BUGALIMA - Alam kembali menunjukkan taringnya di ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Gunung Lewotobi Laki-laki, yang selama ini menjadi lanskap ikonik dan sekaligus pengingat akan kekuatan alam, kembali bergolak. Jumat, 5 Juni 2026, menjadi saksi bisu erupsi dahsyat yang mengguncang wilayah Flores Timur. Sebanyak empat kali letusan terjadi berturut-turut, melunturkan abu vulkanik yang kemudian turun bagai hujan di sejumlah desa. Kejadian ini tentu saja kembali membangkitkan kewaspadaan masyarakat dan pihak berwenang.
Status gunung api ini pun telah ditetapkan berada pada level III atau Siaga. Peringatan keras dikeluarkan: warga diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari puncak gunung. Ini bukan sekadar angka, melainkan sebuah zona bahaya yang harus dihormati demi keselamatan bersama. Abu vulkanis yang membubung tinggi, mencapai 2.000 hingga 2.500 meter di atas puncak, menyebar ke arah barat dan barat daya, membawa kegelisahan bagi penduduk di sekitarnya. Desa Boru, salah satu wilayah yang berada di arah barat Kecamatan Wulanggitang, merasakan langsung dampak hujan abu tipis yang berlangsung selama hampir sepuluh menit.
| Sumber: Pixabay |
Meskipun begitu, menarik untuk dicatat, di tengah guyuran abu tipis itu, aktivitas warga tampak normal. Pengendara motor dan pejalan kaki masih terlihat bepergian tanpa masker. Perilaku ini, di satu sisi, menunjukkan ketangguhan dan adaptasi masyarakat Flores Timur yang telah terbiasa hidup berdampingan dengan gunung berapi. Namun, di sisi lain, ini juga menjadi pengingat bahwa edukasi mengenai bahaya abu vulkanis perlu terus digalakkan. Abu halus yang mengancam kesehatan pernapasan ini seharusnya tidak disepelekan. Saat hujan abu turun, berlindung di dalam rumah adalah langkah paling bijak.
Sejarah mencatat bahwa Gunung Lewotobi Laki-laki bukanlah pendatang baru dalam urusan erupsi. Sejak tahun 1861, gunung ini telah mencatatkan lebih dari 17 kali erupsi, baik besar maupun kecil. Riwayat panjang ini menunjukkan betapa dinamisnya aktivitas vulkanik di wilayah ini. Erupsi pada tahun 1865, 1868 (dua kali), 1869, 1907, 1909, 1914, hingga rentetan letusan pada tahun 1930-an dan 1940-an, hingga tahun 1968-1971, dan yang terbaru di tahun 2022, 2023, dan 2024, menjadi bukti nyata bahwa Lewotobi Laki-laki selalu menjadi subjek pengamatan serius. Setiap letusan, sekecil apapun, adalah pengingat bahwa kita hidup di atas planet yang aktif secara geologis.
Flores Timur dan wilayah sekitarnya, dengan keberadaan Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Lewotobi Perempuan, memang menjadi bagian dari cincin api Pasifik. Keindahan alamnya tak terlepas dari potensi bencana yang selalu mengintai. Masyarakat di sini telah belajar untuk hidup dengan ritme alam yang terkadang tak terduga. Mereka belajar membaca tanda-tanda alam, membangun pemukiman di lokasi yang relatif aman, dan mengembangkan sistem pertanian yang lebih adaptif. Ini adalah bentuk resiliensi yang luar biasa, sebuah adaptasi budaya yang terbentuk selama bergenerasi-generasi.
Namun, setiap erupsi baru tetap membawa tantangan tersendiri. Hujan abu yang mengguyur sejumlah desa tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas pertanian dan perekonomian. Lahan pertanian bisa tertutup abu, tanaman bisa rusak, dan aktivitas transportasi, baik darat maupun udara, bisa terganggu. Bukti terbaru adalah penutupan sementara Bandara Frans Seda Maumere akibat abu vulkanik yang menutup ruang udara. Lima jadwal penerbangan dibatalkan, ratusan calon penumpang gagal berangkat. Ini menunjukkan betapa letusan gunung berapi dapat berdampak luas, melampaui batas geografis wilayah terdampak langsung.
Kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar hujan juga menjadi poin penting yang harus terus diingat. Aliran sungai yang berhulu di kawasan gunung, seperti di wilayah Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote, patut diwaspadai, terutama saat intensitas hujan tinggi. Banjir lahar hujan bisa datang tiba-tiba dan membawa material vulkanik yang merusak.
Status siaga yang disandang Gunung Lewotobi Laki-laki saat ini menuntut kesiapan semua pihak. Mulai dari masyarakat di sekitar gunung, pemerintah daerah, hingga badan penanggulangan bencana. Evakuasi warga yang berisiko, distribusi bantuan logistik, hingga penanganan pascabencana, semuanya harus berjalan sinergis dan efektif. Informasi yang akurat dan cepat dari Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki menjadi kunci utama dalam pengambilan keputusan dan penyebaran informasi kepada publik.
Kita patut bersyukur atas laporan yang terus diperbarui dari petugas seperti Herman Yosef Mboro, Kepala PGA Lewotobi Laki-laki. Upayanya dalam memberikan keterangan resmi mengenai aktivitas gunung, tinggi kolom abu, arah sebaran, hingga status kewaspadaan, sangatlah krusial. Tanpa informasi ini, masyarakat akan berjalan dalam ketidakpastian dan potensi bahaya yang lebih besar.
Lebih dari sekadar peristiwa alam, erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki adalah pengingat akan kebesaran alam semesta dan posisi kita di dalamnya. Ia mengajarkan kerendahan hati, pentingnya menghormati kekuatan alam, dan kebutuhan untuk selalu menjaga keseimbangan. Masyarakat Flores Timur, dengan segala dinamika dan tantangannya, terus menunjukkan ketangguhan mereka dalam menghadapi fenomena alam yang luar biasa ini. Semoga kewaspadaan dan kesiapsiagaan senantiasa menyertai setiap langkah mereka.
Source: Ekorantt.com
#Gunung Api #Bencana Alam #Flores Timur