90 Petani Flores Timur Belajar Hortikultura Modern di So'e: Cetak Petani Otak, Bukan Otot!

BUGALIMA - Di sebuah sudut timur Pulau Flores, tepatnya di Kabupaten Flores Timur (Flotim), semangat bertani sedang membuncah. Bukan sekadar membajak sawah atau menanam padi semata, namun hasrat untuk naik kelas, bertransformasi menjadi petani yang melek teknologi dan berdaya saing. Inilah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Flores Timur memberangkatkan 90 petani andalannya ke So'e, sebuah daerah yang kini menjadi rujukan dalam pengembangan hortikultura. Sebuah langkah strategis, sebuah investasi masa depan demi mewujudkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani yang lebih hakiki.

Perjalanan 90 petani ini ke So'e, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), bukanlah sekadar studi banding biasa. Ini adalah sebuah misi peningkatan kapasitas, sebuah upaya serius untuk memindahkan ilmu dari lahan yang terbukti berhasil ke lahan-lahan potensial di Flotim. Seperti kata Wakil Bupati Flores Timur, Ignas Boli Uran, dalam sebuah kesempatan, "Dulu kita petani otot. Dengan belajar ke Soe semoga kita bisa menjadi petani otak." Pepatah ini bukan sekadar kiasan, namun sebuah refleksi mendalam tentang perlunya perubahan paradigma dalam dunia pertanian kita. Kita tak bisa lagi hanya mengandalkan kekuatan fisik semata, melainkan harus dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan inovasi yang terus berkembang.

Sumber: Pixabay

Mengapa So'e? Kenapa bukan tempat lain? Alasan sederhananya, So'e telah membuktikan diri sebagai kiblat praktik pertanian yang baik atau *good agricultural practices* (GAP) di sektor hortikultura. Di sana, petani tak hanya menanam, tapi juga mengelola, mengorganisir, dan membangun rantai pasok yang kuat hingga ke pasar. Inilah yang ingin ditiru oleh para petani dari Flotim. Mereka tidak hanya akan belajar teknik budidaya yang lebih efisien dan produktif, tetapi juga bagaimana mengelola kelembagaan petani, memperkuat kelompok tani, dan memahami alur bisnis dari hulu ke hilir.

Proses seleksi peserta pun tak kalah menarik. 90 petani yang diberangkatkan ini adalah representasi dari berbagai elemen penting dalam ekosistem pertanian Flotim. Ada petani milenial yang membawa semangat inovasi dan adaptasi teknologi, kelompok wanita tani yang kerap menjadi tulang punggung dalam praktik pertanian sehari-hari, serta petani dari wilayah yang terdampak erupsi Gunung Lewotobi, yang membutuhkan dukungan dan solusi untuk bangkit kembali. Ditambah lagi, beberapa peserta merupakan petani dampingan dari lembaga seperti Karitas Keuskupan Larantuka dan mitra pendamping lainnya. Ini menunjukkan bahwa program ini adalah sebuah gerakan kolektif, melibatkan berbagai pihak untuk mencapai tujuan yang sama.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Flotim, Yosef Sadi Openg, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan fokus pembangunan daerah pada sektor pertanian. "Peningkatan produktivitas dan pendapatan petani menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa pertanian bukan sekadar urusan pangan, tetapi juga pilar ekonomi yang fundamental bagi kemajuan daerah.

Pelatihan yang akan berlangsung ini bukan sekadar teori di ruang kelas. Para petani akan langsung terjun ke lapangan, menyaksikan dan mempraktikkan langsung *Good Agriculture Practices* (GAP) di kawasan pengembangan hortikultura yang selama ini didampingi oleh yayasan seperti Plan Internasional dan Yayasan Krisna. Ini adalah pendekatan *Training of Trainer* (TOT), di mana para petani terpilih akan menjadi agen perubahan, yang nantinya akan menularkan ilmu dan keterampilan mereka kepada petani lain di daerah masing-masing. Sebuah efek domino positif yang diharapkan akan bergulir ke seluruh penjuru Flotim.

Lebih jauh lagi, program ini juga bertujuan untuk memperkuat rantai pasok pangan lokal yang terhubung dengan kebutuhan pasar. Ini krusial di era modern ini, di mana produk pertanian tidak hanya harus berkualitas, tetapi juga harus memiliki akses pasar yang jelas. Keterhubungan dengan program-program seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu fokus, menunjukkan bagaimana sektor pertanian dapat berkontribusi langsung pada perbaikan gizi masyarakat, terutama anak-anak.

Bayangkan, sekembalinya dari So'e, 90 petani ini akan membawa "oleh-oleh" yang jauh lebih berharga daripada sekadar suvenir. Mereka akan membawa pengetahuan, keterampilan, dan visi baru. Mereka akan menjadi agen perubahan, para "petani otak" yang siap mentransformasi lahan-lahan di Flotim menjadi sentra-sentra hortikultura yang modern, produktif, dan berkelanjutan. Harapannya, praktik-praktik baik yang dipelajari di So'e akan direplikasi, dikembangkan, dan disesuaikan dengan kondisi lokal di Flotim. Pemerintah daerah pun berkomitmen untuk terus mendampingi melalui penyuluh pertanian, memastikan bahwa hasil pelatihan ini tidak hanya berhenti pada tataran teori, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani dan penguatan ketahanan pangan daerah.

Ini adalah cerita tentang harapan, tentang transformasi, dan tentang bagaimana investasi pada sumber daya manusia, dalam hal ini para petani, dapat menjadi kunci kemajuan sebuah daerah. So'e menjadi saksi bisu upaya Flotim untuk mencetak generasi petani yang lebih cerdas, lebih berdaya, dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.

Source: https://rri.co.id/rri-ende/berita-daerah/147548/sembilan-puluh-petani-flotim-belajar-hortikultura-di-soe



#Hortikultura #Petani Flores Timur #Peningkatan Kapasitas

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama