BUGALIMA - Di tengah kekhawatiran akan dampak perubahan iklim yang semakin nyata, Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, telah mengeluarkan imbauan penting bagi para petani di wilayah Solor. Seruan ini bukan sekadar himbauan biasa, melainkan sebuah panggilan darurat untuk menyesuaikan jadwal pengolahan lahan dan musim tanam dengan pola cuaca yang kini semakin tak menentu. Musim tanam 2026/2027 di depan mata, dan antisipasi adalah kunci agar benih yang ditanam tumbuh optimal dan upaya bercocok tanam tidak sia-sia.
Fenomena perubahan iklim bukanlah lagi sekadar wacana. Di berbagai belahan dunia, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT), dampaknya mulai dirasakan secara konkret. Laporan dari berbagai sumber, termasuk penelitian yang menyoroti kerentanan wilayah timur Indonesia terhadap krisis pangan akibat iklim, memperkuat urgensi imbauan Bupati Dihen. Kondisi geografis NTT yang cenderung kering dan rentan terhadap cuaca ekstrem membuat ancaman gagal panen menjadi semakin nyata. Bahkan, seperti yang dilaporkan pada tahun 2022, empat desa di Flores Timur sudah mulai merasakan dampak nyata perubahan iklim, yang ditandai dengan penurunan produktivitas di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Jadwal tanam petani mulai bergeser, intensitas hujan menjadi kurang stabil, dan perkiraan cuaca sulit diprediksi, yang semuanya bermuara pada penurunan hasil panen.
| Sumber: Pixabay |
Bupati Dihen, dalam rapat koordinasi persiapan musim tanam 2026/2027 di Desa Lemanu, Kecamatan Solor Selatan, menekankan pentingnya penyesuaian ini. Ia menyadari bahwa tanpa adaptasi yang tepat, para petani akan terus berhadapan dengan risiko kerugian yang signifikan. "Kita harus lebih cerdas dalam mengatur waktu tanam. Jangan sampai benih yang kita tanam terbuang sia-sia karena salah perhitungan cuaca," ujar Bupati Dihen, sebagaimana dikutip dari pemberitaan RRI.co.id. Imbauan ini bukanlah tanpa dasar. Data dan potensi luas lahan pertanian di tiga kecamatan di wilayah Solor telah dipetakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Flores Timur. Pemetaan ini menjadi dasar bagi para penyuluh pertanian lapangan (PPL) untuk memberikan pendampingan yang lebih terarah kepada para petani.
Adaptasi Menjadi Kunci Bertahan
Strategi adaptasi dalam menghadapi perubahan iklim ini bukan hal baru, namun penerapannya menjadi semakin krusial. Berdasarkan penelitian, keputusan petani untuk menerapkan strategi adaptasi seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat pendidikan, keaktifan dalam kelompok tani, sumber bibit yang digunakan, orientasi panen, dan yang terpenting, informasi cuaca. Oleh karena itu, pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Flores Timur terus berupaya memperkuat pendampingan kepada petani. Ini termasuk optimalisasi sarana pertanian dan penguatan peran penyuluh di lapangan.
Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Flores Timur, Yosef Sadi Openg, menegaskan bahwa pemerintah akan terus hadir memberikan pendampingan dan dukungan. "Kami akan terus hadir memberikan pendampingan dan dukungan kepada petani agar mampu menghadapi tantangan cuaca serta menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Flores Timur," ujarnya. Dinas Pertanian juga terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah kecamatan, desa, serta para penyuluh pertanian untuk menyampaikan informasi prakiraan cuaca kepada petani. Informasi ini menjadi landasan penting bagi petani dalam menentukan waktu tanam yang tepat, memilih benih unggul berumur genjah (cepat panen), hingga menerapkan pola budidaya yang sesuai dengan kondisi iklim.
Tantangan dan Solusi Konkret
Wilayah seperti Pulau Solor dan Demon Pagong memang dikenal memiliki curah hujan yang relatif rendah, menjadikannya daerah yang lebih rentan terhadap kekeringan. Namun, kondisi pada musim tanam tahun 2026 di kedua wilayah tersebut masih tergolong normal, aktivitas pertanian pun berjalan baik. Meskipun demikian, sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem, pemerintah daerah memperkuat upaya mitigasi. Salah satunya adalah dengan penyediaan sumber air bagi petani. Pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Flores Timur membangun 16 titik sumur bor yang didanai APBD, ditambah dengan 18 titik sumur dari APBN. Pembangunan infrastruktur air ini krusial untuk menjaga ketersediaan air, terutama saat musim kemarau tiba.
Lebih jauh lagi, pemerintah juga menjamin dukungan sarana produksi. Ini mencakup penyediaan benih unggul, pupuk bersubsidi, serta bantuan alat dan mesin pertanian yang disalurkan kepada kelompok tani. Berbagai upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan ketahanan sektor pertanian, tetapi juga meminimalkan risiko kerugian petani apabila terjadi cuaca ekstrem di musim tanam mendatang.
Di sisi lain, tantangan seperti ketidakstabilan harga pasar, minimnya dukungan kelembagaan, dan beban kerja yang tidak setara bagi petani perempuan juga menjadi perhatian. Kondisi ini dapat memicu dampak sosial jangka panjang, termasuk meningkatnya risiko stunting pada anak-anak di daerah rentan pangan. Penting untuk dicatat bahwa strategi adaptasi yang diterapkan oleh petani, seperti memilih varietas tanaman yang tahan terhadap iklim tertentu atau pengelolaan air yang efisien, terbukti dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan mereka.
Fenomena El Nino yang diperkirakan akan membawa musim kemarau lebih berat juga menjadi catatan penting. Di Flores Timur, petani seperti Yosep Atan Hera telah menemukan solusi dalam tanaman sorgum. Tanaman ini terbukti sangat adaptif terhadap iklim kering dan curah hujan yang tidak menentu, serta membutuhkan air lebih sedikit dibandingkan padi atau jagung. Peralihan ke sorgum ini menjadi salah satu bentuk diversifikasi pangan yang sangat relevan di tengah ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim.
Pada akhirnya, imbauan Bupati Dihen ini adalah pengingat bahwa pertanian, terutama di daerah yang rentan seperti Flores Timur, harus dijalankan dengan pengetahuan, persiapan matang, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi. Dengan kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, dan petani, serta pemanfaatan teknologi dan informasi yang tepat, ketahanan pangan daerah diharapkan dapat terus terjaga, bahkan di tengah perubahan iklim yang menantang. Pemerintah Kabupaten Flores Timur berkomitmen memastikan pengawalan teknis terhadap sektor pertanian berjalan maksimal, dan upaya ini terus diperkuat seiring dengan perhatian pada penanganan pascabencana.
#Perubahan Iklim #Ketahanan Pangan #Adaptasi Pertanian