Polres Flores Timur Amankan 863 Senjata Api Rakitan dan Tajam Pasca Konflik Adonara, Upaya Damai Berbuah Hasil

BUGALIMA - Peristiwa berdarah di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, memang menyisakan luka mendalam. Namun, di tengah kepedihan itu, muncul secercah harapan. Polres Flores Timur berhasil mengamankan ratusan senjata api rakitan (senpira) dan senjata tajam (sajam) dari masyarakat pasca konflik sosial yang melanda pulau tersebut. Sebuah pencapaian luar biasa yang menunjukkan bahwa dialog dan pendekatan humanis mampu meredam bara api permusuhan.

Total 863 senjata berhasil diamankan, terdiri dari 122 pucuk senpira, 431 buah sajam, serta 258 butir amunisi dan lainnya. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata dari niat masyarakat untuk mengakhiri kekerasan dan kembali merajut persaudaraan. Penyerahan senjata ini merupakan hasil dari pendekatan persuasif dan humanis yang intensif dilakukan oleh Polres Flores Timur bersama pemerintah desa dan tokoh masyarakat. Melalui sosialisasi dan dialog yang berkelanjutan, masyarakat akhirnya tergerak untuk menyerahkan senjata yang selama ini menjadi alat pemecah belah.

Sumber: Pixabay

Konflik di Adonara, yang kerap kali dilatarbelakangi oleh sengketa lahan dan hak ulayat, telah menjadi luka lama yang terus membekas. Sejarah mencatat, tanah di Adonara bukan sekadar lahan, melainkan simbol martabat, identitas, dan kehormatan leluhur. Konsep "Lera Wulan Tanah Ekan" dalam kosmologi masyarakat Lamaholot menunjukkan betapa sakralnya hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi dengan tanah. Oleh karena itu, ketika tanah dipersoalkan, yang dipertaruhkan bukan hanya lahan, tetapi juga harga diri komunitas. Tak heran jika Adonara kerap mendapat julukan "pulau pembunuh", sebuah metafora sosial yang lahir dari sejarah panjang konflik.

Sejarah konflik di Adonara memang cukup panjang, bahkan bisa ditelusuri hingga abad ke-19 saat wilayah ini masih terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil. Perebutan wilayah, sumber daya alam, hingga sengketa genealogis kerap memicu bentrokan antar kampung. Tradisi "perang tanding" pun sempat menjadi cara penyelesaian konflik yang diyakini sebagai ritual sakral untuk menentukan siapa yang benar dan salah. Perang tanding ini seringkali melibatkan senjata tajam seperti parang, tombak, dan panah, serta menjadi pertaruhan harga diri dan kehormatan.

Namun, di tengah tradisi kekerasan yang diwariskan, kini muncul kesadaran baru. Polres Flores Timur, melalui Kapolres AKBP Adhitya Octorio Putra, mengedepankan langkah-langkah humanis. "Kami mengedepankan upaya pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat. Ketika masyarakat kooperatif, kami lebih mengutamakan kepentingan sosial dan terciptanya situasi yang aman serta kondusif," ujar Kapolres. Pendekatan dialogis dan persuasif menjadi kunci keberhasilan penyerahan senjata ini.

Kronologi Penyerahan Senjata

Proses penyerahan senjata ini tidak terjadi dalam semalam. Sejumlah pemberitaan menunjukkan beberapa tahap penyerahan senjata yang dilakukan oleh warga di berbagai lokasi di Adonara Timur.

Pada tanggal 25 Mei 2026, polisi menerima penyerahan 192 pucuk senjata api rakitan dan senjata tajam dari warga yang berkonflik. Ini merupakan langkah awal yang signifikan dalam upaya meredakan konflik.

Kemudian, pada tanggal 25 Mei 2026, dalam penyerahan tahap kedua, masyarakat Desa Saosina dan Desa Narasaosina menyerahkan sebanyak 140 barang bukti, termasuk 19 pucuk senpira, 90 batang anak panah, 27 buah busur, dan 4 buah amunisi. Penyerahan ini didukung oleh Kepala Desa Saosina, Jamaludin Jou Dadi, dan Kepala Desa Narasaosina, Januarius Tolan Igor, S.Fil., serta tokoh adat.

Selanjutnya, pada tanggal 18 Mei 2026, warga Dusun Bele, Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, juga menyerahkan sejumlah senjata rakitan ke polisi. Barang yang diserahkan meliputi 30 pucuk senpira, 171 butir amunisi, 3 busur, 22 anak panah, dan 1 tombak. Kepala Desa Waiburak, Mohamad Saleh, bersama tokoh masyarakat, secara sukarela menyerahkan senjata tersebut sebagai upaya menjaga kedamaian.

Pendekatan Humanis Polres Flores Timur

Keberhasilan Polres Flores Timur dalam mengamankan ratusan senjata ini tidak lepas dari pendekatan yang mereka ambil. Alih-alih menggunakan pendekatan represif, polisi memilih jalur persuasif dan humanis.

#### Dialog dan Sosialisasi

Polres Flores Timur secara intensif melakukan dialog dan sosialisasi dengan masyarakat, baik melalui pemerintah desa maupun tokoh adat. Tujuannya adalah untuk membangun kembali kepercayaan dan meyakinkan masyarakat bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan secara damai.

#### Melibatkan Tokoh Lokal

Keterlibatan tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah desa menjadi sangat krusial dalam proses mediasi. Mereka memiliki pengaruh besar di masyarakat dan dapat membantu meredam emosi serta mengajak warga untuk kembali bersatu.

#### Membangun Kembali Kepercayaan

Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan masyarakat. "Kami mengapresiasi keterlibatan tokoh adat, pemerintah desa, dan masyarakat yang telah mendukung proses pemulihan pascakonflik," katanya. Dengan membangun kepercayaan, masyarakat merasa lebih aman dan terbuka untuk berdialog serta menyerahkan senjata mereka.

Tantangan Pasca Konflik

Meskipun situasi keamanan berangsur kondusif dan ratusan senjata berhasil diamankan, tantangan pasca konflik masih ada. Sengketa lahan yang menjadi akar persoalan perlu terus ditangani dengan bijaksana. Selain itu, pemulihan ekonomi dan sosial bagi korban konflik juga menjadi prioritas.

Beberapa korban bentrokan di Adonara bahkan menyuarakan kekecewaan karena belum menerima bantuan dari pemerintah daerah dan belum pernah dikunjungi oleh Bupati Flores Timur. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemulihan tidak hanya sebatas pengamanan senjata, tetapi juga harus mencakup aspek kesejahteraan dan perhatian kepada mereka yang terdampak.

Situasi kamtibmas di wilayah Adonara Timur kini telah kondusif dan aktivitas masyarakat kembali berjalan normal. Personel Polres Flores Timur dan Brimob masih disiagakan untuk menjaga keamanan dan mencegah konflik susulan. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa perdamaian yang telah diraih dapat terjaga keberlangsungannya.

Pesan yang ingin disampaikan melalui penyerahan senjata ini adalah penolakan terhadap kekerasan dan komitmen untuk membangun masa depan yang lebih damai. Ini adalah bukti nyata bahwa persaudaraan dan keamanan bersama lebih penting daripada perselisihan yang memecah belah.

Source: Reportase News



#Konflik Adonara #Senjata Api Rakitan #Flores Timur

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama