BUGALIMA - Lima belas perahu baru itu bersandar. Tampak gagah di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Amagarapati, Larantuka. Cahaya matahari pagi Flores Timur menyinari lambungnya. Ini kapal penangkap ikan, bukan sekadar perahu biasa.
Titik Balik Ekonomi Pesisir
| Gambar dari Pixabay |
Bantuan ini bukan hadiah. Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, berkata begitu blak-blakan. Pesan keras ini ia sampaikan langsung di hadapan para nelayan penerima. Ia ingin memastikan bantuan ini tepat sasaran. Harus membawa perubahan.
Kapal-kapal itu bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU). Anggarannya tahun 2025. Pemerintah daerah menyalurkannya. Tujuannya satu: meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan. Khususnya bagi nelayan pesisir.
Kamis pagi, 15 Januari 2026, penyerahan dilakukan. Suasananya khidmat namun tegas. Total ada lima belas kelompok nelayan penerima. Mereka tersebar di delapan desa dan lima kelurahan pantai.
Pemda sudah melakukan verifikasi ketat. Mereka yang menerima adalah nelayan aktif. Bukan orang yang beralih profesi. Ini kunci utama program ini. Wabup Ignas Uran tidak mau kompromi soal ini.
Bantuan Kapal Bukan Hanya Aset
Ignas Uran menekankan pentingnya mentalitas. Komitmen penerima menjadi kunci keberhasilan. Kapal adalah alat, bukan piala. Ia harus difungsikan optimal. Laut adalah masa depan Flores Timur. Begitu katanya.
Ia meminta agar bantuan ini dimanfaatkan sungguh-sungguh. Tujuannya agar taraf hidup keluarga nelayan meningkat. "Bantuan ini harus dimanfaatkan nelayan berkomitmen meningkatkan perekonomian keluarga," ujar Ignas Uran. Ini semacam pakta integritas tak tertulis.
Pengawasan dan Tanggung Jawab Kelompok
Program ini tidak berhenti di penyerahan kunci. Pemerintah daerah meminta kepala desa turun tangan. Pengawasan harus diperketat. Ini untuk memastikan kapal digunakan sesuai tujuan.
Langkah pengawasan ini sangat penting. Mencegah penyalahgunaan aset. Memastikan bantuan mendukung ekonomi nelayan. Secara berkelanjutan. Bantuan harus beroperasi terus-menerus.
Pengawasan ketat adalah wujud kredibilitas pemerintah. Ini menunjukkan keseriusan. Program pemberdayaan nelayan harus berkelanjutan. Jangan sampai kapal mangkrak di darat.
Target Kompetisi Sehat di Laut
Wabup Ignas Uran berharap bantuan ini memicu semangat. Terjadi kompetisi sehat antar kelompok nelayan. Tujuannya jelas: meningkatkan kemandirian. Juga daya saing ekonomi masyarakat pesisir.
Pemanfaatan kapal yang optimal akan berdampak langsung. Peningkatan pendapatan keluarga. Keberlanjutan usaha perikanan di Flores Timur. Ini visi besarnya.
Tiga perwakilan kelompok menerima simbolis. Mereka mewakili harapan ratusan keluarga lain. Mereka adalah ujung tombak baru di lautan. Harapan besar ditumpukan di pundak mereka.
Flores Timur punya potensi perikanan luar biasa. Letaknya strategis. Kapal-kapal ini adalah booster. Mereka harus menjadi mesin ekonomi. Bukan beban perawatan yang tak produktif.
Pemberdayaan nelayan harus menyeluruh. Bukan hanya soal sarana. Tapi juga pengetahuan dan akses pasar. Nelayan harus melek teknologi. Harus tahu harga pasar.
Laut adalah ladang penghidupan abadi. Program ini investasi jangka panjang. Pemerintah menaruh kepercayaan. Nelayan harus membalasnya dengan kerja keras. Di laut, rezeki menunggu untuk dijemput. Bukan ditunggu di dermaga.
Masyarakat pesisir butuh uluran tangan. Tapi mereka juga butuh dorongan. Agar mandiri. Agar tangguh menghadapi gelombang. Bantuan 15 kapal ini adalah awal yang baik.
Ini menunjukkan keahlian pemerintah daerah. Mereka mengidentifikasi masalah. Lalu memberi solusi tepat. Solusi berupa sarana produktif. Bukan sekadar bantuan tunai sementara.
Semua mata kini tertuju ke Larantuka. Menanti kisah sukses 15 kelompok nelayan ini. Apakah mereka bisa menjalankan pesan sang Wakil Bupati? Menjadikan kapal sebagai berkah, bukan beban?
Source: rri.co.id
#FloresTimur #KapalNelayan #IgnasiusBoliUran