menganyam Kembali Tali Persaudaraan
Secara historis, pulau Adonara sendiri memiliki tatanan sosial yang kuat, terbagi dalam sistem pemerintahan berdasarkan suku, dengan kepala suku dan kaum bangsawan memegang peranan penting. Rumpun masyarakat Lamaholot, yang mencakup Adonara, Flores Timur, dan Lembata, bersatu dalam bahasa Lamaholot, meskipun terdapat perbedaan dialek. Semangat persaudaraan abadi, di mana "kau dan aku menjadi satu," menjadi cita-cita luhur yang terus dijaga. Bahkan bagi masyarakat Adonara yang merantau, semangat cinta tanah air dan jiwa patriotisme tetap berkobar, berupaya membangun perspektif kebudayaan baru yang mampu berdialog dengan budaya lain.
Meski sejarah Adonara juga diwarnai konflik, seperti perang Paji-Demon pada tahun 1859, namun fondasi persaudaraan selalu menjadi daya ungkit untuk bangkit kembali. Upaya pelestarian budaya lokal, seperti yang dilakukan oleh Ikatan Keluarga Adonara Surabaya (IKA-S), menjadi salah satu cara untuk merekonstruksi nilai-nilai luhur dan mengukuhkan Adonara sebagai miniatur kebhinekaan Indonesia.
Dalam menghadapi tantangan zaman, di mana pengaruh budaya luar terkadang bertentangan dengan nilai-nilai asli, penting bagi generasi muda Adonara untuk terus diperkenalkan dan memahami budaya asli mereka. Ini bukan sekadar menjaga warisan, tetapi juga membangun fondasi kedamaian di masa depan. Semangat persaudaraan ini bukan hanya menjadi milik masyarakat Adonara, tetapi juga menjadi cerminan pentingnya ukhuwah (persaudaraan) sebagai fondasi utama kekuatan bangsa Indonesia, sebagaimana ditekankan oleh berbagai tokoh agama dan masyarakat.
Di tengah berbagai dinamika yang terjadi, entah itu ketegangan sosial, bencana alam, atau bahkan pandemi, semangat persaudaraan Adonara menjadi pengingat bahwa di balik setiap tantangan, selalu ada kekuatan untuk bangkit bersama. Ini adalah kisah tentang ketahanan, tentang bagaimana sebuah komunitas mampu menggaungkan semangat persaudaraan, bahkan ketika badai menerpa. Adonara, sebuah pulau dengan sejarah panjang, terus membuktikan bahwa ikatan kekeluargaan dan persaudaraan adalah jangkar yang kokoh di tengah lautan kehidupan yang penuh gelombang.
Source: https://selatanindonesia.com/di-tengah-ketegangan-semangat-persaudaraan-adonara-digaungkan/
#Adonara #Persaudaraan #Flores Timur