BUGALIMA - Air datang lagi. Bukan air hujan biasa, ini air bah yang menyapu harapan. Air itu merendam rumah-rumah sementara. Rumah yang dibangun bagi mereka yang sebelumnya sudah kehilangan segalanya. Mereka adalah penyintas erupsi Gunung Lewotobi.
Ini terjadi di Flores Timur. Dua puluh dua Kepala Keluarga (KK) kini kembali mengungsi. Mereka adalah penyintas yang seharusnya mulai menata hidup yang baru. Sekarang, trauma lama bertemu trauma baru yang tak terhindarkan.
| Gambar dari Pixabay |
Bencana yang Berulang dan Siklus Kesulitan
Peristiwa ini sungguh memilukan. Mereka baru saja pindah ke Huntara. Relokasi ini adalah upaya Pemerintah daerah. Ini adalah janji untuk hidup yang lebih baik dan lebih aman. Warga sudah mencoba menata kembali dapur dan kamar mereka. Mereka berusaha membuat suasana seperti rumah yang hilang.
Tapi alam berkata lain. Hujan deras mengguyur wilayah tersebut berhari-hari tanpa henti. Drainase yang belum optimal tidak mampu menahan volume air yang melimpah. Akhirnya, kawasan tempat tinggal darurat itu berubah menjadi kolam besar dalam sekejap mata. Ini adalah pukulan ganda yang menyakitkan.
Kawasan Huntara ini memang berada di dataran rendah. Risiko banjir seharusnya sudah masuk perhitungan sejak awal pembangunan. Kini, kesalahan perencanaan itu dibayar mahal oleh para penyintas. Mereka harus merasakan kembali ketidakpastian. Ini bukan salah mereka. Pemerintah harus bertanggung jawab penuh.
Dinding Huntara yang terbuat dari material ringan tidak berdaya menahan arus. Air meluap masuk dengan cepat ke dalam rumah. Semua perabotan basah dan rusak total. Hanya sedikit barang berharga yang sempat diselamatkan warga. Banyak dokumen penting ikut hanyut oleh derasnya air.
Malam Penuh Air Mata dan Keputusan Berat
Kejadiannya terjadi saat malam tiba, sekitar pukul dua dini hari. Kebanyakan warga sedang terlelap dalam istirahat yang seharusnya tenang. Tiba-tiba mereka mendengar suara gemuruh air yang mengerikan. Dalam gelap, kepanikan langsung melanda seluruh kompleks. Ini adalah alarm darurat yang memaksa mereka bangun.
Para ibu bergegas menyelamatkan anak-anak mereka dari genangan. Kaum laki-laki berusaha keras menahan laju air yang terus meninggi. Itu adalah usaha yang sia-sia di tengah derasnya arus banjir. Mereka harus membuat keputusan cepat: bertahan melawan air atau menyelamatkan nyawa. Mereka memilih yang kedua.
Mereka akhirnya mengungsi beramai-ramai ke lokasi yang lebih tinggi dan aman. Mereka kembali ke tenda darurat yang tersisa di perbukitan. Ironis sekali. Tenda yang seharusnya sudah ditinggalkan kini jadi pelindung mereka lagi. Pakaian mereka basah kuyup. Mereka kedinginan di tengah malam buta.
Total ada 22 KK yang rumahnya terendam parah. Mereka harus meninggalkan harta benda seadanya di dalam air. Beberapa di antara mereka adalah lansia dan balita. Kondisi ini menuntut perhatian ekstra dari petugas. Petugas harus memastikan mereka tidak jatuh sakit.
Kebutuhan Mendesak dan Respon Cepat Pemerintah
Dua puluh dua KK ini kehilangan tempat tinggal daruratnya sekali lagi. Mereka sangat butuh makanan siap saji dan air bersih yang terjamin higienis. Selimut tebal dan pakaian kering adalah prioritas utama untuk mencegah hipotermia. Anak-anak membutuhkan susu dan makanan pendamping yang bergizi.
Pemerintah daerah bergerak cepat mendirikan posko pengungsian baru. Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah berada di lokasi sejak pagi hari. Mereka melakukan pendataan kerugian dan pembersihan sisa banjir. Fokus utama pemerintah sekarang adalah kesehatan masyarakat dan trauma healing. Jangan sampai ada penyakit kulit atau diare yang menyusul.
Kepala daerah harus turun tangan memimpin penanganan krisis ini. Dia harus memastikan solusi jangka panjang segera ditemukan. Huntara yang terendam harus segera diperbaiki dan ditinggikan fondasinya. Penataan saluran air yang komprehensif adalah kunci utama di wilayah ini. Pemerintah tidak boleh hanya menambal lubang semata.
Menguji Ketahanan Warga Lewotobi dan Masa Depan
Warga Lewotobi ini adalah simbol ketahanan sejati yang luar biasa. Mereka sudah menghadapi erupsi gunung berapi yang mengerikan. Kini mereka dihantam oleh banjir bandang yang tak terduga. Mereka tidak boleh patah semangat di tengah ujian yang datang beruntun ini. Bantuan moral sangat penting sekarang.
Pengalaman pahit sebelumnya membuat mereka cepat tanggap dan terorganisir. Mereka saling membantu tanpa menunggu instruksi. Sikap gotong royong ini patut dicontoh oleh daerah lain. Mereka tidak menunggu bantuan datang sepenuhnya. Mereka bergerak membersihkan apa yang bisa diselamatkan dari air.
Ini pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa mitigasi bencana harus dilakukan secara paripurna dan berkelanjutan. Bantuan tidak boleh hanya datang di awal bencana saja. Pemulihan mental dan fisik harus menjadi program yang berkelanjutan. Masyarakat sipil harus ikut andil dalam membantu.
Pemerintah pusat juga harus memberikan perhatian khusus yang serius. Jangan biarkan anggaran perbaikan Huntara ini terlalu lama tertahan di meja birokrasi. Warga Lewotobi berhak mendapatkan tempat tinggal yang aman dan permanen. Mereka berhak menata masa depan tanpa bayang-bayang bencana berulang. Ini adalah janji kemerdekaan.
Source: detik.com
#BanjirFloresTimur #PengungsiLewotobi #Huntara