VIDEO: Gunung Lewotobi Laki-Laki Kembali Erupsi dan Muntahkan Abu Vulkanik

BUGALIMA - Alam kembali menunjukkan tajinya. Kali ini, sang raksasa tidur di Nusa Tenggara Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki, kembali menggeliat. Seolah tak mau ketinggalan momentum, gunung yang terletak di Kabupaten Flores Timur ini dilaporkan kembali erupsi pada Jumat (5/6/2026) malam, memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi kurang lebih 1.500 meter di atas puncak. Fenomena ini, yang terekam jelas oleh petugas Pos Pengamatan Gunung Api Lewotobi Laki-laki, Herman Yoseph S Mboro, menambah daftar panjang aktivitas vulkanik gunung ini yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap geologis Indonesia.

Sejarah Panjang Letusan yang Tak Kunjung Usai

Sumber: Pixabay

Gunung Lewotobi Laki-laki bukanlah nama baru dalam dunia vulkanologi. Sejarahnya tercatat sebagai salah satu gunung berapi aktif dengan riwayat erupsi yang panjang. Sejak pertama kali tercatat meletus pada tahun 1861, gunung ini telah mengalami lebih dari 17 kali erupsi besar maupun kecil. Frekuensi erupsi Lewotobi Laki-laki bahkan lebih tinggi dibandingkan kembarnya, Gunung Lewotobi Perempuan.

Beberapa catatan erupsi penting meliputi tahun 1861, 1865, 1868 (dua kali), 1869, 1907, hingga erupsi besar pada 1909 yang disertai aliran lava. Aktivitas terus berlanjut dengan letusan pada 1914, 1932, 1933, 1939, 1940, serta rentetan erupsi pada 1968, 1969, 1970, dan 1971. Tidak ketinggalan, letusan pada tahun 1990, 1991, 1999, hingga 2003 juga tercatat dalam sejarah. Lebih baru, erupsi pada Agustus dan Juli 2025 serta lonjakan aktivitas pada November 2024, bahkan sempat menaikkan statusnya menjadi Level IV (Awas). Terbaru, pada Jumat (5/6/2026) pagi, gunung ini telah erupsi beberapa kali, dengan semburan abu vulkanik bervariasi antara 1.000 hingga 2.500 meter di atas puncak. Erupsi pada Jumat malam itu sendiri memuntahkan abu setinggi sekitar 1.500 meter. Bahkan, pada dini hari tanggal 5 Juni 2026, tercatat sudah terjadi 9 kali erupsi dalam sepekan terakhir. Pada Sabtu pagi (6/6/2026), erupsi kembali terjadi dua kali dengan kolom abu mencapai 1.500 meter.

Ketinggian Abu Vulkanik dan Dampaknya

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pada Jumat (5/6/2026) malam menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 1.500 meter di atas puncak, atau setara dengan 3.084 meter di atas permukaan laut. Kolom abu yang terlihat berwarna abu gelap dan padat ini bergerak ke arah barat dan barat laut. Erupsi sebelumnya pada hari yang sama, tepatnya Jumat siang, juga menghasilkan semburan abu vulkanik antara 1.000 hingga 2.500 meter. Bahkan, pada erupsi Jumat pagi sekitar pukul 06.57 WITA, semburan abu vulkanik mencapai 2,5 kilometer di atas puncak.

Dampak dari erupsi ini tidak bisa diabaikan. Hujan abu vulkanik yang menyelimuti kawasan ini memaksa otoritas menutup sementara Bandara Frans Seda Maumere. Penutupan ini berlangsung hingga Sabtu (6/6/2026) pukul 06.00 WITA karena abu vulkanik dianggap mengganggu penerbangan. Akibatnya, beberapa penerbangan Wings Air dan Nam Air dibatalkan, memengaruhi rute seperti Maumere-Kupang dan lainnya.

Status Siaga dan Rekomendasi Keselamatan

Saat ini, Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada pada status Level III (Siaga). PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) telah mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi guna menghindari risiko bahaya material vulkanis. Para wisatawan juga diminta untuk tidak mendekati kawasan gunung selama aktivitas vulkanik masih tinggi.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk mewaspadai potensi banjir lahar hujan yang dapat terjadi sewaktu-waktu apabila hujan deras mengguyur kawasan puncak gunung. Terutama di daerah aliran sungai yang berhulu di puncak, seperti di Nawakote, Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen.

Pentingnya Pemahaman Ilmiah dan Kearifan Lokal

Fenomena erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki tidak hanya menjadi catatan gempa dan abu vulkanik semata, tetapi juga sebuah pelajaran berharga. Pemahaman ilmiah mengenai proses terbentuknya magma, ciri-ciri gunung berapi aktif, dan mengapa abu vulkanik dapat mengganggu penerbangan menjadi krusial. Pendekatan *discovery learning* dapat mendorong keterampilan berpikir kritis dan analitis dalam memahami fenomena alam ini.

Lebih jauh lagi, pendekatan etnosains yang menggabungkan pengetahuan lokal masyarakat dengan konsep ilmiah modern menjadi relevan. Masyarakat adat di sekitar gunung telah lama belajar membaca tanda-tanda alam yang mengindikasikan potensi letusan, seperti perubahan suara binatang hutan, perilaku air sumur, atau warna asap kawah. Pendekatan ini tidak hanya menghargai budaya lokal, tetapi juga memungkinkan verifikasi ilmiah terhadap kearifan tersebut, menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual dan menyentuh nilai-nilai lokal.

Source: CNN Indonesia



#Gunung Api #Bencana Alam #Vulkanologi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama