BUGALIMA - Alam kembali menunjukkan kekuatannya. Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali erupsi pada Selasa, 2 Juni 2026 pagi. Semburan abu vulkanik setinggi satu kilometer di atas puncak gunung mengejutkan warga setempat dan mengingatkan kita akan dahsyatnya kekuatan alam yang patut diwaspadai.
Peristiwa erupsi yang terjadi pada pukul 07.47 WITA ini dikonfirmasi oleh Ketua Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Lewotobi Laki-laki, Herman Yosef Mboro. Kolom abu teramati membubung tinggi, berwarna kelabu pekat, dan bergerak ke arah barat daya serta barat. Erupsi ini terekam dalam seismogram dengan amplitudo maksimum 11 milimeter dan durasi sekitar 2 menit 28 detik. Meskipun ketinggian abu vulkanik mencapai 1 kilometer di atas puncak gunung (sekitar 2.584 meter di atas permukaan laut), hingga saat ini belum ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan berarti akibat erupsi ini.
| Sumber: Pixabay |
Ancaman di Balik Keindahan Alam
Nusa Tenggara Timur, dengan bentang alamnya yang memukau, ternyata juga menyimpan potensi ancaman dari keganasan alam. Gunung Lewotobi Laki-laki, yang memiliki ketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut, merupakan bagian dari kompleks gunung berapi dengan dua puncak: Lewotobi Laki-laki dan Lewotobi Perempuan. Nama ini konon berasal dari legenda setempat yang menggambarkan kisah sepasang suami-istri. Namun, di balik keunikan dan keindahannya, gunung ini menyimpan energi yang luar biasa, siap untuk meletus kapan saja.
Sejarah mencatat bahwa Gunung Lewotobi telah beberapa kali mengalami erupsi. Salah satu letusan besar terjadi pada tahun 1935, yang tidak hanya menyebabkan kerusakan luas tetapi juga mengubah bentuk kawahnya. Aktivitas vulkanik juga tercatat pada tahun 2003 dan 2023. Erupsi yang lebih signifikan terjadi pada 4 November 2024, di mana gunung ini memuntahkan debris pijar ke beberapa desa sejauh 4 km, menghancurkan rumah dan menewaskan sembilan orang. Letusan ini bahkan disebut sebagai peristiwa vulkanik paling dahsyat di Indonesia sejak Letusan Gunung Semeru pada tahun 2021.
Pada 3 November 2024 malam, letusan Gunung Lewotobi Laki-laki kembali terjadi, menyebabkan 10 orang tewas, 63 luka-luka, dan puluhan rumah terbakar. Lebih dari 2.700 keluarga atau 12.200 orang mengungsi akibat peristiwa ini. Abu vulkanik yang dimuntahkan bahkan dilaporkan mencapai Pulau Lombok, yang berjarak sekitar 1.000 km.
Status Siaga dan Rekomendasi Keselamatan
Saat ini, Gunung Lewotobi Laki-laki berstatus Siaga atau Level III. Status ini berarti gunung api tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi masyarakat di sekitarnya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.
Masyarakat yang berada di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki, termasuk pengunjung atau wisatawan, diminta untuk mematuhi imbauan ini demi keselamatan bersama. Selain itu, warga juga diimbau untuk mewaspadai potensi bahaya sekunder seperti banjir lahar hujan, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Warga yang terpapar abu halus diminta untuk segera mengamankan diri di dalam rumah dan menjaga kesehatan fisik.
Dampak Erupsi dan Gangguan Aktivitas
Erupsi Gunung Lewotobi, terutama yang berskala besar, tidak hanya mengancam keselamatan warga tetapi juga berdampak pada aktivitas sehari-hari dan transportasi. Hujan abu vulkanik yang tebal dapat mengganggu kesehatan pernapasan dan memaksa aktivitas luar ruangan dibatasi. Pada erupsi sebelumnya, abu vulkanik yang terbawa angin hingga ratusan kilometer menyebabkan pembatalan penerbangan di wilayah Nusa Tenggara dan Bali, bahkan beberapa bandara sempat ditutup.
Diperkirakan lebih dari 1.000 warga terpaksa mengungsi dari daerah terdampak. Sekolah di area yang terkena dampak juga ditutup untuk melindungi siswa dan staf dari bahaya vulkanik. Situasi ini tentu saja menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial bagi masyarakat setempat.
Pelajaran dan Kesiapsiagaan
Setiap erupsi gunung berapi, termasuk Gunung Lewotobi Laki-laki, selalu menyisakan pelajaran berharga. Peristiwa ini mengingatkan kita akan kekuatan alam yang luar biasa dan pentingnya kesiapsiagaan. Pemerintah daerah, bersama dengan PVMBG dan badan penanggulangan bencana, terus berupaya memantau aktivitas gunung api dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat.
Edukasi mengenai mitigasi bencana, jalur evakuasi yang aman, serta cara menghadapi dampak erupsi, seperti penggunaan masker dan menjaga kesehatan, menjadi kunci utama. Masyarakat juga diharapkan untuk tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya dan selalu mengikuti arahan dari pihak berwenang.
Mari kita berharap agar aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki segera mereda dan masyarakat di NTT dapat kembali beraktivitas dengan aman. Keselamatan adalah prioritas utama, dan kesiapsiagaan adalah kunci dalam menghadapi potensi bencana alam.
#Gunung Lewotobi #Erupsi NTT #Abu Vulkanik