BUGALIMA - Flores Timur, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, kini tengah berbenah. Bukan sekadar menambal jalan atau membangun gedung, tapi sebuah revolusi senyap sedang bergulir: membangun budaya literasi dan membenahi pelayanan publik secara serius. Ini bukan sekadar retorika kosong para pejabat, melainkan sebuah komitmen yang mulai menampakkan hasil, sebagaimana diperingati dalam berbagai momen penting, termasuk Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional ke-46, Hari Buku Nasional, dan Hari Kearsipan Nasional ke-55 pada 18 Mei 2026.
Sekretaris Daerah Kabupaten Flores Timur, Petrus Pedo Maran, dalam amanatnya, menegaskan bahwa literasi dan kearsipan adalah fondasi. Fondasi untuk apa? Untuk membangun daerah yang maju, berdaya saing, profesional, dan akuntabel. "Pembangunan daerah membutuhkan sumber daya manusia yang literat serta sistem administrasi yang tertata dengan baik," ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar jargon. Ini adalah pengakuan bahwa di era informasi serba cepat ini, kemelekan literasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Tanpa kemampuan membaca, memahami, dan kritis, masyarakat akan tertinggal. Pun demikian dengan arsip. Arsip bukan sekadar tumpukan kertas usang, melainkan rekaman sejarah, sumber informasi krusial untuk pengambilan kebijakan, dan bukti akuntabilitas. Pengelolaan arsip yang baik akan berbanding lurus dengan pelayanan publik yang cepat, transparan, dan mudah diakses.
| Sumber: Pixabay |
Inisiatif Flores Timur ini patut diacungi jempol. Mereka tidak hanya menjadikan perpustakaan sebagai gudang buku, tetapi sebagai pusat pembelajaran dan literasi publik. Ini adalah perubahan paradigma yang signifikan. Perpustakaan harus menjadi tempat yang hidup, tempat bertumbuhnya ide, tempat diskusi, tempat literasi digital pun bisa diakses. Dan kabar baiknya, ini bukan sekadar angan-angan.
Mari kita lihat lebih dalam. Komitmen Flores Timur untuk menjadi Kabupaten Literasi Nasional bukanlah hal baru. Sejak 2018, Bupati Antonius Gege Hadjon telah mendeklarasikannya. Gerakan ini terus digelorakan, tidak hanya di sekolah dan taman bacaan, tetapi juga melalui festival literasi, lomba membaca dan menulis, serta workshop penulisan berita dan buku. Komunitas Pustaka Bambu pun turut berperan aktif, menjadikan taman baca sebagai ruang bermain yang menyenangkan bagi anak-anak, dengan pendekatan kreatif seperti mendongeng dan permainan edukatif. Mereka tidak memaksa anak-anak membaca, melainkan menciptakan suasana agar anak-anak tertarik secara spontan. Ini strategi cerdas yang menyasar akar masalah: menumbuhkan minat dari dalam diri.
Di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN), budaya literasi juga mulai digalakkan. Setiap ASN wajib membaca buku sebelum memulai kerja dan membuat resensinya. Ini bukan sekadar tugas tambahan, melainkan upaya pengembangan kapasitas diri dan aparatur yang profesional dan akuntabel. Bayangkan, jika setiap ASN membekali diri dengan pengetahuan baru setiap hari, betapa besar dampaknya bagi pelayanan publik.
Ngomong-ngomong soal pelayanan publik, Flores Timur memang masih punya pekerjaan rumah. Laporan Ombudsman NTT menunjukkan bahwa pada tahun 2022, kabupaten ini masuk dalam lima besar daerah yang paling sering dilaporkan terkait pelayanan publik. Bahkan pernah ada catatan dari Ombudsman NTT yang menyentil pelayanan RSUD. Namun, alih-alih defensif, Pemerintah Kabupaten Flores Timur justru merespon dengan positif. Penjabat Bupati saat itu mendatangi kantor Ombudsman untuk mendiskusikan kendala dan mencari solusi. Ini menunjukkan kemauan untuk berbenah.
Pemerintah daerah juga mulai melirik teknologi untuk mempermudah pelayanan. Peluncuran aplikasi Srikandi, Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi, menjadi bukti nyata. Aplikasi ini dikembangkan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia untuk pengelolaan tata naskah dinas dan arsip digital. Tujuannya jelas: mempercepat transformasi pelayanan administrasi pemerintahan daerah melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Keberanian untuk beradaptasi dengan teknologi ini patut diapresiasi, terutama di tengah keterbatasan anggaran.
Tentu saja, perjalanan membangun budaya literasi dan meningkatkan pelayanan publik tidaklah mulus. Tantangan masih ada. Keterbatasan akses bahan bacaan, rendahnya minat baca yang bukan hanya soal ketersediaan buku tetapi juga kesadaran membaca, serta aspek sosial dan budaya yang belum sepenuhnya mendukung kebiasaan membaca masih menjadi pekerjaan rumah besar. Terkadang, program literasi hanya berjalan seremonial tanpa keberlanjutan.
Namun, semangat yang ditunjukkan Flores Timur patut kita apresiasi. Dari deklarasi menjadi kabupaten literasi pada 2018, hingga kini mereka terus merajut program-program inovatif. Dari menjadikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, mewajibkan ASN membaca buku, hingga meluncurkan aplikasi kearsipan digital, semua adalah langkah nyata. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Flores Timur terus mendorong terbentuknya desa, kelurahan, dan sekolah literasi di seluruh wilayahnya.
Semua ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat itu sendiri. Peran aktif dari sekolah, komunitas, dan tentu saja, kesadaran individu untuk terus belajar dan berkembang, adalah kunci keberhasilan. Flores Timur membuktikan bahwa perubahan itu mungkin, asalkan ada kemauan kuat dan langkah strategis yang berkelanjutan. Generasi muda yang literat adalah aset bangsa yang tak ternilai. Dengan budaya literasi yang kuat dan pelayanan publik yang prima, Flores Timur sedang membangun masa depan yang lebih cerah.
Source: RRI.co.id
#literasi #pelayanan publik #Flores Timur