BUGALIMA - Hujan selalu punya cerita. Di Flores Timur, hujan membawa pesan lain. Bukan sekadar air jatuh dari langit. Ia menjadi saksi bisu kehangatan dan solidaritas wartawan.
Hujan Saksi Bisu Solidaritas
| Gambar dari Pixabay |
Hari Pers Nasional (HPN) harusnya pesta. Tapi di sana, perayaan diubah jadi aksi nyata. Wartawan di Flotim berkumpul. Mereka bukan merayakan dengan hura-hura.
Ini adalah momen kebersamaan sejati. Mereka patungan. Tujuannya satu: membantu rekan seprofesi. Rekan yang sedang sakit dan membutuhkan uluran tangan.
Pewarta Flotim Bergerak Cepat
Pewarta Flotim menunjukkan kelasnya. Mereka tak hanya jago menulis berita. Jiwa korsa mereka sangat tinggi. Ini cerminan etika pers yang sebenarnya.
Mereka mendatangi rumah rekan mereka. Bantuan diserahkan langsung. Paket sembako, uang tunai, semua terkumpul. Ini bukti bahwa persaudaraan jauh lebih penting dari persaingan berita.
Kegiatan ini dikoordinir secara spontan. Inisiatif datang dari hati. Ini menegaskan bahwa organisasi pers bukan hanya wadah profesionalisme. Organisasi pers juga adalah keluarga besar.
Ketua atau perwakilan organisasi hadir. Mereka memberi semangat. Kehadiran mereka memberi bobot moral. Ini menegaskan komitmen kolektif para jurnalis.
Perjalanan itu tidak mudah. Langit sedang muram. Hujan turun menderas. Pakaian basah kuyup tidak jadi halangan sedikit pun.
Motor dan mobil harus menerobos genangan air. Ini tantangan fisik yang kecil. Tapi semangat membantu jauh lebih besar dari air hujan.
Hujan itu bukan penghalang. Justru ia menjadi penanda. Penanda bahwa kebersamaan mereka kuat. Ia membaptis solidaritas mereka dengan air kesucian.
Rekan yang dibantu terlihat terharu. Ia tidak menyangka. Di tengah keterbatasannya, teman-temannya datang. Bantuan itu sangat berarti bagi kehidupannya.
Ini bukan sekadar bantuan materi. Ini adalah dukungan moral yang tak ternilai harganya. Ini menunjukkan ia tidak sendiri. Solidaritas adalah obat terbaik untuk kesepian.
Hari Pers Nasional tahun ini terasa berbeda di Flotim. Bukan seremoni di gedung mewah. Tapi kesederhanaan di bawah rintik hujan.
Ini adalah definisi HPN yang otentik. Merayakan pers dengan aksi nyata. Bukan sekadar pidato formal di mimbar. Tapi kepedulian tulus dan mendalam.
Tradisi dan Masa Depan Jurnalisme
Jurnalisme adalah profesi berat. Jam kerja tak kenal waktu. Tekanan mental dan fisik selalu ada. Ini bukan pekerjaan ringan bagi siapapun yang melakoninya.
Maka, momen solidaritas seperti ini penting. Ia menjaga kewarasan kolektif para pewarta. Ia memastikan tidak ada yang tertinggal dalam perjuangan hidup. Ini fondasi etos kerja yang sehat dan bermartabat.
Pesan untuk Pewarta Lain
Apa yang dilakukan pewarta Flotim patut dicontoh. Mereka memberi pelajaran berharga. Bahwa di balik persaingan mencari berita, ada persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.
Mereka menunjukkan praktik keahlian. Keahlian yang seimbang. Yaitu keahlian menulis berita dan keahlian berempati. Empati adalah mata uang jurnalis yang sesungguhnya.
Pengalaman ini akan jadi cerita abadi. Cerita yang akan dikenang. Bahwa di bawah langit Flores Timur yang basah, persatuan itu nyata adanya.
Ini adalah otoritasi moral yang tinggi. Otoritas yang diperoleh dari perbuatan baik tulus. Kredibilitas mereka naik di mata publik. Bukan hanya karena berita, tapi karena hati nurani.
Satu langkah kecil ini adalah loncatan besar. Ia mendefinisikan ulang makna Hari Pers. Bukan hanya tentang media massa secara umum. Tapi tentang manusia di dalamnya yang saling peduli.
Mereka pulang dengan perasaan lega. Hujan telah reda. Tapi kehangatan itu menetap. Solidaritas adalah berita utama hari ini yang paling penting.
Source: victorynews.id
#SolidaritasPewarta #HPN #FloresTimur