BUGALIMA - Flores Timur sedang tidak main-main dengan masa depannya. Daerah ini membuat sebuah lompatan besar. Mereka meluncurkan sebuah program ambisius bernama Future School.
Program ini bukan sekadar nama baru untuk sekolah biasa. Ini adalah terobosan nyata dalam sistem pendidikan. Tujuannya jelas, menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan 20 tahun ke depan.
| Gambar dari Pixabay |
Pemerintah daerah tidak mau anak-anak mereka tertinggal. Dunia berubah cepat, lapangan kerja masa depan menuntut keahlian baru. Pendidikan harus relevan, tidak boleh hanya berputar di ruang kelas akademik.
Enam Pilar Sekolah Masa Depan
Future School resmi diperkenalkan pada 23 Juli 2025. Peresmiannya dilakukan sebagai bagian dari visi pembangunan daerah. Bupati Flores Timur, Ir. Antonius Doni Dihen, menjadi tokoh di balik inisiatif ini.
Program ini digagas dengan pondasi yang kuat. Ada enam pilar utama yang menjadi fokus transformasi. Ini mencakup kelas bilingual, digitalisasi, literasi, dan budaya positif.
Dua pilar lainnya juga sangat penting. Mereka menekankan sekolah ramah lingkungan dan manajemen sekolah berbasis digital. Ini adalah upaya menyeluruh, dari kurikulum sampai tata kelola sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) Flores Timur, Felix Suban Hoda, sangat optimistis. Dia melihat Future School sebagai langkah strategis. Ini bukan sekadar mengejar teknologi, tetapi juga membangun karakter.
Kekuatan Kelas Bilingual dan Digital
Fokus utama program ini adalah penguatan bilingual education dan digital learning. Ini adalah kunci untuk bersaing di arena global. Siswa harus fasih berkomunikasi secara internasional.
Pembelajaran dwi bahasa, Indonesia dan Inggris, diterapkan langsung di kelas. Bahasa daerah juga tetap diakomodasi. Sekolah didorong menciptakan lingkungan komunikatif.
Kemampuan berbahasa Inggris tidak lagi cukup diajarkan secara teoretis. Siswa harus terbiasa menggunakannya dalam keseharian. Ini memecah sekat-sekat pembelajaran kaku.
Aspek digitalisasi juga jadi perhatian serius. Teknologi digital dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Tujuannya untuk memperluas ruang belajar dan membuat siswa tangguh secara digital.
Future School tidak bermaksud mengubah kurikulum nasional. Bupati menegaskan bahwa ini adalah model pembelajaran. Tujuannya adalah memastikan partisipasi generasi masa depan yang berkualitas.
Dari Pilot Project ke Seluruh Flores Timur
Pada tahap awal, program ini menyasar jenjang SD dan SMP. Tujuh sekolah, enam SD dan satu SMP, ditunjuk sebagai sekolah percontohan. Mereka menjadi laboratorium inovasi pendidikan.
Sekolah-sekolah pionir ini mencakup SDK Kalike, SDK Larantuka II, dan SDK Leworita. Ada juga SDI Bungalawan, SMPN Satap Lamawolo, dan SMPK St. Isidorus Lewotala. Mereka berkomitmen menerapkan enam pilar ini secara bertahap.
Pada tahun pertama, fokusnya adalah kelas bilingual dan digital learning. Pilar budaya positif dan sekolah ramah lingkungan akan menyusul. Ini menunjukkan rencana yang terstruktur dan matang.
Regent Antonius Doni Dihen bahkan menjanjikan insentif bagi guru. Insentif ini diberikan kepada guru yang sekolahnya menjalankan Future School. Ini adalah cara nyata memberikan semangat kepada para pendidik di garis depan.
Pengangguran di Indonesia masih menjadi isu penting. Data menunjukkan angka pengangguran yang signifikan. Program ini adalah upaya daerah memastikan lulusan mereka siap bersaing.
Investasi pendidikan adalah penentu wajah Flores Timur di masa depan. Kepala Dinas PKO Felix Suban Hoda menekankan hal itu. Kolaborasi semua pihak, dari sekolah hingga masyarakat, sangat dibutuhkan.
Future School diharapkan tidak hanya menciptakan siswa cerdas. Mereka juga harus berkarakter kuat dan peduli lingkungan. Program ini ditargetkan berkembang bertahap hingga akhir RPJMD 2025–2030.
Pemerintah daerah ingin dampaknya merata ke seluruh sekolah. Ini adalah misi Lompatan Jauh Flores Timur. Semua demi satu tujuan: pendidikan yang membawa kemajuan dan daya saing.
Source: rri.co.id
#Pendidikan #FloresTimur #FutureSchool