Korban Bentrokan Desa Flores Timur Bertambah, Ancaman Konflik Laten Makin Nyata

BUGALIMA - Kabut asap konflik kembali menebal di Nusa Tenggara Timur. Kali ini, sorotan tertuju pada bentrokan antarwarga di Flores Timur, tepatnya di Kecamatan Adonara Timur, antara Desa Narasaosina dan Desa Waiburak. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu malam, 9 Mei 2026, dan berlanjut hingga Minggu, 10 Mei 2026, telah menelan korban jiwa dan menimbulkan kerugian materiil yang signifikan. Berdasarkan laporan terbaru, jumlah korban bertambah menjadi tujuh orang. Satu korban tambahan, Fildan Ahmad, warga Desa Bele yang berusia 24 tahun, harus segera dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lewoleba, Lembata, akibat luka yang dideritanya.

Bentrok yang diduga dipicu oleh sengketa kepemilikan tanah adat ini, bukanlah kali pertama terjadi. Konflik serupa telah berulang kali terjadi, termasuk pada Maret 2026, yang menyebabkan lima warga luka tembak dan enam rumah rusak serta terbakar. Selang sebulan kemudian, konflik kembali memanas, mengakibatkan enam rumah terbakar dan satu warga dilarikan ke RSUD Larantuka akibat terkena peluru rakitan. Catatan ini menunjukkan betapa rentannya kedamaian di wilayah tersebut dan betapa lamanya akar permasalahan yang belum terselesaikan.

Sumber: Pixabay

Akar Masalah yang Terus Menghantui

Sengketa kepemilikan tanah adat tampaknya menjadi benang merah dari serangkaian bentrokan yang terjadi di Flores Timur. Meskipun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur telah berupaya melakukan mediasi, upaya tersebut belum menemukan titik temu yang memuaskan kedua belah pihak. Mediasi terakhir yang dilakukan pada Kamis, 26 Februari 2026, di Kantor Bupati Flores Timur, belum mampu meredam gejolak yang terus memanas. Bahkan, Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, dengan tegas menyatakan tidak akan memberikan bantuan biaya kepada para korban, dengan alasan bahwa "perang adalah pilihan warga sendiri". Pernyataan ini tentu saja menimbulkan kontroversi, namun di sisi lain, Bupati berharap hal ini dapat menjadi pelajaran agar masyarakat tidak terus-menerus terjerumus dalam konflik.

Dampak Kerusakan dan Korban yang Terus Bertambah

Akibat bentrokan terbaru ini, sedikitnya 12 bangunan dilaporkan rusak berat, termasuk 10 rumah warga, satu apotek, dan satu kios. Enam rumah lainnya dilaporkan terbakar habis. Kerugian materiil ini menambah daftar panjang kehancuran yang disebabkan oleh konflik yang berulang. Para korban, baik yang mengalami luka tembak maupun kehilangan harta benda, membutuhkan perhatian dan bantuan yang serius. Hingga Minggu siang, 10 Mei 2026, beberapa warga yang terkena peluru rakitan dilarikan ke RSUD Larantuka untuk mendapatkan perawatan medis. Laporan menyebutkan bahwa empat warga korban luka tembak telah masuk rumah sakit, mengalami luka akibat peluru rakitan dan menjalani penanganan intensif.

Upaya Penanganan dan Pengamanan

Menyikapi eskalasi konflik ini, pihak Kepolisian Resor (Polres) Flores Timur mengerahkan personel gabungan TNI-Polri untuk melakukan pengamanan. Sebanyak 157 personel gabungan, termasuk dari Komando Rayon Militer (Koramil) 1624-02 Adonara dan berbagai satuan Brimob, diturunkan ke lapangan. Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, menegaskan bahwa kehadiran personel gabungan ini merupakan komitmen negara dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat. Ia juga mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terpengaruh isu yang belum tentu benar, dan menahan diri dari tindakan yang dapat memperkeruh situasi. "Percayakan proses penanganan kepada aparat keamanan, karena keselamatan, keamanan, dan kedamaian masyarakat adalah prioritas utama kami," ujar AKBP Adhitya.

Selain itu, Kapolres juga mengajak seluruh tokoh adat, tokoh agama, pemuda, perempuan, serta seluruh elemen masyarakat untuk menjadi penyejuk dan penguat persaudaraan. Semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan budaya musyawarah yang telah lama hidup di tanah Adonara diharapkan dapat menjadi solusi damai dalam penyelesaian setiap persoalan. Namun, melihat sejarah konflik yang terus berulang, pertanyaan besar menggantung: kapan kedamaian sejati akan benar-benar terwujud di Flores Timur? Sengketa tanah yang tak kunjung usai, ditambah dengan pola penyelesaian konflik yang tampaknya belum efektif, menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Source: https://news.detik.com/berita/d-7303007/korban-bentrokan-2-desa-di-flores-timur-bertambah-jadi-7-orang



#Flores Timur #Bentrok Desa #Konflik Tanah Adat

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama