BUGALIMA - Belum kering air mata duka pascagempa dahsyat yang melanda Flores Timur pada April 2026, kini secercah harapan mulai merekah di tengah masyarakat yang terdampak. Lazismu, melalui program "Qurbanmu Bahagiakan Sesama", hadir menyapa warga Desa Lamahala Jaya, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada momentum Iduladha 1447 Hijriah ini, bantuan hewan kurban disalurkan, menjadi penawar rindu dan penguat semangat bagi mereka yang masih berjuang bangkit dari reruntuhan bencana.
Desa Lamahala Jaya bukanlah sekadar nama sebuah desa. Ia adalah saksi bisu perjuangan para nelayan yang kini masih terdampak gempa. Pemilihan desa ini sebagai salah satu titik prioritas distribusi kurban bukan tanpa alasan. Mayoritas penduduknya adalah nelayan, yang ekonominya terpuruk akibat bencana yang melanda beberapa bulan lalu. Gempa bumi yang terjadi pada April 2026 itu tak hanya merusak ratusan rumah penduduk dan melukai puluhan orang, namun juga menghancurkan sendi-sendi kehidupan mereka. Banyak warga yang terpaksa merayakan Iduladha di tengah tenda-tenda darurat, rumah mereka hancur rata dengan tanah. Di tengah kondisi serba terbatas itulah, Lazismu hadir membawa kebahagiaan dan simbol kuatnya solidaritas kemanusiaan.
| Sumber: Pixabay |
Muhidin Mansyur, panitia penyembelihan hewan kurban setempat, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. "Terima kasih kami ucapkan untuk Lazismu dan sohibul kurban atas bantuan ini," ujarnya. Ucapan terima kasih ini bukan sekadar formalitas. Ia mencerminkan luapan hati warga yang merasakan langsung manfaat dari program kurban ini. Yang lebih mengharukan, pembagian daging kurban ini tidak memandang sekat agama. "Pembagian daging kurban tidak terbatas pada warga muslim saja, tetapi warga non-muslim turut merasakan hewan kurban dari Lazismu," ungkap Muhidin. Hal ini menunjukkan bahwa kemanusiaan melampaui batas-batas keyakinan. Dalam keberagaman, Lazismu merajut kebersamaan.
Seluruh warga Desa Lamahala Jaya adalah penyintas gempa. Mereka adalah pejuang-pejuang tangguh yang terus berjuang memulihkan kehidupan pascabencana. Kehadiran program kurban ini menjadi sumber kebahagiaan yang tak ternilai. Lebih dari sekadar daging, ini adalah simbol kepedulian, solidaritas, dan harapan. "Kami semua bahagia ikut merasakan berkah dari hewan kurban tersebut, dan memperlihatkan eratnya kerukunan antarumat beragama di kawasan timur Indonesia," lanjut Muhidin. Sungguh, di tengah puing-puing kehancuran, benih-benih kerukunan justru semakin tumbuh subur.
Program "Qurbanmu Bahagiakan Sesama" dari Lazismu ini memang dirancang untuk menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Di Desa Lamahala Jaya, penerima manfaat program ini mencakup 105 anak yatim, 22 anak piatu, 10 anak yatim piatu, 28 janda, 30 kaum duafa, serta 5 duda. Data ini menunjukkan betapa rentannya kondisi sebagian warga pascagempa. Mereka adalah segmen masyarakat yang paling rentan kehilangan sumber penghidupan dan paling membutuhkan uluran tangan. Lazismu, dengan jaringannya yang luas dan terpercaya, mampu menembus hingga ke pelosok negeri, membawa manfaat yang merata.
Kawasan pesisir Desa Lamahala Jaya, yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan, memang menjadi prioritas. Aktivitas ekonomi mereka lumpuh total akibat gempa. Bantuan pangan, seperti daging kurban ini, sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, manfaat program ini jauh melampaui sekadar pemenuhan kebutuhan pangan. Ia juga bertujuan untuk memperkuat semangat kebersamaan dan mempercepat pemulihan sosial masyarakat yang terdampak bencana. Di saat-daerah lain mungkin sudah mulai bangkit, warga Lamahala Jaya masih dalam tahap pemulihan pascagempa yang terjadi pada April 2026.
Gempa bumi di Flores Timur bukanlah kejadian pertama. Pada tahun 1992, gempa besar disertai tsunami merenggut ribuan nyawa dan menghancurkan ribuan rumah. Pengalaman pahit inilah yang menjadikan masyarakat Flores Timur, termasuk warga Adonara Timur, lebih tanggap dan kuat dalam menghadapi bencana. Namun, kekuatan itu perlu dibarengi dengan dukungan nyata. Bantuan dari Lazismu ini adalah wujud nyata kepedulian kemanusiaan yang melintasi batas-batas geografis dan sosial.
Program kurban Lazismu ini juga menerapkan prinsip ramah lingkungan dalam pelaksanaannya, sebuah detail kecil yang menunjukkan keseriusan Lazismu dalam setiap program yang dijalankan. Di tengah tantangan pemulihan pascabencana, detail-detail seperti ini sangat berarti. Ia menunjukkan bahwa Lazismu tidak hanya berfokus pada bantuan langsung, tetapi juga pada keberlanjutan dan dampak jangka panjang.
Kisah dari Desa Lamahala Jaya ini adalah cerminan dari semangat kemanusiaan yang tak pernah padam. Lazismu, sebagai lembaga amil zakat nasional yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat, terus membuktikan komitmennya. Melalui program kurban ini, mereka tidak hanya mendistribusikan daging, tetapi juga mendistribusikan kebahagiaan, harapan, dan semangat untuk bangkit. Warga Lamahala Jaya, lintas agama, telah membuktikan bahwa di tangan kepedulian, perbedaan justru menjadi kekuatan.
Peristiwa gempa di Flores Timur, yang terjadi pada April 2026, sempat menimbulkan kepanikan dan kerusakan yang meluas. Ratusan rumah rusak, puluhan warga terluka, dan gempa susulan terus terjadi. Dalam kondisi seperti itu, bantuan sekecil apapun terasa sangat berarti. Kehadiran Lazismu di Desa Lamahala Jaya pada Iduladha 1447 Hijriah ini adalah bukti nyata bahwa tidak ada duka yang terlalu dalam jika dihadapi bersama dalam semangat persaudaraan dan kemanusiaan.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap musibah, selalu ada hikmah dan peluang untuk berbagi kebaikan. Lazismu, dengan program kurbannya, telah membuka pintu kebaikan itu bagi para penyintas gempa di Flores Timur. Dan yang terpenting, kebaikan itu dirasakan oleh semua, tanpa memandang latar belakang agama. Ini adalah potret Indonesia yang sesungguhnya: Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya slogan, tapi terwujud dalam tindakan nyata kepedulian.
#Kurban Lazismu #Gempa Flores Timur #Kemanusiaan Lintas Agama