Flores Timur Capai Rata-rata Lama Sekolah 8,19 Tahun: Tantangan Lulus SMP Penuh

BUGALIMA - Angka itu muncul dan harus dibaca serius. Kabupaten Flores Timur memiliki Rata-rata Lama Sekolah (RLS) 8,19 tahun. Data ini merujuk proyeksi tahun 2025 mendatang. Artinya, penduduk di sana secara rata-rata hanya menamatkan pendidikan setingkat SMP.

RLS ini merupakan salah satu indikator penting dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Nilai di bawah 9 tahun selalu menjadi lampu kuning. Itu menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk hanya selesai di bangku kelas dua atau kelas tiga SMP. Jelas ini pekerjaan rumah besar.

Health
Gambar dari Pixabay

Angka 8,19 tahun bukan sekadar statistik dingin. Itu adalah cerminan realitas di lapangan. Ia berbicara tentang akses, ekonomi, dan prioritas. Ini adalah potret tantangan yang dihadapi generasi muda di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur.

Siapa yang bertanggung jawab? Tentu saja pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan adalah investasi paling fundamental. Jika rata-rata masyarakatnya hanya lulusan SMP, daya saing daerah pasti akan terpengaruh.

Kita tidak bisa membandingkan Flotim dengan kota-kota besar. Medan geografisnya jauh berbeda. Akses sekolah di pulau-pulau kecil menuntut biaya dan perjuangan ekstra. Di sinilah tantangan sesungguhnya berada.

Di Balik Angka 8,19 Tahun

Mari kita telaah apa yang terjadi di balik angka tersebut. Angka 8,19 tahun menyiratkan adanya putus sekolah. Atau, minimnya dorongan untuk melanjutkan ke jenjang SMA. Ini adalah masalah struktural, bukan hanya soal minat belajar.

Faktor ekonomi seringkali menjadi penentu utama. Banyak keluarga di Flores Timur masih hidup dari sektor agraris dan perikanan. Mereka membutuhkan tenaga kerja tambahan. Anak-anak terpaksa membantu orang tua.

Satu tahun sekolah terasa mahal bagi banyak keluarga. Padahal, pendidikan formal seringkali gratis. Namun, biaya tak langsung seperti seragam, transportasi, dan buku sulit dihindari. Uang tersebut bisa jadi sangat berarti untuk dapur.

Kualitas guru dan fasilitas juga memengaruhi. Sekolah di daerah terpencil sering kekurangan tenaga pengajar berkualitas. Mereka juga minim fasilitas lab dan perpustakaan yang memadai. Murid pun kehilangan motivasi.

Pemerintah daerah tentu sudah berupaya. Berbagai program bantuan pendidikan digulirkan. Tujuannya jelas, meningkatkan angka partisipasi sekolah. Tapi, program ini perlu diukur dampaknya secara akurat.

Terkadang, sebuah program hanya berhasil di atas kertas. Pelaksanaannya di tingkat desa terpencil menghadapi banyak kendala birokrasi dan logistik. Ini yang harus menjadi perhatian utama.

Jembatan Pendidikan di Desa Terpencil

Kita harus mengapresiasi para guru yang berada di garis depan. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Mereka berjuang menyeberangi laut atau mendaki bukit demi mengajar. Mereka adalah motor penggerak pendidikan.

Kisah tentang seorang guru di Adonara yang mengajar tanpa listrik sering kita dengar. Itu bukan kisah romantis. Itu adalah realitas yang memprihatinkan. Mereka bekerja dengan segala keterbatasan.

Komitmen lokal sangat menentukan. Beberapa desa berhasil mendirikan sekolah mandiri. Mereka bergotong royong menyediakan fasilitas seadanya. Ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif.

Kesadaran ini harus difasilitasi oleh pemerintah. Pemerintah harus menyediakan infrastruktur dasar. Jalan yang layak dan akses internet menjadi kunci. Tanpa itu, sekolah di desa terpencil akan makin tertinggal.

Lembaga pendidikan non-formal juga berperan penting. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) bisa menjadi solusi. Mereka menawarkan paket belajar yang lebih fleksibel. Ini cocok bagi mereka yang sudah bekerja.

Inovasi pengajaran harus terus didorong. Metode belajar yang relevan dengan kearifan lokal perlu dikembangkan. Pendidikan harus kontekstual, tidak sekadar menjiplak kurikulum dari Jakarta.

Mendorong Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas

Target ideal RLS adalah 12 tahun. Itu setara dengan lulus SMA. Artinya, Flores Timur masih kekurangan hampir empat tahun rata-rata sekolah. Jarak ini harus segera dikejar.

Mengejar kuantitas saja tidak cukup. Kualitas lulusan adalah hal yang krusial. Sekolah harus menghasilkan individu yang siap bersaing. Mereka harus punya keterampilan yang relevan dengan pasar kerja.

Jika lulusan SMP tidak punya keterampilan, mereka akan kembali ke sektor informal. Mereka terjebak dalam siklus kemiskinan. Pendidikan harus menjadi alat untuk memutus rantai tersebut.

Perlu ada kolaborasi dengan dunia usaha. Sekolah kejuruan harus disesuaikan dengan kebutuhan industri lokal. Misalnya, perikanan, pariwisata, atau pengolahan hasil bumi. Lulusan harus siap kerja.

Dukungan anggaran juga harus diprioritaskan. Anggaran pendidikan harus efektif dan tepat sasaran. Setiap rupiah harus benar-benar digunakan untuk meningkatkan mutu. Jangan sampai ada kebocoran atau salah alokasi.

Angka 8,19 tahun pada 2025 adalah peringatan. Flotim masih tertinggal dalam aspek sumber daya manusia. Ini adalah momen untuk melakukan percepatan. Jangan biarkan generasi berikutnya hanya berbekal ijazah SMP.

Source: katadata.​co.​id



#PendidikanFloresTimur #Rata-rataLamaSekolah #IndeksPembangunanManusia

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama