Kearifan Lokal Lamaholot: Fondasi Moderasi Beragama Abadi di Flores Timur

BUGALIMA - Pulau Flores Timur selalu punya cerita. Bukan tentang keindahan alamnya saja. Ini tentang bagaimana manusia di sana hidup. Mereka merawat persaudaraan di tengah perbedaan keyakinan. Intinya ada pada tradisi Lamaholot yang kuat dan mengakar.

Budaya ini bukan sekadar warisan leluhur. Ia adalah pilar kokoh moderasi beragama. Di Lamaholot, toleransi tidak perlu dicari-cari. Toleransi sudah jadi napas kehidupan sehari-hari. Ia mengalir dalam setiap ritual dan wejangan.

Health
Gambar dari Pixabay

Gemohing: Kekuatan Persatuan yang Nyata

Ada satu kata kunci yang penting sekali: Gemohing. Ini adalah konsep gotong royong khas Lamaholot. Gemohing menjadi praktik nyata persatuan masyarakat. Orang-orang bekerja bersama, bahu-membahu.

Mereka tidak memandang apa agama Anda. Apakah Anda Katolik, Protestan, atau Islam. Semua menyatu dalam satu kegiatan. Mulai dari membuka lahan baru di kebun, menanam padi, hingga membangun rumah warga. Semangat ini berlaku untuk semua.

Bahkan saat ada kedukaan, semua hadir. Mereka memberikan bantuan tanpa diminta. Ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah wujud nyata dari moderasi beragama yang otentik. Praktik Gemohing ini sudah berjalan turun temurun.

Gemohing mengajarkan kita. Bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh jadi batas. Perbedaan justru harus jadi kekuatan. Gemohing adalah mesin sosial yang terus bekerja. Ia menjamin kohesi masyarakat Flores Timur tetap terjaga.

Korke: Ruang Publik untuk Semua Umat

Selain Gemohing, ada juga Korke. Ini adalah rumah adat yang sangat dihormati. Korke memiliki peran vital dalam masyarakat Lamaholot. Ia difungsikan sebagai rumah publik.

Di Korke, semua orang merasa berasal dari satu rahim. Mereka lahir dari satu ibu dan satu bapak. Filosofi ini sangat mendalam. Ia menghilangkan sekat-sekat keagamaan.

Korke adalah tempat konflik diselesaikan. Semua masalah dicari jalan keluarnya di sana. Tujuannya satu: agar kerukunan kembali hidup. Korke menjadi titik awal pembangunan moderasi beragama. Ia memperkaya kajian tentang kearifan lokal.

Praktik ritus komunal juga masih dilakukan. Umat Katolik dan Islam melakukannya bersama. Mereka berkolaborasi dalam satu ruang dan waktu. Ini menunjukkan budaya lokal mampu berdialog dengan agama dunia. Hasilnya adalah kohesi sosial yang kuat.

Nilai-Nilai Luhur dalam Pendidikan

Kearifan lokal Lamaholot harus diwariskan. Generasi muda harus menghidupi nilai-nilai ini. Pendidikan berbasis budaya lokal menjadi solusinya. Ini penting untuk menanamkan moderasi beragama sejak dini.

Sekolah menjadi ruang strategis. Di sekolah, sikap toleran diperkuat. Ini melalui praktik hidup sehari-hari. Ambil contoh di SDK Witihama. Kepala sekolahnya mengintegrasikan nilai Lamaholot.

Mereka mengajarkannya dalam pendidikan karakter. Sekolah yang mayoritas Katolik ini terbuka untuk siswa Muslim. Mereka tidak memaksa praktik ibadat Katolik. Keyakinan adalah ranah pribadi yang harus dihormati.

Siswa dibiasakan bersalaman dan saling menyapa. Mereka bekerja bersama tanpa memandang agama. Perbedaan diperkenalkan sebagai kekayaan. Bukan sebagai sumber perpecahan atau konflik.

Koda Kirin: Wejangan Filosofis Perdamaian

Masyarakat Lamaholot juga punya wejangan. Sebuah pandangan hidup yang dipegang teguh. Ungkapan itu adalah "koda kirin nulun walen melan senaren". Sebuah kalimat panjang penuh makna.

Ungkapan ini adalah nasihat bagi generasi baru. Nasihat untuk sesama dalam hidup bersama. Intinya adalah menjaga tata kehidupan yang aman dan damai. Ini adalah etika hidup masyarakat Lamaholot.

"Koda" berarti berbicara atau berkata. "Kirin" berarti pesan. Jadi, ini adalah pesan luhur. Pesan untuk menjaga keharmonisan. Toleransi tumbuh kuat karena penghayatan wejangan ini.

Kearifan lokal ini perlu dilestarikan. Harus melalui pendidikan dan kebijakan lokal. Ini adalah pilar toleransi yang sesungguhnya. Ia ada di daratan Flores Timur, Pulau Solor, dan Adonara.

Inilah wajah Indonesia yang sejati. Keberagaman yang bersemi tanpa paksaan. Toleransi bukan proyek, tapi budaya. Ia dihidupi oleh masyarakat Lamaholot. Mereka menunjukkan pada kita semua. Bahwa hidup rukun itu sederhana. Kuncinya ada pada penghormatan.

Budaya lokal seperti Gemohing adalah modal sosial. Ia adalah kekuatan moral universal. Kekuatan ini sangat diperlukan masa kini. Terutama untuk generasi masa depan. Kita perlu mencontoh Lamaholot. Belajar dari Timur, merawat Indonesia.

Source: RRI.​co.​id



#Lamaholot #ModerasiBeragama #FloresTimur

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama