BUGALIMA - Langit Flores Timur kembali diselimuti gumpalan abu vulkanik. Gunung Lewotobi Laki-laki, salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, kembali menunjukkan amarahnya. Hari ini, Selasa (7/7/2026), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa aktivitas erupsi gunung ini masih berlangsung, melontarkan abu vulkanik hingga ketinggian 1,4 kilometer di atas puncak.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan resminya menjelaskan bahwa letusan terbaru tercatat pada pukul 11.37 WITA. Kolom abu yang membubung tinggi mencapai sekitar 2.984 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik ini teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal, dan arahnya condong ke barat serta barat laut. Data seismogram menunjukkan amplitudo maksimum erupsi mencapai 47,3 milimeter, dengan durasi kegempaan yang berlangsung selama kurang lebih 1 menit 27 detik.
| Sumber: Pixabay |
Ini bukan kali pertama Gunung Lewotobi Laki-laki menunjukkan aktivitasnya di tahun ini. Sebelumnya, pada Minggu (5/7/2026), gunung yang sama juga dilaporkan erupsi dengan kolom abu setinggi 1,4 kilometer. Bahkan, pada dini hari Senin (6/7/2026), erupsi kembali terjadi dengan melontarkan abu vulkanik setinggi 500 meter. Situasi ini menunjukkan bahwa Gunung Lewotobi Laki-laki sedang dalam fase aktivitas yang cukup tinggi.
Status Siaga, Ancaman Tetap Nyata
Meskipun erupsi kali ini tidak sampai menelan korban jiwa seperti beberapa insiden di masa lalu—misalnya pada November 2024 di mana puing-puing lava menghancurkan rumah dan menewaskan beberapa orang—namun ancaman dari aktivitas vulkanik ini tetap nyata. Badan Geologi telah menetapkan status aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki pada Level III, yaitu Siaga.
Dengan status Siaga ini, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi yang tegas. Masyarakat yang berada di sekitar gunung, termasuk para pengunjung dan wisatawan, dilarang keras melakukan aktivitas apa pun dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat, dan tidak mudah percaya pada isu-isu yang tidak jelas sumbernya terkait aktivitas vulkanik.
Bahaya Sekunder: Lahar Hujan dan Banjir
Ancaman tidak hanya datang dari lontaran material erupsi. Badan Geologi juga mengingatkan warga di sekitar daerah aliran sungai (DAS) untuk mewaspadai potensi bahaya sekunder berupa banjir lahar hujan. Bahaya ini bisa terjadi, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah puncak gunung. Kewaspadaan ini sangat ditekankan bagi kawasan yang dialiri sungai yang berhulu dari puncak, seperti daerah Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.
Rekomendasi Keselamatan dan Koordinasi
Untuk melindungi keselamatan publik secara berkelanjutan, Badan Geologi sangat menyarankan penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut. Ini penting untuk menghindari bahaya paparan abu vulkanik pada sistem pernapasan bagi penduduk yang terdampak sebaran hujan abu.
Lebih lanjut, Lana Saria menekankan pentingnya koordinasi yang kuat antara Pemerintah Daerah setempat dengan Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung, Jawa Barat. Koordinasi yang erat ini krusial untuk memantau perkembangan aktivitas gunung dan mengambil langkah-langkah mitigasi yang tepat waktu.
Sejarah Aktivitas Gunung Lewotobi
Gunung Lewotobi sendiri merupakan gabungan dari dua gunung berapi kembar di bagian tenggara Pulau Flores. Puncak tertingginya adalah Gunung Lewotobi Perempuan (1.703 mdpl), yang tercatat meletus dua kali dalam sejarah. Namun, yang lebih aktif adalah Gunung Lewotobi Laki-laki.
Sejarah mencatat beberapa kali status awas pada gunung ini. Misalnya, pada 9 Januari 2024, statusnya naik menjadi Awas (Level IV) setelah beberapa hari sebelumnya menunjukkan peningkatan intensitas erupsi. Bahkan pada November 2024, erupsi sempat melontarkan puing-puing lava hingga menghancurkan rumah dan menyebabkan korban jiwa. Di awal tahun 2026, tepatnya 1 Januari, statusnya kembali naik menjadi Awas (Level IV) setelah peningkatan aktivitas vulkanis yang signifikan, termasuk 122 kali gempa vulkanis dalam. Peningkatan status ke Level IV (Awas) juga terjadi pada 17 Juni 2025.
Kini, dengan status Siaga (Level III) dan erupsi yang masih berlangsung, masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan mematuhi segala instruksi dari pihak berwenang. Fenomena alam ini mengingatkan kita akan kekuatan alam yang luar biasa dan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dan lingkungan.
#Gunung Lewotobi #Erupsi Vulkanik #Bencana Alam