Sorotan Tajam Uskup Agung Ende Saat Penahbisan Uskup Larantuka: Bahaya Pinjol dan Kemiskinan

BUGALIMA - Suasana khidmat menyelimuti Lapangan Sepak Bola Kota Baru Larantuka. Ribuan umat Katolik memadati lokasi itu di Flores Timur. Ini bukan sekadar perayaan biasa. Mereka berkumpul untuk menyaksikan momen penting gereja. Umat merayakan penahbisan Uskup Larantuka yang baru, Mgr. Hironimus Pakaenoni.

Namun, di tengah upacara sakral ini, muncul suara lantang yang menusuk. Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, menyampaikan pesan yang tegas. Pesan itu tidak hanya berputar pada hal-hal teologis. Ia justru menyoroti isu-isu sosial yang sangat membumi. Ia bicara soal perut, soal kesulitan hidup, dan soal jerat utang.

Health
Gambar dari Pixabay

Momentum Penahbisan dan Suara Kritis Gereja

Penahbisan Uskup baru selalu menjadi peristiwa besar. Ini adalah tanda estafet kepemimpinan rohani. Namun, Uskup Sensi mengingatkan bahwa gereja punya tanggung jawab lebih luas. Gereja tidak boleh hanya fokus pada urusan sakramen. Ia harus juga menyentuh penderitaan riil umatnya.

Inilah inti dari apa yang disampaikan. Uskup Agung Ende menggunakan mimbar suci itu sebagai panggung gugatan. Gugatan atas ketidakadilan dan kesulitan ekonomi. Ia menuntut gereja harus berani bersuara.

Gema Peringatan Soal Kemiskinan Struktural

Kemiskinan di Nusa Tenggara Timur adalah luka lama. Uskup Sensi menyebutnya secara lugas. Kemiskinan ini bukan hanya masalah kurangnya uang. Ini adalah masalah struktural yang mengakar. Kondisi ini membuat banyak orang hidup dalam keputusasaan.

Ia mengingatkan para pelayan gereja. Pastor, biarawan, dan biarawati harus keluar dari zona nyaman. Mereka harus lebih dekat dengan realitas umat. Tugas mereka adalah menemani yang lemah dan tak berdaya. Gereja harus menjadi benteng harapan bagi kaum miskin.

Ancaman Baru: Pinjaman Online (Pinjol)

Jika kemiskinan adalah luka lama, Pinjaman Online adalah penyakit baru. Pinjol ini tumbuh subur di tengah kesulitan ekonomi. Orang-orang terdesak mencari jalan keluar instan. Mereka lalu jatuh dalam jebakan utang digital.

Uskup Sensi menyoroti bahaya Pinjol ilegal. Ia menyebut Pinjol sebagai predator modern. Predator yang memangsa harapan dan masa depan rakyat. Bunga tinggi dan penagihan kejam menjadi hantu baru. Hantu yang meneror keluarga-keluarga di Flores.

Tantangan Pastoral bagi Uskup Baru Larantuka

Pesan Uskup Agung Ende ini adalah warisan sekaligus tantangan. Tantangan besar bagi Uskup Larantuka yang baru ditahbiskan. Mgr. Hironimus Pakaenoni kini mengemban tugas berat. Ia tidak hanya mengurus iman, tetapi juga martabat umat.

Gereja dituntut adaptif dan solutif. Tidak cukup hanya berkhotbah. Gereja harus menawarkan solusi nyata. Solusi untuk mengatasi jerat Pinjol dan kemiskinan. Mungkin melalui koperasi atau program ekonomi kerakyatan.

Pemerintah daerah pun seolah mendapat teguran. Teguran yang disampaikan melalui mimbar gereja. Semua pihak harus bergerak bersama. Mengatasi masalah ini butuh sinergi yang kuat. Umat tidak bisa dibiarkan berjuang sendirian.

Uskup Sensi menekankan bahwa iman dan sosial tidak bisa dipisahkan. Panggilan untuk melayani Tuhan adalah juga panggilan untuk melayani sesama. Terutama mereka yang paling menderita. Inilah fokus pelayanan yang harus diutamakan.

Pesan ini sangat penting bagi Flores. Wilayah ini kaya potensi, namun miskin dalam kesejahteraan. Butuh pemimpin agama yang berani bersuara kritis. Butuh pemimpin yang berpihak pada kebenaran dan keadilan sosial.

Penahbisan usai. Uskup baru telah ditetapkan. Namun, pesan keras itu terus menggema. Pesan yang mengingatkan kita semua. Bahwa tugas kemanusiaan belum selesai. Kemiskinan dan jerat utang harus dienyahkan dari tanah Flores. Ini adalah pertarungan moral yang harus dimenangkan. Gereja kini berada di garis depan perjuangan itu.

Source: AsatuNews.​co.​id



#UskupAgungEnde #KemiskinanFlores #PinjamanOnline

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama